JAKARTA, KOMPAS.com - Idul Adha menjadi momentum umat muslim untuk berkurban hewan ternak seperti domba, sapi, atau kambing. Namun, peningkatan hewan ternak memunculkan persoalan klasik yakni banyaknya limbah yang kerap kali tak ditangani secara optimal.
Pakar IPB University, Salundik menyampaikan bahwa limbah ternak di tempat penjualan dan area penyembelihan dapat mencemari lingkungan dan berisiko terhadap kesehatan jika tidak terkelola dengan baik.
“Limbah di lokasi penjualan umumnya berupa kotoran (feses) dan sisa pakan hijauan. Karena ternak dikumpulkan dalam jumlah besar sekitar 20 hari sebelum Idul Adha, akumulasinya menjadi sangat masif,” ungkap Salundik dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Dia mencontohkan, 50 ekor sapi dengan sekitar 20 kilogram kotoran per ekor dapat mengasilkan 20 ton limbah selama periode tersebut.
Sementara, limbah di tempat penyembelihan memiliki karakteristik berbeda dan lebih berisiko. Limbah ini mencakup darah, isi rumen, serta saluran pencernaan yang berpotensi menimbulkan kontaminasi, terutama di wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan.
“Jenis limbah di area penyembelihan memerlukan penanganan khusus karena risiko kontaminasinya lebih tinggi,” tutur Salundik.
Oleh karenanya, dia mengusulkan pemanfaatan limbah organik dari area penjualan berupa kotoran dan sisa pakan ternak diolah menjadi pupuk kompos
“Ini menjadi solusi praktis sekaligus memberikan nilai ekonomi,” imbuh dia.
Baca juga: Petani di Sumsel Kelola Limbah Jerami Jadi Produk Ramah Lingkungan
Kendati demikian, ia mengakui pengelolaan limbah di tempat penyembelihan masih menjadi tantangan lantaran jumlah ternak yang tidak pasti, lokasi penyembelihan tersebar, hingga keterbatasan lahan untuk pengolahan limbah.
Artinya, pengelolaan limbah kurban tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan pendekatan yang lebih terencana dan terkoordinasi, terutama di wilayah perkotaan.
Melalui pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik, masyarakat mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus berkontribusi pada praktik ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
Salundik menekankan, dengan pengelolaan yang tepat limbah kurban tidak lagi menjadi beban lingkungan melainkan dapat diubah menjadi sumber daya bagi masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya