KOMPAS.com-Laporan terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyebut lebih dari 840.000 orang meninggal setiap tahun akibat kondisi kesehatan yang berkaitan dengan risiko kerja, seperti jam kerja yang terlalu panjang, ketidakpastian status pekerjaan, serta pelecehan dan perundungan di tempat kerja.
Melansir laman resmi United Nations, Rabu (22/4/2026) cara sebuah pekerjaan dirancang, diatur, dan dikelola memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja.
Masih menurut studi tersebut, lingkungan kerja secara psikososial kini semakin memengaruhi kesehatan, yang terlihat dari meningkatnya angka penyakit jantung serta gangguan mental.
Untuk mengetahui bagaimana hubungan perusahaan memengaruhi kesehatan pekerja, peneliti meninjau tiga bidang pekerjaan yang saling berkaitan yakni sifat pekerjaan termasuk di dalamnya tuntutan, tanggung jawab, dan tugas-tugas yang diberikan.
Baca juga: Atasan Cenderung Bebani Pekerjaan Lebih Banyak ke Pekerja yang Rajin, Mengapa?
Selain itu penulis juga meninjau bagaimana manajemen mengorganisir alur kerja sehari-hari serta kebijakan kantor secara luas, seperti proses penilaian kinerja, pemberian penghargaan serta aturan untuk mencegah kekerasan dan pelecehan.
Mereka pun kemudian memperkirakan angka 84.000 kematian per tahun dengan melihat faktor risiko di tempat kerja secara global, yaitu: beban kerja yang berat, ketidakseimbangan antara usaha dan imbalan, ketidakpastian status pekerjaan, jam kerja yang panjang, serta perundungan dan pelecehan.
Penelitian ilmiah menunjukkan bagaimana risiko-risiko ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi kesehatan yang serius. Tingkat risiko tersebut kemudian dicocokkan dengan data kematian dan kesehatan global terbaru dari WHO dan studi Global Burden of Disease untuk menghasilkan angka tersebut.
Banyak dari risiko ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun ILO khawatir dengan dampak dari perubahan besar yang sedang terjadi di dunia kerja saat ini.
Perubahan tersebut meliputi digitalisasi, AI, kerja jarak jauh, dan sistem kerja model baru yang jika tidak ditangani dengan benar dapat memperparah masalah yang sudah ada atau menciptakan masalah baru.
“Risiko psikososial kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keselamatan dan kesehatan kerja di dunia kerja modern,” ujar Manal Azzi, pimpinan kebijakan di ILO.
Baca juga: Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
“Memperbaiki lingkungan kerja secara psikososial sangat penting, bukan hanya untuk melindungi kesehatan mental dan fisik pekerja, tetapi juga untuk memperkuat produktivitas, kinerja organisasi, serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” paparnya lagi.
Laporan tersebut menekankan bahwa risiko dan kematian yang berlebih ini sebenarnya bisa dihindari jika penyebab utamanya diatasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pengelolaan risiko psikososial ke dalam sistem kesehatan kerja, serta didukung oleh dialog antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja.
Laporan itu menyimpulkan bahwa dengan mengatasi risiko ini secara proaktif, negara dan perusahaan dapat menciptakan tempat kerja yang lebih sehat. Hal ini tidak hanya menguntungkan pekerja dan organisasi, tetapi juga memperkuat produktivitas serta ketahanan ekonomi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya