"Meski ada kekhawatiran besar bahwa survei-survei ini dapat mengganggu komunikasi mereka, hingga saat ini masih sangat sedikit studi dan bukti kuat yang tersedia," terangnya lagi.
Penelitian ini tidak bisa memastikan apa yang dilakukan para paus saat kebisingan berada di puncaknya. Mereka mungkin lebih jarang bersuara, pergi menjauh dari area tersebut, atau melakukan keduanya.
Namun, semua kemungkinan itu tetap mengkhawatirkan. Jika paus tetap berada di sana tetapi memilih diam, maka komunikasi penting mereka bisa terputus, yang berdampak pada interaksi sosial, kerja sama antar paus, hingga proses mencari pasangan.
Jika mereka pergi menjauh, masalahnya berbeda namun tetap serius. Kebisingan mungkin telah mengusir paus dari jalur migrasi mereka, sehingga memaksa mereka mengubah arah atau menghabiskan energi ekstra untuk menghindari gangguan tersebut.
"Kami tidak tahu apakah paus-paus itu mengurangi suara mereka, pindah dari area survei, atau melakukan keduanya," kata Tim Minshull dari University of Southampton.
"Mengingat survei seismik sangat sering digunakan dan suaranya bisa merambat sangat jauh, temuan ini mulai menunjukkan dampak buruknya terhadap komunikasi paus sirip, penggunaan energi, serta tempat tinggal mereka," terangnya.
Jenis paus ini sendiri menjadi perhatian khusus karena paus sirip masuk dalam kategori spesies yang rentan punah. Suara panggilan yang diteliti dalam studi ini memiliki frekuensi rendah, sama dengan jenis frekuensi suara bising yang dihasilkan oleh senjata udara dalam survei tersebut.
Survei seismik digunakan di banyak tempat di dunia, dan kebisingan laut telah terus meningkat selama puluhan tahun seiring dengan meluasnya aktivitas di lepas pantai.
Aktivitas kapal, konstruksi, kegiatan militer, dan pencarian sumber energi telah membuat dunia bawah laut menjadi lebih bising.
Baca juga: Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak
Apa yang diukur oleh para ahli ini adalah respons jangka pendek, namun pertanyaan besarnya adalah apa dampak dari gangguan yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.
Jika komunikasi, pergerakan, dan cara mencari makan terganggu berulang kali, efeknya bisa menumpuk dan menimbulkan masalah yang awalnya sulit terlihat. Itulah sebabnya para peneliti mengatakan bahwa waktu, kekuatan, dan penyebaran survei seismik di area paus perlu dipertimbangkan dengan lebih matang.
Sebenarnya sudah ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. "Zona larangan" bisa dibuat untuk menjauhkan aktivitas paling bising dari habitat yang sensitif. Pembatasan musiman juga bisa membantu melindungi paus selama masa migrasi atau musim kawin. Selain itu, teknologi pencarian energi yang lebih senyap bisa mengurangi dampak kerusakan tersebut.
Hal ini sangat penting karena paus hidup di dunia yang dipandu oleh suara. Kebisingan dari survei seismik bukanlah suara latar yang tidak berbahaya. Bagi paus sirip yang sudah menghadapi tantangan berat di samudra, kebisingan ini bisa jadi menyingkirkan bagian mendasar dari hidup mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya