Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya

Kompas.com, 28 Mei 2026, 20:00 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa negara di Eropa dilaporkan mengalami suhu panas ekstrem yang tidak biasa pada akhir musim semi 2026. Menurut para ilmuwan, perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia menjadi pemicu ekstremnya kenaikan suhu bumi.

Suhu di Inggris pada 27 Mei 2025 menembus 35 derajat celsius. Angkanya naik 2 derajat celsius dibandingkan rekor suhu pada Mei tahun lalu.

Badan Meteorologi Inggris, Met Office menyatakan suhu tersebut sangat tidak lazim bahkan untuk musim panas.

"Ketika terjadi gelombang panas, dampaknya lebih parah karena terjadi di tengah pemanasan iklim," ungkap Kepala Penelitian Dampak Iklim Met Office, Richard Betts dilansir dari BBC, Kamis (28/5/2025).

Baca juga: Timur Tengah Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 49 Derajat C

Prancis juga sedang dilanda gelombang panas awal musim yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut badan prakiraan cuaca setempat. Sementara itu, rekor suhu pada Mei di Irlandia tercatat melampaui lebih dari 2 derajat celsius dari periode sebelumnya. Panas ekstrem pun melanda Jerman, Italia, Spanyol, serta Swiss.

Layanan iklim Copernicus melaporkan bahwa wilayah Eropa telah mengalami pemanasan hingga 0,56 derajat celsius per dekade selama 30 tahun terakhir, lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Meski angkanya tampak kecil, nyatanya kenaikan tersebut membuat suhu ekstrem menjadi jauh lebih intens dibandingkan sebelumnya.

Di Delhi, India, gelombang panas memicu kenaikan suhu menjadi 45 derajat celsius. Profesor Institut Ilmu Atmosfer dan Iklim ETH Zurich Swiss, Erich Fischer menyatakan rekor suhu yang sebelumnya hanya bertambah sedikit kini justru melonjak drastis dalam waktu singkat.

“Jika rekor suhu dipecahkan setelah 100 tahun pengukuran, biasanya hanya berbeda sepersepuluh derajat, bukan langsung dua atau tiga derajat,” beber Fischer.

Akan sering terjadi

Suhu ekstrem seperti ini akan semakin sering terjadi jika emisi karbon global tidak segera ditangani. Saat ini, suhu rata-rata global sudah sekitar 1,4 derajat celsius lebih panas dibandingkan akhir abad ke-19.

Berdasarkan kebijakan iklim global, pemanasan global diperkirakan bisa mendekati 3 derajat celsius pada akhir abad ini.

"Kami sedang melewati periode pemanasan yang sangat cepat, terutama di Eropa Barat. Jadi jika peristiwa cuaca yang sama seperti yang kita alami di tahun 1970-an (terjadi lagi) suhu tidak hanya akan sedikit lebih hangat, tetapi juga akan memecahkan rekor," ucap Fischer.

Sampai tahun 1990, rekor suhu tertinggi di Inggris sebesar 36,7 derajat celsius. Rekor tersebut telah beberapa kali dipecahkan yang sekarang berada di angka 40,3 derajat celsius tercatat pada Juli 2022.

Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat

Sebelumnya Komite Perubahan Iklim, mengatakan bahwa gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan banjir yang semakin sering terjadi sudah mengancam cara hidup masyarakat Inggris mulai dari pertandingan olahraga hingga festival musik.

Lebih dari 90 persen rumah di sana berpotensi mengalami panas berlebih selama gelombang panas ekstrem. Dampak lainnya, Inggris akan kekurangan pasokan air minum.

Komite tersebut mendesak pemerintah untuk memprioritaskan persiapan menghadapi gelombang panas ekstrem yang lebih sering terjadi, termasuk memasang pendingin udara dan menetapkan aturan suhu maksimum untuk tempat kerja guna melindungi kesehatan masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau