Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan

Kompas.com, 27 April 2026, 21:49 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah analisis baru mengungkapkan bahwa pertumbuhan ikan di seluruh dunia terus menurun selama satu abad terakhir.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa penangkapan ikan berlebihan dan perubahan lingkungan sedang merusak fondasi biologis banyak wilayah perikanan.

Helen Yan, yang memimpin studi ini sebagai bagian dari program doktornya di Universitas James Cook, mengatakan bahwa tekanan akibat aktivitas manusia menyebabkan perubahan besar pada ekologi dan sejarah hidup ikan.

"Selama ini kita belum tahu bagaimana kehidupan ikan berubah di seluruh dunia dari waktu ke waktu. Jadi, kami meneliti seberapa cepat ikan tumbuh dan seberapa besar ukuran tubuh mereka selama 113 tahun terakhir," kata Dr. Yan.

Baca juga: Pakar IPB: Kerugian Tahunan Invasi Ikan Sapu-Sapu di RI Capai Rp 2,72 Triliun

Melansir Phys, Sabtu (25/4/2026) para ilmuwan memeriksa lebih dari 7.000 data pertumbuhan dari 1.479 jenis ikan laut antara tahun 1908 hingga 2021.

Mereka menemukan bahwa pertumbuhan ikan terus menurun sejak tahun 1908, dan penurunan paling parah terjadi pada jenis ikan yang paling sering dijual dan dimakan manusia.

"Perikanan yang dikelola manusia mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar 9 persen selama satu abad terakhir. Ini menunjukkan bahwa ikan sekarang tumbuh dengan ukuran yang lebih kecil atau dengan kecepatan yang lebih lambat," ujar Dr. Yan.

Penurunan pertumbuhan ikan terutama ditemukan di wilayah beriklim sedang. Hal ini kemungkinan karena jenis ikan yang paling sering ditangkap secara besar-besaran memang paling banyak berada di wilayah tersebut.

Ini menunjukkan bahwa dampak dari penangkapan ikan secara intensif jauh lebih kuat dalam mengubah pertumbuhan ikan dibandingkan dampak langsung dari pemanasan suhu laut dalam skala global.

"Namun, mungkin saja ada efek kerja sama antara penangkapan ikan berlebihan dan perubahan iklim yang dampaknya bisa jauh lebih besar daripada jika masalah itu terjadi sendirian," kata Dr. Yan.

Baca juga: Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut

Ia menambahkan bahwa temuan ini sangat penting untuk memberikan gambaran jumlah stok ikan, pengelolaan perikanan, dan mengetahui kemampuan ekosistem untuk bertahan.

Pasalnya, ikan yang ukurannya lebih kecil dan pertumbuhannya lebih lambat akan mengganggu rantai makanan, mengurangi hasil tangkapan, dan membuat upaya pemulihan laut menjadi sulit.

"Kita perlu serius mempertimbangkan langkah-langkah seperti pembatasan jumlah tangkapan yang lebih ketat, perlindungan ukuran ikan, perlindungan habitat, serta pemantauan jangka panjang," terang Dr. Yan.

"Jika kita tidak segera melakukannya, dasar biologis dari banyak perikanan akan terus rusak. Hal ini akan berdampak buruk pada ketahanan pangan, ekonomi masyarakat pesisir, dan kelestarian ekosistem laut," pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
LSM/Figur
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
LSM/Figur
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau