KOMPAS.com - Permintaan akan kayu bakar mempercepat hilangnya hutan di sebagian wilayah Afrika dan Asia, meskipun negara-negara tersebut telah memperluas program pemulihan dan penanaman hutan kembali.
Melansir Down to Earth, Selasa (12/5/2026) Laporan Target Hutan Global 2026, yang diluncurkan dalam sesi ke-21 Forum Hutan PBB, memperingatkan bahwa dunia kehilangan lebih dari 40 juta hektare hutan antara tahun 2015 dan 2025.
Penyebab utamanya adalah perluasan lahan pertanian dan meningkatnya permintaan kayu bakar. Laporan ini meminta agar hutan tetap menjadi fokus utama dalam kebijakan dunia dan keputusan investasi.
Laporan tersebut, yang disusun oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB serta Sekretariat Forum Hutan PBB, menilai kemajuan menuju Target Hutan Global tahun 2030.
Baca juga: Cuaca Buruk 2025 Picu Kebakaran Hutan Terburuk dalam Sejarah di Eropa
Hasilnya menunjukkan bahwa luas hutan di seluruh dunia menyusut dari 4,18 miliar hektare pada tahun 2015 menjadi 4,14 miliar hektare pada tahun 2025, yang berarti ada kehilangan rata-rata 4,12 juta hektare setiap tahunnya.
Amerika Selatan mencatat penurunan paling tajam dengan kehilangan 4,1 juta hektare per tahun, sementara Afrika kehilangan hampir 3 juta hektare setiap tahun.
Perluasan lahan pertanian tetap menjadi penyebab terbesar penggundulan hutan di seluruh dunia. Namun, laporan tersebut mengidentifikasi bahwa meningkatnya permintaan kayu bakar, termasuk kayu mentah dan arang, merupakan penyumbang utama rusaknya kualitas hutan, terutama di wilayah Afrika sub-Sahara dan sebagian Asia.
"Permintaan akan kayu bakar adalah penggerak utama hilangnya dan rusaknya hutan," tulis laporan tersebut.
Tren ini dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk, kebutuhan energi, dan terbatasnya akses ke pilihan energi lain yang lebih bersih.
Laporan tersebut menghubungkan ketergantungan pada kayu bakar dengan kemiskinan dan kurangnya akses ke energi bersih. Di banyak wilayah berpenghasilan rendah, kayu bakar tetap menjadi sumber utama untuk memasak dan pemanas, yang memberikan tekanan tambahan pada hutan di sekitarnya.
Tata kelola yang lemah, hak atas tanah yang tidak pasti, perdagangan ilegal, dan kemampuan lembaga yang terbatas juga diidentifikasi sebagai penghambat pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, dalam pengantar laporan tersebut memperingatkan bahwa hutan semakin terancam oleh penggundulan hutan, suhu yang meningkat, ketidakpastian ekonomi, dan perpecahan geopolitik.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dunia masih "berada di jalur yang salah" untuk menghentikan kehilangan hutan pada tahun 2030, meskipun program pemulihan dan pelestarian terus berjalan.
Hutan primer, yang sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan menyimpan karbon, juga terus berkurang. Dunia telah kehilangan 16 juta hektare hutan primer selama sepuluh tahun terakhir, di mana Amerika Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kehilangan terbesar.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa tekanan akibat iklim, seperti kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas, hama, dan penyakit, semakin memperburuk kerusakan hutan.
Meskipun negara-negara telah memperkenalkan sistem pencegahan kebakaran hutan, alat pemantau hutan, dan gerakan penanaman hutan kembali, tindakan ini tidak sebanding dengan besarnya dampak iklim yang terjadi.
Li Junhua, Wakil Sekretaris Jenderal Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB, mengatakan bahwa komitmen dunia yang lebih kuat sangat diperlukan untuk mencapai target hutan pada tahun 2030.
Baca juga: Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
"Temuan ini mengingatkan kita bahwa untuk mencapai Target Hutan Global pada tahun 2030, kita butuh ambisi yang lebih besar, peningkatan dana yang signifikan, lembaga yang lebih kuat, serta komitmen politik yang berkelanjutan di semua sektor," katanya.
Secara global, hutan mencakup 4,14 miliar hektare dan mendukung keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, sumber penghidupan, sistem air, serta pengatur iklim. Namun, laporan tersebut mencatat bahwa ekosistem hutan terus menghadapi tekanan yang meningkat akibat perubahan penggunaan lahan dan ketergantungan pada energi.
Menurut laporan tersebut, 91 negara telah berjanji untuk memulihkan sekitar 190 juta hektare hutan, meskipun baru 44 juta hektare yang berhasil dipulihkan hingga tahun 2025. Asia mencatat kemajuan tertinggi dengan memulihkan lebih dari 31 juta hektare, atau sekitar 42,2 persen dari area yang dijanjikan.
Laporan ini juga meminta adanya koordinasi antar-sektor yang lebih kuat, peningkatan pendanaan untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan, serta pengembangan rantai pasok yang bebas dari penggundulan hutan. Selain itu, laporan ini menekankan perlunya memperluas akses ke pilihan energi yang lebih bersih untuk mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan arang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya