Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suara Bising dari Aktivitas Laut Kacaukan Paus Berkomunikasi

Kompas.com, 20 April 2026, 10:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa suara bising yang berasal dari aktivitas manusia di laut seperti survei untuk mencari minyak dan gas, mengganggu cara berkomunikasi paus.

Melansir Earth, Rabu (15/4/2026) meneliti perairan di barat laut Spanyol, para peneliti dari University of Southampton mempelajari apa yang terjadi ketika sebuah survei seismik pada tahun 2013 melewati rute yang biasa dilalui paus sirip.

Mereka menemukan bahwa jumlah suara panggilan paus menurun drastis saat alat survei ditembakkan.

Survei seismik adalah metode standar dalam pencarian minyak dan gas bumi. Kapal menarik peralatan yang menembakkan semburan udara bertekanan secara berulang-ulang ke dalam laut.

Gelombang suara tersebut merambat ke bawah, menghantam dasar laut, dan memantul kembali untuk membantu peneliti memetakan lapisan batuan yang tersembunyi di bawahnya. Teknik ini memang sangat berguna, namun suaranya luar biasa bising.

Baca juga: Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu

Dentuman dari senjata udara tersebut bisa muncul setiap 10 hingga 20 detik, dan pengukuran sebelumnya menunjukkan bahwa suaranya masih bisa terdengar hingga jarak lebih dari 3.000 kilometer.

Hal tersebut menjadikannya salah satu suara paling bising buatan manusia di dalam laut. Bagi paus, ini bukan sekadar gangguan kecil.

Suara Panggilan Paus Turun Drastis

Paus bergantung pada suara untuk hampir semua hal penting di bawah air. Mereka menggunakannya untuk saling berkomunikasi, menentukan arah saat bergerak, dan mencari makanan.

Ketika suasana bawah laut dipenuhi oleh kebisingan industri, laut tidak hanya menjadi lebih berisik. Hal itu juga membuat laut menjadi tempat yang lebih sulit untuk ditinggali bagi para paus.

Untuk melihat respons paus, para peneliti memeriksa rekaman tanpa henti selama 63 hari dari tiga alat yang diletakkan di dasar laut.

Mereka membandingkan empat waktu yang berbeda: dua saat survei seismik berlangsung, dan dua saat suasana lebih tenang, termasuk saat kapal survei berhenti bekerja dan pergi untuk perbaikan.

Perbandingan tersebut menunjukkan hasil yang mengejutkan. Saat suara tembakan udara berlangsung, suara panggilan paus sirip menurun drastis di ketiga titik rekaman. Rata-rata, suara yang tertangkap berkurang sekitar 70 persen.

Para peneliti juga memeriksa apakah suara paus tersebut hilang hanya karena tertutup oleh kebisingan senjata udara. Ternyata, meskipun sudah diperhitungkan, jumlah suara yang hilang tetap besar, yakni berkurang antara 45 hingga 70 persen.

Suara paus menurun hanya dalam satu hingga dua hari setelah survei dimulai. Begitu suasana kembali tenang, jumlah panggilan paus kembali meningkat.

"Paus sirip mengeluarkan berbagai suara panggilan yang kami yakini berkaitan dengan perilaku penting dalam mencari pasangan dan interaksi sosial," kata Amy Feakes, peneliti dari University of Southampton yang memimpin penelitian ini.

Baca juga: Laut Makin Panas, Paus di Atlantik Utara Terpaksa Ubah Pola Makan

"Meski ada kekhawatiran besar bahwa survei-survei ini dapat mengganggu komunikasi mereka, hingga saat ini masih sangat sedikit studi dan bukti kuat yang tersedia," terangnya lagi.

Ke Mana Paus saat Laut Bising?

Penelitian ini tidak bisa memastikan apa yang dilakukan para paus saat kebisingan berada di puncaknya. Mereka mungkin lebih jarang bersuara, pergi menjauh dari area tersebut, atau melakukan keduanya.

Namun, semua kemungkinan itu tetap mengkhawatirkan. Jika paus tetap berada di sana tetapi memilih diam, maka komunikasi penting mereka bisa terputus, yang berdampak pada interaksi sosial, kerja sama antar paus, hingga proses mencari pasangan.

Jika mereka pergi menjauh, masalahnya berbeda namun tetap serius. Kebisingan mungkin telah mengusir paus dari jalur migrasi mereka, sehingga memaksa mereka mengubah arah atau menghabiskan energi ekstra untuk menghindari gangguan tersebut.

"Kami tidak tahu apakah paus-paus itu mengurangi suara mereka, pindah dari area survei, atau melakukan keduanya," kata Tim Minshull dari University of Southampton.

"Mengingat survei seismik sangat sering digunakan dan suaranya bisa merambat sangat jauh, temuan ini mulai menunjukkan dampak buruknya terhadap komunikasi paus sirip, penggunaan energi, serta tempat tinggal mereka," terangnya.

Jenis paus ini sendiri menjadi perhatian khusus karena paus sirip masuk dalam kategori spesies yang rentan punah. Suara panggilan yang diteliti dalam studi ini memiliki frekuensi rendah, sama dengan jenis frekuensi suara bising yang dihasilkan oleh senjata udara dalam survei tersebut.

Kebisingan di Samudra Global Meningkat

Survei seismik digunakan di banyak tempat di dunia, dan kebisingan laut telah terus meningkat selama puluhan tahun seiring dengan meluasnya aktivitas di lepas pantai.

Aktivitas kapal, konstruksi, kegiatan militer, dan pencarian sumber energi telah membuat dunia bawah laut menjadi lebih bising.

Baca juga: Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak

Apa yang diukur oleh para ahli ini adalah respons jangka pendek, namun pertanyaan besarnya adalah apa dampak dari gangguan yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.

Jika komunikasi, pergerakan, dan cara mencari makan terganggu berulang kali, efeknya bisa menumpuk dan menimbulkan masalah yang awalnya sulit terlihat. Itulah sebabnya para peneliti mengatakan bahwa waktu, kekuatan, dan penyebaran survei seismik di area paus perlu dipertimbangkan dengan lebih matang.

Sebenarnya sudah ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. "Zona larangan" bisa dibuat untuk menjauhkan aktivitas paling bising dari habitat yang sensitif. Pembatasan musiman juga bisa membantu melindungi paus selama masa migrasi atau musim kawin. Selain itu, teknologi pencarian energi yang lebih senyap bisa mengurangi dampak kerusakan tersebut.

Hal ini sangat penting karena paus hidup di dunia yang dipandu oleh suara. Kebisingan dari survei seismik bukanlah suara latar yang tidak berbahaya. Bagi paus sirip yang sudah menghadapi tantangan berat di samudra, kebisingan ini bisa jadi menyingkirkan bagian mendasar dari hidup mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau