Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

Kompas.com, 22 April 2026, 15:31 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com-Para pemimpin perusahaan merasa tertekan untuk membimbing tim mereka melewati masa transisi kecerdasan buatan (AI), apalagi teknologi tersebut juga mengubah tanggung jawab pekerjaan mereka sendiri.

Menurut survei dari platform AI bernama Writer terhadap 2.400 pekerja dan eksekutif, sebanyak 61 persen pemimpin teknologi mengaku takut kehilangan pekerjaan jika mereka gagal memimpin organisasi dalam transisi AI ini.

Melansir ESG Dive, Selasa (21/4/2026) tiga perempat eksekutif memperkirakan penggunaan AI di organisasi mereka akan meluas dalam lima tahun ke depan. Namun, peningkatan ini membawa rasa tidak aman. Setengah dari eksekutif merasa keterampilan mereka mulai ketinggalan zaman di era AI.

Mina Alaghband dari platform Writer menyatakan bahwa pemimpin teknologi yang sukses adalah mereka yang berani mengambil kendali.

Menurutnya, pemimpin yang berpengaruh tidak lagi bertanya "Apa strategi AI kita?", melainkan bertanya "Bagaimana saya bisa mendapatkan alat dan infrastruktur untuk membangun tenaga kerja berbasis AI sendiri, dan bagaimana kita mengaturnya secara besar-besaran?"

Baca juga: AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan

Adopsi AI dan Ancaman bagi Pekerja

Adopsi AI menciptakan rasa tidak aman akan pekerjaan di berbagai tingkatan perusahaan, karena para eksekutif teknologi maupun pekerja muda sama-sama takut teknologi ini akan menggantikan posisi mereka.

Menurut Deloitte, pengeluaran dan penggunaan AI diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat dalam dua tahun ke depan. Lonjakan biaya ini menunjukkan bahwa perusahaan akan semakin banyak menggunakan AI sambil terus menangani dampak yang muncul.

Sementara itu, 75 persen eksekutif memperkirakan bahwa agen AI akan menjadi bagian dari jajaran pimpinan tinggi perusahaan mereka dalam lima tahun ke depan. Namun, para eksekutif melaporkan adanya kekurangan keahlian AI, sebanyak 58 persen merasa rekan sesama pemimpin mereka tidak memiliki pengetahuan dasar untuk mengambil keputusan strategi AI.

Laporan tersebut menemukan bahwa ketimpangan ini memicu stres bagi para petinggi teknologi. Lebih dari separuh menyatakan bahwa adopsi AI telah menyebabkan "perebutan kekuasaan dan gangguan" di organisasi mereka, dan 69 persen melaporkan bahwa mereka sedang melakukan PHK karena faktor AI.

Hampir setengah dari eksekutif mengatakan bahwa masalah adopsi ini bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan dalam setahun ke depan.

Namun, Alaghband menyatakan bahwa keterampilan manusia seperti penilaian, keahlian bidang tertentu, dan pengetahuan tentang perusahaan tidak akan tergantikan.

Ia menambahkan bahwa pemimpin teknologi harus melihat strategi AI sebagai keputusan tentang bakat. Mereka perlu mempertimbangkan keahlian apa yang ingin diubah menjadi sistem, atau kerangka penilaian apa yang ingin dimasukkan ke dalam alur kerja AI.

Baca juga: Bullying lewat AI Kian Marak Terjadi, Anak-Anak Jadi Korbannya

Kesenjangan Penggunaan AI

Laporan tersebut menemukan adanya kesenjangan keahlian karyawan di banyak organisasi. Di satu sisi, ada "pengguna super" yang sangat produktif menggunakan AI. Di sisi lain, ada mereka yang jarang menggunakan atau bahkan menolak AI. Kesenjangan ini terjadi baik di tingkat staf maupun pimpinan.

Alaghband mengatakan bahwa AI secara mendasar mengubah definisi pekerjaan. Nilai utama seorang pekerja kini bergeser: bukan lagi sekadar mengerjakan tugas teknis, melainkan menjadi pengatur atau dirigen bagi sistem cerdas tersebut.

“Tanggung jawab ada pada para pemimpin untuk meningkatkan ambisi manusia,” kata Alaghband.

"Para eksekutif harus membantu orang-orang membayangkan peran pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini, mendukung kerja sama antar tim daripada hanya fokus pada satu keahlian sempit, dan menyadari bahwa pengaruh seseorang kini ditentukan oleh hasil kerja dan kemampuan menggunakan AI, bukan lagi dari seberapa sibuk mereka atau seberapa lama mereka sudah bekerja,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau