Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan

Kompas.com, 16 Mei 2026, 13:49 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) mengungkapkan jutaan orang menghadapi ancaman kemiskinan akibat krisis energi dan gangguan perdagangan global.

Presiden ECOSOC, Lok Bahadur Thapa menyampaikan lonjakan harga bahan bakar dan transportasi, terganggunya perdagangan, dan pengetatan kondisi keuangan memperparah tekanan negara berkembang. Terutama wilayah yang terbebani utang dan bergantung pada impor pangan hingga energi.

“Lebih dari 32 juta orang tambahan berisiko masuk dalam kemiskinan secara global akibat dari gabungan guncangan kenaikan harga energi, biaya pangan yang lebih tinggi, dan melemahnya pertumbuhan ekonomi," ungkap Thapa dilansir dari UN News, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah

PBB memperkirakan harga bahan bakar naik dua kali lipat dari rata-rata tahun 2025. Harga pupuk 15-20 persen lebih tinggi pada pertengahan 2026 dibandingkan tahun lalu apabila krisis terus berlanjut.

Dampaknya kini telah dirasakan dunia dengan meingkatnya biaya hidup ataupun harga pangan. Thapa juga menekankan bahaya fragmentasi global di tengah tekanan ekonomi yang makin besar.

Kelompok terdampak

Kelompok yang paling terdampak krisis energi adalah perempuan, anak-anak, dan generasi muda. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua memperingatkan ketidakstabilan energi dan pasokan global dapat memperburuk perekonomian dunia yang sudah rapuh serta memicu inflasi yang lebih tinggi.

Baca juga: Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin

"Karenanya, menjaga kelancaran arus energi dan pasokan bukan hanya keharusan ekonomi, ini adalah syarat mendasar untuk mencapai pembangunan inklusif dan berkelanjutan," jelas Li.

Li lantas menguraikan empat prioritas utama yang perlu segera dilakukan, antara lain menjaga pasar energi dan komoditas tetap terbuka serta dapat diprediksi.

Kemudian, meningkatkan akses pembiayaan yang terjangkau bagi negara berkembang, berinvestasi pada sistem energi tangguh dan berkelanjutan, serta mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 7 tentang akses terhadap energi yang terjangkau dan andal.

Para pejabat PBB menyatakan pentingnya percepatan investasi energi terbarukan, penguatan pembangunan infrastruktur, serta jaringan perdagangan dan energi global.

“Dengan tindakan terkoordinasi, investasi berkelanjutan, dan komitmen yang diperbarui terhadap multilateralisme, kita dapat membangun sistem energi yang lebih tangguh, mengamankan rantai pasokan, dan lebih lanjut mempromosikan pembangunan inklusif dan berkelanjutan,” sebut Li.

Negara Berkembang Paling Terdampak

Sementara itu, Perdana Menteri Barbados, Mia Mottley menyatakan ketidakstabilan ekonomi global sangat berpengaruh terdahap pulau kecil dan negara berkembang. Ia berpendapat bahwa krisis energi dirasakan dengan cepat di dunia pelayaran, pasar bahan bakar, dan anggaran negara, yang pada akhirnya berdampak pada rumah tangga.

Barbados sendiri mengimpor lebih dari 85 persen kebutuhan energinya, sedangkan wilayah Karibia secara luas mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan pangan.

“Ukuran (wilayah) kecil tidak mengurangi dampak guncangan, seringkali justru membuatnya lebih cepat dan lebih mahal," beber Mottley.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau