Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Waste Station" bakal Lengkapi Sistem Pengelolaan Sampah WtE

Kompas.com, 24 April 2026, 20:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Volume sampah yang masuk ke fasilitas Waste Station milik perusahaan pengelola sampah Rekosistem meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan itu dinilai mencerminkan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dan mempermudah proses daur ulang.

Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder Rekosistem Joshua Valentino mengatakan, saat awal beroperasi satu fasilitas Waste Station hanya menerima sekitar 1-2 ton sampah per bulan.

Baca juga: Jatim Percepat Pembangunan Waste to Energy, Kelola 2.000 Ton Sampah per Hari

Kini jumlahnya meningkat menjadi rata-rata 3 ton, bahkan bisa mencapai 5 ton pada periode tertentu seperti setelah libur panjang.

“Kalau dulu satu Waste Station itu 1-2 ton per bulan. Sekarang bisa tiga ton, kadang setelah liburan bisa sampai lima ton. Jadi peningkatan itu terjadi,” ujar Joshua usai Media Briefing dan Peluncuran Waste Station, Jumat (24/4/2026).

Menurut dia, tren tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dengan menyetorkan sampah terpilah ke fasilitas daur ulang.

Pemilahan Sampah Masih Jadi Tantangan

Meski demikian, Joshua menilai masih banyak pekerjaan rumah dalam meningkatkan kualitas pemilahan sampah dari sumber.

Ia mencontohkan, masih ditemukan sampah plastik yang tercampur dengan tisu atau residu lain saat disetorkan ke Waste Station. Kondisi itu menyulitkan proses daur ulang karena material yang seharusnya bernilai menjadi tercemar dan berubah menjadi residu.

“Harusnya botol plastik itu hanya botol plastik, tapi diisi tisu. Itu sudah susah dikeluarkan dan akhirnya jadi residu,” tuturnya.

Joshua menegaskan, pemilahan sampah sejak dari rumah tangga penting dilakukan agar beban pengelolaan di hilir, termasuk di tempat pemrosesan akhir (TPA), dapat berkurang.

Menurut dia, konsep Waste Station memang dirancang agar masyarakat menyetor sampah yang sudah dipisahkan sejak awal sehingga material yang masih memiliki nilai ekonomi bisa langsung masuk rantai daur ulang.

Lengkapi Sistem Waste to Energy

Joshua juga menilai kehadiran Waste Station dapat melengkapi rencana pemerintah yang tengah mendorong proyek Waste to Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi.

Dalam skema tersebut, Waste Station berfungsi menyaring sampah yang masih bisa didaur ulang, sedangkan fasilitas WtE mengolah sampah residu bernilai rendah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Menurut dia, kedua sistem seharusnya tidak dipertentangkan karena memiliki fungsi berbeda dalam rantai pengelolaan sampah nasional.

Baca juga: Zulhas Sebut Fasilitas Waste to Energy Bakal Beroperasi 2027 di 4 Kota

“Kalau Waste Station dan WtE berjalan bersama, sampah yang masuk ke WtE adalah sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang. Jadi justru saling melengkapi,” kata Joshua.

Ia menambahkan, Rekosistem berencana terus menambah jumlah fasilitas Waste Station secara bertahap guna memperluas akses masyarakat terhadap layanan pemilahan dan daur ulang sampah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau