JAKARTA, KOMPAS.com - Dua anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) lahir di Lembaga Konservasi (LK) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan kedua bayi harimau sumatera itu lahir dari indukan jantan bernama Kyai Batua dan betina bernama Sinta.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi menyebut indukan harimau itu merupakan satwa hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.
"Keberhasilan ini menjadi catatan penting sebagai kelahiran pertama harimau sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung," kata Ristianto dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Di Jawa, Mengapa Macan Tutul Lebih Bisa Bertahan ketimbang Harimau?
Berdasarkan pengawasan dan pendamping yang ketat oleh tim medik veteriner Taman Satwa Lembah Hijau, anak harimau tumbuh dan berkembang dengan baik memasuki usia tiga bulan ini.
"Kami memberikan apresiasi atas keberhasilan LK Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi Harimau Sumatera. Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga konservasi, serta parapihak yang terlibat," jelas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho.
Ia menambahkan, keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam upaya perlindungan satwa liar, khususnya dalam penanggulangan ancaman jerat dan perburuan ilegal yang masih terjadi.
Baca juga: Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen
Adapun harimau Kyai Batua diselamatkan tim BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada 2-4 Juli 2019 di Dusun Baru Ampar, Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat dalam kondisi terjerat.
Akibat luka serius pada kaki depan kanan, harimau jantan ini harus menjalani tindakan amputasi pada 5 Juli 2019.
Sementara itu, Sinta diselamatkan dari wilayah Bengkulu pada Desember 2024 dengan kondisi serupa. Ia mengalami cedera berat akibat jerat pada saat dievakuasi, dan ditemukan cacat pada kaki belakang kanan.
Kemenhut menyatakan, perkawinan kedua harimau dilaksanakan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV Tahun 2024/2025 yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Dalam studbook Harimau Sumatera, Kyai Batua tercatat dengan nomor SB ID 1886 dan Sinta dengan nomor SB ID 1998.
Sementara itu, Komisaris Utama Lembaga Konservasi Taman Satwa PT Lembah Hijau, M Irwan Nasution menilai kelahiran harimau sumatera menjadi komitmen lembaga dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi.
"Keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa satwa hasil penyelamatan tetap memiliki potensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan populasi harimau dumatera," tutur .
Menurut dia, LK Lembah Hijau akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa sesuai prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) serta mendukung program konservasi populasi satwa liar.
Kemenhut menegaskan, kelahiran ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan populasi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam aspek edukasi, penelitian, serta penguatan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian satwa liar.
Karenanya, melalui BKSDA Bengkulu-Lampung bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS), PKBSI, serta seluruh pihak terkait akan terus mendorong penguatan program konservasi berbasis kolaborasi, baik in situ maupun ex situ.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya