Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya

Kompas.com, 11 Mei 2026, 15:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim menimbulkan risiko serius yang terus meningkat bagi jutaan jemaah haji.

Menurut sebuah studi baru, panas dan kelembapan ekstrem pada musim haji 2024 sudah melampaui batas kemampuan fisik manusia.

Berdasarkan temuan tersebut, selama beberapa jam pada pelaksanaan haji 2024, kondisi panas yang sangat menyengat sudah melewati batas kemampuan bertahan hidup, bahkan bagi orang dewasa yang muda dan sehat sekalipun.

Melansir Down to Earth, Jumat (8/5/2026) pada Juni 2024, gabungan antara panas dan udara lembap menciptakan waktu sekitar empat jam berturut-turut di mana berada di luar ruangan terlalu lama bisa menyebabkan kematian jika tidak ada akses ke pendingin ruangan atau pertolongan segera.

Studi ini disampaikan pada pertemuan European Geosciences Union (EGU) tahun 2026, yang disusun oleh tim ahli dari Layanan Cuaca dan Iklim di Islamabad, Pakistan, serta Climate Analytics di Berlin, Jerman.

Baca juga: India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat

Makin berbahaya di masa depan

Namun, tidak hanya berhenti itu saja. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kondisi cuaca selama ibadah haji akan menjadi semakin berbahaya dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Setiap tahun, jutaan jemaah pergi ke Makkah untuk menjalani ibadah yang mengharuskan mereka berjalan jauh di bawah terik matahari dalam waktu lama.

Hari Arafah dianggap sebagai ibadah yang paling berisiko karena seluruh hari dihabiskan di luar ruangan yang terbuka dengan tempat berteduh yang sangat sedikit.

Menurut pernyataan dari EGU, meskipun beberapa perubahan sudah dilakukan untuk meningkatkan keamanan seperti ibadah Sa'i di dalam ruangan dan pembangunan tenda permanen di Mina, di sisi lain perubahan itu juga mengubah suasana tradisional dari ibadah haji tersebut.

Lebih lanjut, selama musim haji 2024, dilaporkan ada sekitar 1.300 orang yang meninggal dunia.

Meskipun begitu, Pemerintah Arab Saudi berencana untuk menambah jumlah jemaah haji di masa depan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar karena akan semakin banyak orang yang terancam bahaya panas dan udara lembap yang ekstrem.

Para peneliti mencatat bahwa pola cuaca di masa depan akan terus berubah. Walaupun dalam 20 hingga 30 tahun ke depan ibadah haji akan jatuh pada musim yang lebih sejuk, haji diprediksi akan kembali lagi ke musim panas yang menyengat sekitar tahun 2050.

Baca juga: Ibadah Haji Bisa Lebih Ramah Lingkungan, BPKH Luncurkan Panduannya

Pada saat itu, risiko terkena panas ekstrem akan meningkat lagi, sehingga ibadah haji di masa depan akan menjadi lebih berbahaya bagi para jemaah.

Para ilmuwan pun meminta adanya tindakan cepat untuk beradaptasi dan upaya dunia untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Mereka menjelaskan bahwa pengurangan dampak ini sangat penting, bukan hanya untuk melindungi jemaah, tetapi juga untuk menjaga keaslian dan cara tradisional ibadah haji itu sendiri.

Meskipun langkah-langkah pencegahan bisa mengurangi sebagian bahaya, ancaman tersebut tidak bisa hilang sepenuhnya jika pemanasan bumi terus berlanjut.

Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah lingkungan, tetapi juga sudah mulai memengaruhi ibadah agama dan acara kumpul bersama orang banyak di seluruh dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau