Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Wanti-wanti Karhutla di Tengah El Nino dan Musim Kemarau

Kompas.com, 18 April 2026, 12:30 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewanti-wanti terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring penurunan curah hujan di sejumlah wilayah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa dinamika iklim global saat ini menunjukkan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik, dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia berada pada fase netral. 

BMKG memperkirakan terdapat potensi perkembangan El Nino dalam kategori lemah hingga moderat pada semester kedua 2026.

Baca juga: RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?

Faisal mengingatkan, kendati intensitas El Nino diprediksi tidak sekuat tahun 2015, 2019, dan 2023, dampaknya tetap perlu diwaspadai terutama karena beriringan dengan periode musim kemarau.

“Musim Kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang terpisah. Yang kami khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif," ungkap Faisal dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2025).

"Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini. BMKG akan terus memantau agar prediksi ke depannya lebih akurat,” imbuh dia.

Di sisi lain, Faisal menekankan selama musim kemarau hujan masih dapar terjadi.
Kemarai adalah kondisi ketika curah hujan berada di bawah ambang batas klimatologis.

Khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, BMKG memprakirakan curah hujan mulai turun sejak Mei, terutama di wilayah selatan khatulistiwa yang menandakan datangnya musim kemarau.

Baca juga: BMKG Sebut Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau, Lebih Kering dan Panjang

Penurunan ini diperkirakan berlanjut hingga mencapai puncak musim kemarau pada Agustus hingga September. Lalu akan kembali meningkat pada Oktober mendatang.

Antisipasi Awal 

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta kementerian/lembaga mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kata Faisal, potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Barat masih cukup tinggi sehingga memungkinkan dilakukan penyemaian awan guna meningkatkan curah hujan sekaligus menjaga kelembapan lahan gambut.

“BMKG akan terus memonitor, memprediksi, mendiseminasikan data, dan berkolaborasi dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Saat ini sinergi antarlembaga berjalan sangat baik dalam upaya penanganan karhutla,” beber dia.

Menurutnya, pelaksanaan OMC di beberapa wilayah mampu meningkatkan curah hujan secara signifikan dan area menekan potensi titik panas di daerah rawan.

Faisal turut menyoroti peran unit pelaksana teknis di daerah merupakan garda terdepan dalam mendukung keselamatan masyarakat saat menghadapi potensi cuaca ekstrem, gangguan transportasi udara dan laut, himgga ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago mengungkapkan pemerintah kini berfokus pada upaya pencegahan karhutla. Ia meminta seluruh pihak tidak lengah dan terus memperkuat kesiapsiagaan.

Baca juga: Dampak El Nino Godzilla, dari Produksi Pangan di Lampung Terancam hingga Karhutla

“Seluruh komponen bangsa harus meningkatkan mitigasi dan kerja sama agar Karhutla dapat ditekan hingga seminimal mungkin, bahkan menuju zero Karhutla,” ucap Djamari.

Ia menginstruksikan pemerintah daerah, TNI, dan Polri memastikan kesiapan personel, peralatan, logistik, serta sistem komando lapangan.

Pemerintah berkomitmen untuk mengedepankan langkah pencegahan, deteksi dini, serta respons cepat guna mengantisipasi potensi karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan Barat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau