Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas: Riset Lingkungan Harus Siap Pakai Saat Momentum Kebijakan Datang

Kompas.com, 28 April 2026, 19:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai hasil riset mengenai lingkungan dan krisis iklim perlu disiapkan agar dapat langsung digunakan dalam perencanaan pembangunan ketika momentum politik dan kebijakan muncul.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan (PMK) Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, peluang memasukkan temuan riset ke dalam kebijakan sering datang dalam waktu singkat, sehingga peneliti perlu memiliki kajian yang siap pakai.

“Sering kali momentum politik dan teknokratik terjadi sangat cepat. Jadi, kalau ada suatu permasalahan itu butuh waktunya bukan satu tahun, bukan dua tahun, bahkan satu bulan atau satu minggu. Jadi, researcher memang sudah harus punya satu tabungan yang bisa langsung dipakai sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujar Pungkas dalam "Knowledge and Innovation Exchange – Jakarta Summit Indicative Agenda" di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: RI Butuh Kebijakan Iklim Berbasis Bukti

Menurut dia, dari sudut pandang pemerintah, riset yang dibutuhkan harus berbasis bukti (evidence-based) dan realistis untuk diterapkan di tengah keterbatasan anggaran negara.

Karena itu, pemerintah akan lebih mempertimbangkan hasil riset yang memiliki efektivitas biaya (cost-effective) dan dapat diterapkan dalam skala besar.

“Biasanya riset itu muncul di laboratorium. Ketika ditanya bagaimana implementasinya, berapa cost-nya, seberapa efektif dibanding intervensi lain, itu kadang-kadang belum muncul,” kata Pungkas.

Ia menambahkan, tantangan lain dalam mendorong hasil riset menjadi kebijakan adalah kemampuan mengomunikasikan temuan tersebut kepada para pengambil keputusan.

Menurut Pungkas, tidak semua pejabat pemerintah memiliki latar belakang akademik atau riset, sehingga hasil penelitian perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan menonjolkan manfaat nyata.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak

“Banyak yang basisnya bukan riset. Jadi, perlu ada komunikasi yang baik, meyakinkan bahwa riset itu akan mendatangkan benefit, dikomunikasikan kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat. Kalau ini miss, ya memang dampaknya kurang,” ujarnya.

Ia menilai, kolaborasi antara peneliti dan pemerintah penting agar hasil riset, khususnya terkait lingkungan dan krisis iklim, tidak berhenti di tingkat akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pembangunan yang konkret.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
LSM/Figur
Saat Keberlanjutan Memberi Dampak pada Bisnis...
Saat Keberlanjutan Memberi Dampak pada Bisnis...
Swasta
Perencana Kota Berpeluang Tarik Investas untuk Pendanaan Iklim
Perencana Kota Berpeluang Tarik Investas untuk Pendanaan Iklim
LSM/Figur
Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Pemerintah
Bappenas: Riset Lingkungan Harus Siap Pakai Saat Momentum Kebijakan Datang
Bappenas: Riset Lingkungan Harus Siap Pakai Saat Momentum Kebijakan Datang
Pemerintah
Liverpool  FC Jadi Klub Pertama yang Fokus pada Keberlanjutan Pangan
Liverpool FC Jadi Klub Pertama yang Fokus pada Keberlanjutan Pangan
Pemerintah
Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi
Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi
Pemerintah
RI Butuh Kebijakan Iklim Berbasis Bukti
RI Butuh Kebijakan Iklim Berbasis Bukti
Pemerintah
Belajar Jadi Entrepreneur Sejak SMA, Ini Kisah Juara SCYEP 2026 Bangun “Real Company”
Belajar Jadi Entrepreneur Sejak SMA, Ini Kisah Juara SCYEP 2026 Bangun “Real Company”
Swasta
BRIN Ubah Sampah menjadi Bahan Bakar Alternatif Petasol
BRIN Ubah Sampah menjadi Bahan Bakar Alternatif Petasol
Pemerintah
El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir
El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir
LSM/Figur
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau