Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suara Bising dari Aktivitas Laut Kacaukan Paus Berkomunikasi

Kompas.com, 20 April 2026, 10:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

"Meski ada kekhawatiran besar bahwa survei-survei ini dapat mengganggu komunikasi mereka, hingga saat ini masih sangat sedikit studi dan bukti kuat yang tersedia," terangnya lagi.

Ke Mana Paus saat Laut Bising?

Penelitian ini tidak bisa memastikan apa yang dilakukan para paus saat kebisingan berada di puncaknya. Mereka mungkin lebih jarang bersuara, pergi menjauh dari area tersebut, atau melakukan keduanya.

Namun, semua kemungkinan itu tetap mengkhawatirkan. Jika paus tetap berada di sana tetapi memilih diam, maka komunikasi penting mereka bisa terputus, yang berdampak pada interaksi sosial, kerja sama antar paus, hingga proses mencari pasangan.

Jika mereka pergi menjauh, masalahnya berbeda namun tetap serius. Kebisingan mungkin telah mengusir paus dari jalur migrasi mereka, sehingga memaksa mereka mengubah arah atau menghabiskan energi ekstra untuk menghindari gangguan tersebut.

"Kami tidak tahu apakah paus-paus itu mengurangi suara mereka, pindah dari area survei, atau melakukan keduanya," kata Tim Minshull dari University of Southampton.

"Mengingat survei seismik sangat sering digunakan dan suaranya bisa merambat sangat jauh, temuan ini mulai menunjukkan dampak buruknya terhadap komunikasi paus sirip, penggunaan energi, serta tempat tinggal mereka," terangnya.

Jenis paus ini sendiri menjadi perhatian khusus karena paus sirip masuk dalam kategori spesies yang rentan punah. Suara panggilan yang diteliti dalam studi ini memiliki frekuensi rendah, sama dengan jenis frekuensi suara bising yang dihasilkan oleh senjata udara dalam survei tersebut.

Kebisingan di Samudra Global Meningkat

Survei seismik digunakan di banyak tempat di dunia, dan kebisingan laut telah terus meningkat selama puluhan tahun seiring dengan meluasnya aktivitas di lepas pantai.

Aktivitas kapal, konstruksi, kegiatan militer, dan pencarian sumber energi telah membuat dunia bawah laut menjadi lebih bising.

Baca juga: Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak

Apa yang diukur oleh para ahli ini adalah respons jangka pendek, namun pertanyaan besarnya adalah apa dampak dari gangguan yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.

Jika komunikasi, pergerakan, dan cara mencari makan terganggu berulang kali, efeknya bisa menumpuk dan menimbulkan masalah yang awalnya sulit terlihat. Itulah sebabnya para peneliti mengatakan bahwa waktu, kekuatan, dan penyebaran survei seismik di area paus perlu dipertimbangkan dengan lebih matang.

Sebenarnya sudah ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. "Zona larangan" bisa dibuat untuk menjauhkan aktivitas paling bising dari habitat yang sensitif. Pembatasan musiman juga bisa membantu melindungi paus selama masa migrasi atau musim kawin. Selain itu, teknologi pencarian energi yang lebih senyap bisa mengurangi dampak kerusakan tersebut.

Hal ini sangat penting karena paus hidup di dunia yang dipandu oleh suara. Kebisingan dari survei seismik bukanlah suara latar yang tidak berbahaya. Bagi paus sirip yang sudah menghadapi tantangan berat di samudra, kebisingan ini bisa jadi menyingkirkan bagian mendasar dari hidup mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau