KOMPAS.com - Perubahan iklim menimbulkan risiko serius yang terus meningkat bagi jutaan jemaah haji.
Menurut sebuah studi baru, panas dan kelembapan ekstrem pada musim haji 2024 sudah melampaui batas kemampuan fisik manusia.
Berdasarkan temuan tersebut, selama beberapa jam pada pelaksanaan haji 2024, kondisi panas yang sangat menyengat sudah melewati batas kemampuan bertahan hidup, bahkan bagi orang dewasa yang muda dan sehat sekalipun.
Melansir Down to Earth, Jumat (8/5/2026) pada Juni 2024, gabungan antara panas dan udara lembap menciptakan waktu sekitar empat jam berturut-turut di mana berada di luar ruangan terlalu lama bisa menyebabkan kematian jika tidak ada akses ke pendingin ruangan atau pertolongan segera.
Studi ini disampaikan pada pertemuan European Geosciences Union (EGU) tahun 2026, yang disusun oleh tim ahli dari Layanan Cuaca dan Iklim di Islamabad, Pakistan, serta Climate Analytics di Berlin, Jerman.
Baca juga: India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat
Namun, tidak hanya berhenti itu saja. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kondisi cuaca selama ibadah haji akan menjadi semakin berbahaya dalam beberapa puluh tahun ke depan.
Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Setiap tahun, jutaan jemaah pergi ke Makkah untuk menjalani ibadah yang mengharuskan mereka berjalan jauh di bawah terik matahari dalam waktu lama.
Hari Arafah dianggap sebagai ibadah yang paling berisiko karena seluruh hari dihabiskan di luar ruangan yang terbuka dengan tempat berteduh yang sangat sedikit.
Menurut pernyataan dari EGU, meskipun beberapa perubahan sudah dilakukan untuk meningkatkan keamanan seperti ibadah Sa'i di dalam ruangan dan pembangunan tenda permanen di Mina, di sisi lain perubahan itu juga mengubah suasana tradisional dari ibadah haji tersebut.
Lebih lanjut, selama musim haji 2024, dilaporkan ada sekitar 1.300 orang yang meninggal dunia.
Meskipun begitu, Pemerintah Arab Saudi berencana untuk menambah jumlah jemaah haji di masa depan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar karena akan semakin banyak orang yang terancam bahaya panas dan udara lembap yang ekstrem.
Para peneliti mencatat bahwa pola cuaca di masa depan akan terus berubah. Walaupun dalam 20 hingga 30 tahun ke depan ibadah haji akan jatuh pada musim yang lebih sejuk, haji diprediksi akan kembali lagi ke musim panas yang menyengat sekitar tahun 2050.
Baca juga: Ibadah Haji Bisa Lebih Ramah Lingkungan, BPKH Luncurkan Panduannya
Pada saat itu, risiko terkena panas ekstrem akan meningkat lagi, sehingga ibadah haji di masa depan akan menjadi lebih berbahaya bagi para jemaah.
Para ilmuwan pun meminta adanya tindakan cepat untuk beradaptasi dan upaya dunia untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Mereka menjelaskan bahwa pengurangan dampak ini sangat penting, bukan hanya untuk melindungi jemaah, tetapi juga untuk menjaga keaslian dan cara tradisional ibadah haji itu sendiri.
Meskipun langkah-langkah pencegahan bisa mengurangi sebagian bahaya, ancaman tersebut tidak bisa hilang sepenuhnya jika pemanasan bumi terus berlanjut.
Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah lingkungan, tetapi juga sudah mulai memengaruhi ibadah agama dan acara kumpul bersama orang banyak di seluruh dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya