KOMPAS.com - Indonesia menghadapi situasi politikrisis, di mana beberapa krisis global saling terkait, serta memperparah keadaan satu sama lain.
Menurut Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, perusahaan yang tetap komitmen tanggung jawab sosial dan keberlanjutan yang tinggi akan lebih terlindungi.
Bahkan, perusahaan dengan komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) akan lebih kuat menghadapi krisis dibandingkan dengan para kompetitornya.
Baca juga: Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
"Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan, perusahaan yang memiliki kinerja CSR, ESG, dan keberlanjutan yang tinggi, itu akan menghasilkan efek insurance," ujar Jalal dalam webinar Beyond ESG Score; Sebetulnya Apa Manfaat Perusahaan Melakukan Shadow Rating, Jumat (8/5/2026).
Di tengah krisis, kinerja keuangan perusahaan yang memutuskan untuk melanjutkan program ESG, CSR, dan keberlanjutan sebenarnya juga mengalami penurunan. Dalam waktu yang sama, kata dia, penurunan kinerja keuangan perusahaan akan lebih kecil ketimbang yang tidak berkomitmen tinggi dengan ESG, CSR, dan keberlanjutan.
"Sama-sama turun, tetapi turunnya itu tidak lebih dalam dibandingkan dengan yang kinerja CSR, ESG, dan keberlanjutannya rendah. Ketika periode bounce back (bangkit kembali) terjadi, jadi krisis cenderung berakhir, krisis itu sudah apa mau lewat, yang akan terjadi adalah mereka yang punya kinerja CSR, ESG, dan keberlanjutan yang tinggi itu akan kembali lebih cepat ke posisi semula," tutur Jalal.
Jalal menyebut, sudah ada riset yang menyatakan perusahaan-perusahaan yang bisa mempunyai kekuatan antifragile (antirapuh). Jadi, bukan sekadar bangkit kembali ke posisi semula, melainkan menghasilkan kinerja yang lebih bagus. Salah satu referensinya, buku Antifragile: Things That Gain from Disorder karya Nassim Nicholas Taleb.
ESG semestinya diperlakukan perusahaan sebagai investasi, bukan biaya (cost). Jika perusahaan menganggap ESG sebagai cost, maka segala pengeluarannya akan dipangkas saat krisis terjadi. Sedangkan kalau perusahaan menganggap ESG sebagai investasi, perusahaan akan berpikir untuk bagaimana terus mengejar tujuannya agar tercapai.
Baca juga: Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG
Krisis akan menyingkap karakter asli perusahaan yang benar-benar berkomitmen terhadap keberlanjutan atau tidak.
Perusahaan-perusahaan dengan komitmen keberlanjutan yang tinggi melihat krisis sebagai ujian. Oleh karena itu, krisis perlu dihadapi perusahaan dengan berbagai strategi dan taktik, bukan justru mengurangi kinerjanya.
"Tetapi mungkin mereka harus berpikir ulang soal efisiensi, mereka harus berpikir ulang tentang apa, cara lain untuk mencapai target-target yang sudah ditetapkan. Jadi tidak ada penyusutan target sama sekali, tidak ada penurunan kinerja sama sekali," ujar Jalal.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya