Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2 Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Kompas.com, 5 Mei 2026, 08:27 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) lahir di Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan kedua bayi harimau sumatera itu lahir dari indukan jantan bernama Kyai Batua dan betina bernama Sinta.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi menyebut indukan harimau itu merupakan satwa hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.

"Keberhasilan ini menjadi catatan penting sebagai kelahiran pertama harimau sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung," kata Ristianto dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).

Baca juga: Di Jawa, Mengapa Macan Tutul Lebih Bisa Bertahan ketimbang Harimau?

Berdasarkan pengawasan dan pendamping yang ketat oleh tim medik veteriner Taman Satwa Lembah Hijau, anak harimau tumbuh dan berkembang dengan baik memasuki usia tiga bulan ini. 

"Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan LK Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi Harimau Sumatera. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat," jelas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho. 

Ia menambahkan, keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam upaya perlindungan satwa liar, khususnya dalam penanggulangan ancaman jerat dan perburuan ilegal yang masih terjadi.

Baca juga: Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen

Adapun harimau Kyai Batua diselamatkan tim BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada 2-4 Juli 2019 di Dusun Baru Ampar, Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat dalam kondisi terjerat.

Akibat luka serius pada kaki depan kanan, harimau jantan ini harus menjalani tindakan amputasi pada 5 Juli 2019.

Sementara itu, Sinta diselamatkan dari wilayah Bengkulu pada Desember 2024 dengan kondisi serupa. Ia mengalami cedera berat akibat jerat pada saat dievakuasi, dan ditemukan cacat pada kaki belakang kanan.

Kemenhut menyatakan, perkawinan kedua harimau dilaksanakan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV Tahun 2024/2025 yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).

Dalam studbook Harimau Sumatera, Kyai Batua tercatat dengan nomor SB ID 1886 dan Sinta dengan nomor SB ID 1998.

Komitmen Lembaga Konservasi

Sementara itu, Komisaris Utama Lembaga Konservasi Taman Satwa PT Lembah Hijau, M Irwan Nasution menilai kelahiran harimau sumatera menjadi komitmen lembaga dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi.

"Keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil penyelamatan tetap memiliki potensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi harimau dumatera," tutur .

Menurut dia, LK Lembah Hijau akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa sesuai prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) serta mendukung program konservasi populasi satwa liar.

Kemenhut menegaskan, kelahiran ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam aspek edukasi, penelitian, serta penguatan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian satwa liar.

Karenanya, melalui BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), PKBSI, serta seluruh pihak terkait akan terus mendorong penguatan program konservasi berbasis kolaborasi, baik in situ maupun ex situ. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau