KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan bahwa wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius saat berlayar di Samudra Atlantik, bukan bagian dari pandemi Covid-19 lainnya. Dalam kasus ini, dilaporkan tiga orang tewas dan beberapa lainnya sakit.
Menurut Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus penularan hantavirus biasanya melalui kontak dekat yang lama, misalnya anggota keluarga, pasangan, atau petugas kesehatan.
“Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan masih rendah," ujar Tedros dalam keterangannya dilansir dari UN News, Jumat (8/5/2026).
Hantavirus adalah virus zoonosis yang dibawa hewan pengerat dan ditularkan ke manusia melalui kontak dengan urin, air liur, serta kotoroan hewan yang terinfeksi.
Baca juga: Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal
Strain Andes, yang ditemukan di beberapa bagian Amerika Latin adalah satu-satunya hantavirus yang mampu menular dari manusia ke manusia secara terbatas.
Wabah hantavirus sangat berbeda dari pandemi virus corona tahun 2020 yang menewaskan jutaan orang di dunia.
“Ini bukan SARS-CoV-2 ini bukan awal dari pandemi Covid. Virus hantavirus sudah ada sejak lama, kita mengenal virus ini, tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona," kata plt Direktur WHO, Maria Van Kerkhove.
Baca juga: BRIN Ingatkan Potensi Virus Nipah di Indonesia, Kelelawar Jadi Sorotan
Tedros mengatakan, sejauh ini ada delapan kasus, termasuk lima infeksi yang dikonfirmasi laboratorium dan tiga lainnya diduga terkait dengan strain hantavirus Andes.
WHO menegaskan, investigasi masih berlangsung hingga kini. Pasien pertama diketahui mengalami gejala pada 6 April 2026, lalu meninggal di atas kapal. Istrinya juga sakit, kemudian tewas setelah dievakuasi ke Afrika Selatan, di mana pengujian laboratorium mengonfirmasi infeksi hantavirus.
Sebelum naik ke kapal, pasangan tersebut telah melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay untuk mengamati burung. Mereka juga mengunjungi lokasi-lokasi tempat spesies hewan pengerat yang membawa virus tersebut berada.
Penumpang lain meninggal pada 2 Mei 2026, sementara satu pria masih berada di unit perawatan intensif di Afrika Selatan dengan kondisi yang membaik. Tedros menyebut, pasien telah dipindahkan ke rumah sakit di Belanda guna menjalani perawatan.
Dia memperingatkan kasus tambahan masih muncul karena melihat masa inkubasi hantavirus Andes dapat mencapai enam minggu.
“Virus tidak peduli dengan politik, dan mereka tidak peduli dengan perbatasan. Kekebalan terbaik yang kita miliki adalah solidaritas," beber Tedros.
Kendati demikian, sementara ini tidak ada penumpang atau awak kapal yang masih berada di atas kapal menunjukkan gejala infeksi hantavirus.
WHO bekerja sama dengan otoritas kesehatan di Cabo Verde, Spanyol, Belanda, Afrika Selatan, Inggris, dan Argentina, serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya