Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Radiasi Radioaktif di Perbatasan Ukraina-Rusia Lampaui Zona Perang

Kompas.com, 24 April 2026, 11:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Eropa Timur menimbulkan dampak radioaktif dan gangguan iklim secara global yang tidak berlangsung singkat, dengan sedikitnya selama kurang lebih enam tahun.

Jelaga yang dipancarkan usai ledakan nuklir akan memanaskan stratosfer, serta mengubah pola sirkulasi utama atmosfer, yang di antaranya arus jet dan zona konvergensi intertropis.

Perang di perbatasan Ukraina-Rusia juga memungkinkan material radioaktif yang melekat pada partikel karbon hitam juga menyebar secara luas dalam jangka panjang.

Baca juga: Kisah Tragis Bocah 10 Tahun Temukan Kapsul Radioaktif, Satu Keluarga Tewas Perlahan

Studi terbaru yang diterbitkan di npj Clean Air mengungkapkan bahwa radionuklida berumur panjang dapat diangkut secara global, dengan sekitar 40 persen akhirnya mengendap di Belahan Bumi Selatan.

"Bahkan konflik nuklir regional berskala kecil pun tidak akan lama menjadi bencana regional. Simulasi kami menunjukkan bahwa dampaknya dapat bergema di seluruh planet selama bertahun-tahun, mengganggu sistem iklim dan menyebarkan dampak radioaktif jauh melampaui zona ledakan, mengubah perang regional menjadi krisis global," ujar penulis utama studi sekaligus peneliti pascadoktoral di Universitas Exeter, Ananth Ranjithkumar, dilansir dari Phys, Jumat (24/4/2026).

Konsekuensi dari konflik berskala regional dapat melampaui batas-batas dalam zona perang. Ini berarti perang di perbatasan Ukraina-Rusia menjadi masalah kemanusiaan dan lingkungan di tingkat global.

Berdasarkan hasil simulasi konflik nuklir regional hipotetis di perbatasan Ukraina-Rusia, dengan memakai 'Model Sistem Bumi Inggris', terungkap bahwa jelaga dari ledakan nuklir akan menyebar secara cepat melalui atmosfer, menghalangi sinar matahari, serta mengganggu iklim di seluruh Belahan Bumi Utara.

Pada tahun pertama setelah konflik, Belahan Bumi Utara mendingin sekitar 1 derajat Celcius secara rata-rata, dengan penurunan regional yang jauh lebih besar sekitar 5 derajat Celcius di Rusia dan 4 derajat Celcius di Amerika Serikat (AS). Sinar matahari permukaan menurun tajam, dan curah hujan turun secara substansial di wilayah pertanian utama di lintang tengah.

Merujuk pada temuan dampak global konflik nuklir berskala regional dalam studi tersebut, penulis bersama dari Universitas Exeter, Jim Haywood menggarisbawahi pentingnya untuk segera memperpanjang Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru yang berakhir pada 5 Februari 2026.

Baca juga: Kapasitas Nuklir Dunia Diprediksi Bertumbuh pada 2050

Analisis dampak iklim perang di perbatasan Ukraina-Rusia dalam studi tersebut berkaca dari referensi situasi di planet lain. Penulis bersama lainnya dari Universitas Exeter, Nathan Mayne mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa studi terhadap planet Mars dapat berkontribusi pada pemahaman iklim Bumi.

"Mulai dari badai debu di seluruh planet hingga angin berkecepatan kilometer per detik di atmosfer planet raksasa gas yang sangat panas, adaptasi kita menghasilkan peningkatan dalam cara kita menangkap fenomena iklim dan cuaca untuk Bumi itu sendiri, baik dalam situasi 'normal' maupun, dalam kasus ini, situasi ekstrem."

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau