KOMPAS.com - Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus berdampak terhadap perdagangan global, lonjakan harga energi, memicu krisis lapangan kerja, serta biaya hidup yang makin tinggi.
Imbasnya, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi 2,5 persen, jauh di bawah level sebelum pandemi Covid-19.
Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB atau United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menyatakan, pertumbuhan perdagangan global juga diperkirakan akan menurun tajam setelah menguat pada 2025.
"Prospek ekonomi Asia telah memburuk dengan cepat sejak krisis meningkat, mendorong inflasi dan melemahkan kepercayaan konsumen di beberapa negara," kata Komisi Ekonomi Regional PBB (ESCAP) dilansir dari UN News, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Di Laos, inflasi naik dari 6,2 persen pada Februari menjadi lebih dari 10 persen pada April 2026. Pakistan juga mengalami lonjakan inflasi dari 7,3 persen pada Maret menjadi 10,9 persen di April.
Hal serupa terjadi di kawasan Asia Timur dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan menurun dari 5 persen pada 2025 menjadi 4,4 persen di tahun 2026 karena tingginya harga serta ketidakpastian perdagangan.
Di sisi lain, mata uang beberapa wilayah melemah terhadap dollar AS. Kemudian, terjadi peningkatan biaya pinjaman karena investor menilai kembali risiko.
Di Nepal, 1 dollar AS setara dengan 154,5 rupee pada Selasa (19/5/2026), angkanya hampir 10 rupee lebih tinggi dibandingkan awal Februari 2025. Kondisi ini meningkatkan biaya impor di nagera tersebut.
ESCAP menekankan, banyak negara berkembang memiliki cadangan bahan bakar yang hanya cukup untuk menutupi impor selama kurang dari tiga bulan, meningkatkan risiko tekanan pasokan jika ketidakstabilan terus berlanjut.
"Krisis yang berkepanjangan dapat memicu gangguan ekonomi yang sebanding dengan guncangan minyak tahun 1973 , termasuk risiko resesi dan inflasi dua digit di negara-negara dengan perekonomian yang rentan," ujar ESCAP.
Merosotnya kondisi ekonomi pun terjadi di Myanmar, yang mengalami konflik sehingga pengungsi kehilangan mata pencaharian di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak serta biaya kebutuhan pokok sejak Februari 2026.
“Satu dari empat orang di Myanmar mengalami kerawanan pangan akut, ” ungkap Program Pangan Dunia PBB (WFP).
Kenaikan harga bahan bakar dan pupuk turut mengancam kelangsungan hidup rumah tangga.
Sementara itu, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperingatkan krisis akibat konflik geopolitik saat ini makin memengaruhi lapangan kerja, upah, dan kondisi kerja di seluruh dunia.
“Di luar dampak kemanusiaannya, krisis Timur Tengah bukanlah gangguan singkat. Ini adalah guncangan yang bergerak lambat dan berpotensi berlangsung lama yang secara bertahap akan membentuk kembali pasar tenaga kerja," tutur Kepala Ekonom ILO, Sangheon Lee.
Dalam salah satu skenario yang dimodelkan ILO, harga minyak diperkirakan tetap berada 50 persen di atas rata-rata awal 2026. Akibatnya, jam kerja global dapat turun 0,5 persen pada tahun ini dan 1,1 persen pada 2027. Angka tersebut setara dengan hilangnya sekitar 14 juta pekerjaan penuh waktu pada 2026 dan 38 juta pekerjaan pada 2027.
ILO memperkirakan pendapatan riil pekerja secara global dapat menyusut hingga 3 triliun dollar AS pada 2027. Kawasan Asia-Pasifik dan negara-negara Arab dinilai paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap energi, jalur pelayaran, dan remitansi tenaga kerja dari negara-negara Teluk.
Selain itu, pengiriman tenaga kerja ke negara-negara Teluk dilaporkan menurun tajam di beberapa negara pengirim pekerja migran. Aliran remitansi yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama jutaan keluarga juga mulai melemah.
“Jika krisis mengganggu penugasan dan aliran remitansi, dampaknya dapat menyebar ke konsumsi, kemiskinan, dan lapangan kerja lokal di negara asal,” papar ILO.
Krisis Selat Hormuz dinilai menjadi peringatan bagi ekonomi global mengenai pentingnya ketahanan energi dan rantai pasok. Negara-negara yang telah berinvestasi dalam ketahanan ekonomi dinilai lebih siap menghadapi guncangan di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya