Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata

Kompas.com, 26 April 2026, 10:42 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com – Sebanyak lebih dari 176.000 mahasiswa dari Sabang sampai Merauke resmi memulai perjalanan mereka dalam ekosistem changemakers nasional melalui Novo Club Batch 4.

Gerakan yang resmi dibuka pada Sabtu (25/4/2026) ini mengusung semangat “Berani Berinovasi, Berdampak Tanpa Batas” sebagai respons terhadap tantangan zaman yang semakin kompleks.

Sejak diinisiasi sejak 2023 telah bertransformasi menjadi ruang kolaboratif bagi generasi muda untuk mengasah kapasitas dan mewujudkan solusi nyata bagi masyarakat.

Pada tahun ini, jumlah partisipan yang mencapai ratusan ribu menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa untuk berkontribusi di luar ruang kelas.

Program yang diinisiasi ParagonCorp selama 1,5 tahun ini bukan sekadar pelatihan kepemimpinan biasa. Peserta terlibat dalam perjalanan pengembangan intensif yang menggabungkan teori dengan praktik lapangan.

Fokus utamanya adalah membekali mahasiswa dengan pola pikir inovatif dan keberanian untuk mengeksekusi gagasan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto dalam sambutan menekankan pentingnya ekosistem seperti ini dalam membentuk masa depan.

“Yang kita siapkan hari ini bagaimana cara berpikirnya, nilai yang dipegang, keberanian yang dimiliki untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian," ujar Prof. Brian.

"Acara hari ini sangat penting karena di sinilah ilmu pengetahuan, kepemimpinan, pengalaman dan keberanian itu bertemu di ruangan ini, di acara Novo Club. Di sinilah gagasan diuji, nilai dibentuk, dan generasi masa depan Indonesia akan menemukan arah perannya,” tambahnya.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak

Keberhasilan gerakan ini terlihat dari rekam jejaknya yang telah menghasilkan lebih dari 260 program dan kegiatan yang diinisiasi langsung oleh mahasiswa di berbagai daerah.

Inisiatif-inisiatif tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan masyarakat, edukasi, hingga lingkungan, yang semuanya bermuara pada penciptaan dampak positif di komunitas lokal.

Peluncuran program Novo Club Batch 4 pada Sabtu (25/4/2026) mengusung semangat Berani Berinovasi, Berdampak Tanpa Batas sebagai respons terhadap tantangan zaman yang semakin kompleks.
DOK. PARAGON CORP Peluncuran program Novo Club Batch 4 pada Sabtu (25/4/2026) mengusung semangat Berani Berinovasi, Berdampak Tanpa Batas sebagai respons terhadap tantangan zaman yang semakin kompleks.

Semangat untuk "mulai melangkah" menjadi pondasi utama Novo Club. CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI), Salman Subakat mengingatkan perubahan besar seringkali dimulai oleh mereka yang berani melangkah meskipun belum merasa sepenuhnya siap.

"Banyak perubahan besar di dunia ini tidak dimulai dari orang yang paling siap, tetapi dari mereka yang cukup berani untuk melangkah. Jangan tunggu sempurna untuk memulai," ujarnya.

"Karena semua orang hebat hari ini pernah berada di titik yang sama: belum siap, tapi tetap melangkah," tutup Salman.

Selain pengembangan proyek, gerakan ini juga memberikan fase alumni empowerment. Melalui fase ini, para lulusan mendapatkan akses ke jejaring profesional dan peluang karier, memastikan bahwa semangat perubahan yang mereka bawa tetap berkelanjutan bahkan setelah masa program berakhir.

Melalui kurikulum pengembangan diri yang komprehensif, program ini menyediakan akses bagi pemuda untuk mendapatkan keterampilan teknis dan soft skills yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan lewat tujuan keempat pembangunan berkelanjutan lewat pendidikan berkualitas.

Baca juga: Rehabilitasi 50 Hektare Mangrove di Banyuwangi, BNI Berikan Dampak Ekonomi ke 5.000 Warga

Melalui Batch 4 ini, diharapkan muncul lebih banyak inovasi lokal yang mampu menjawab tantangan global, membuktikan bahwa keberanian anak muda adalah kunci utama transformasi bangsa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau