KOMPAS.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa suara bising yang berasal dari aktivitas manusia di laut seperti survei untuk mencari minyak dan gas, mengganggu cara berkomunikasi paus.
Melansir Earth, Rabu (15/4/2026) meneliti perairan di barat laut Spanyol, para peneliti dari University of Southampton mempelajari apa yang terjadi ketika sebuah survei seismik pada tahun 2013 melewati rute yang biasa dilalui paus sirip.
Mereka menemukan bahwa jumlah suara panggilan paus menurun drastis saat alat survei ditembakkan.
Survei seismik adalah metode standar dalam pencarian minyak dan gas bumi. Kapal menarik peralatan yang menembakkan semburan udara bertekanan secara berulang-ulang ke dalam laut.
Gelombang suara tersebut merambat ke bawah, menghantam dasar laut, dan memantul kembali untuk membantu peneliti memetakan lapisan batuan yang tersembunyi di bawahnya. Teknik ini memang sangat berguna, namun suaranya luar biasa bising.
Baca juga: Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu
Dentuman dari senjata udara tersebut bisa muncul setiap 10 hingga 20 detik, dan pengukuran sebelumnya menunjukkan bahwa suaranya masih bisa terdengar hingga jarak lebih dari 3.000 kilometer.
Hal tersebut menjadikannya salah satu suara paling bising buatan manusia di dalam laut. Bagi paus, ini bukan sekadar gangguan kecil.
Paus bergantung pada suara untuk hampir semua hal penting di bawah air. Mereka menggunakannya untuk saling berkomunikasi, menentukan arah saat bergerak, dan mencari makanan.
Ketika suasana bawah laut dipenuhi oleh kebisingan industri, laut tidak hanya menjadi lebih berisik. Hal itu juga membuat laut menjadi tempat yang lebih sulit untuk ditinggali bagi para paus.
Untuk melihat respons paus, para peneliti memeriksa rekaman tanpa henti selama 63 hari dari tiga alat yang diletakkan di dasar laut.
Mereka membandingkan empat waktu yang berbeda: dua saat survei seismik berlangsung, dan dua saat suasana lebih tenang, termasuk saat kapal survei berhenti bekerja dan pergi untuk perbaikan.
Perbandingan tersebut menunjukkan hasil yang mengejutkan. Saat suara tembakan udara berlangsung, suara panggilan paus sirip menurun drastis di ketiga titik rekaman. Rata-rata, suara yang tertangkap berkurang sekitar 70 persen.
Para peneliti juga memeriksa apakah suara paus tersebut hilang hanya karena tertutup oleh kebisingan senjata udara. Ternyata, meskipun sudah diperhitungkan, jumlah suara yang hilang tetap besar, yakni berkurang antara 45 hingga 70 persen.
Suara paus menurun hanya dalam satu hingga dua hari setelah survei dimulai. Begitu suasana kembali tenang, jumlah panggilan paus kembali meningkat.
"Paus sirip mengeluarkan berbagai suara panggilan yang kami yakini berkaitan dengan perilaku penting dalam mencari pasangan dan interaksi sosial," kata Amy Feakes, peneliti dari University of Southampton yang memimpin penelitian ini.
Baca juga: Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya