KOMPAS.com - Perdagangan energi bersih global terus meluas pada tahun 2025 hingga mencapai angka Rp8.564 triliun. Padahal, pasar global saat ini sedang ditekan oleh aturan tarif, ketegangan politik antarnegara, serta perubahan kebijakan industri, menurut laporan terbaru dari BloombergNEF.
Melansir Know ESG, Kamis (28/5/2026) temuan yang diterbitkan dalam laporan Energy Transition Supply Chains 2026 ini menunjukkan bahwa pengiriman produk-produk utama pendukung transisi energi tersebut naik sebesar 1 persen dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatannya memang tipis namun kenaikan ini menandakan adanya pemulihan setelah sempat anjlok sebesar 7 persen pada periode tahun 2023 hingga 2024 lalu.
Selain itu meskipun pemerintah Amerika Serikat kembali memberlakukan dan mengubah aturan tarif pada beberapa sektor teknologi bersih, serta adanya ketidakpastian kebijakan di wilayah lain, perdagangan antarnegara untuk peralatan tenaga surya, baterai, dan kendaraan listrik terbukti jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Bagi pemerintah dan perusahaan manufaktur, tren ini menunjukkan adanya perubahan besar yang mendasar yakni rantai pasok energi bersih kini bukan lagi sekadar bisnis sampingan, melainkan sudah menjadi inti dari strategi perdagangan, keamanan energi, serta perencanaan industri suatu negara.
Baca juga: Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
BloombergNEF mencatat bahwa jalur pasokan dunia kini sedang berubah akibat meningkatnya risiko konflik politik antarnegara dan tidak stabilnya harga bahan bakar fosil.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah telah membuat harga minyak dan gas melonjak naik, sehingga menambah beban bagi negara-negara di Asia dan Afrika yang sangat bergantung pada barang impor.
Di banyak negara tersebut, mahalnya biaya energi ini justru mempercepat peralihan masyarakat untuk menggunakan alternatif yang lebih bersih, seperti tenaga surya, kendaraan listrik, dan baterai penyimpanan daya.
Pola sejarah mendukung tren ini. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar terbukti selalu lebih cepat beralih ke teknologi bersih setiap kali terjadi lonjakan harga bahan bakar fosil.
Contohnya Pakistan. Setelah harga bahan bakar dunia melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina, impor panel surya di negara tersebut langsung melonjak tajam sebesar 189 persen pada tahun 2022 hingga mencapai 1 miliar Dolar As atau sekitar Rp17,87 triliun.
Pada tahun 2025, pemasangan panel surya skala kecil di sana mencetak rekor baru hingga mencapai 18,3 GW. Hal ini didorong oleh mahalnya tarif listrik, tingginya biaya impor gas alam cair (LNG), serta pemadaman listrik yang sering terjadi berulang kali.
“Karena konflik di Timur Tengah masih terus berlanjut, banyak negara yang kini melipatgandakan upaya mereka dalam memasang teknologi bersih untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi mereka,” kata Antoine Vagneur-Jones, kepala bagian perdagangan dan rantai pasok di BloombergNEF.
Meskipun permintaan terus meningkat, produksi teknologi bersih saat ini masih mengalami kelebihan pasokan yang sangat besar. BloombergNEF memperkirakan bahwa kapasitas produksi global sekarang melebihi jumlah permintaan hingga lebih dari 200 persen di seluruh rantai pasok energi bersih.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Ketidakseimbangan ini sebagian besar dipicu oleh investasi besar-besaran di China, tetapi pusat-pusat produksi baru juga mulai bermunculan di Asia Tenggara, India, Turki, Mesir, dan Etiopia.
Kelebihan pasokan ini sangat terlihat jelas pada panel surya, baterai, dan peralatan turbin angin. Meskipun situasi ini menguntungkan para pembeli karena harga barang menjadi lebih murah, hal ini memperkecil keuntungan bagi pihak pabrik dan memperlambat laju penurunan harga ke depannya.
Harga teknologi bersih terus menurun pada tahun 2025, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Harga paket baterai turun dari yang tadinya 118 Dolar As (sekitar Rp2,1 juta) per kilowatt-jam pada tahun 2024 menjadi 108 Dolar AS (sekitar Rp1,9 juta) per kWh, tetapi penurunan ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tingginya biaya bahan baku logam yang terus bertahan.
Harga panel surya juga turun dengan lebih lambat, salah satunya disebabkan oleh melonjaknya harga perak. Sementara itu, para produsen turbin angin justru sedikit menaikkan harga produk mereka untuk menutup kerugian yang mereka alami sebelumnya.
Kondisi harga yang bercampur ini mencerminkan situasi pasar yang terjebak di antara pertumbuhan pasokan barang yang sangat kuat dan meningkatnya keterbatasan bahan baku.
BloombergNEF juga menyoroti perubahan pola perdagangan di pasar panel surya dan baterai. Komponen setengah jadi seperti sel surya kini mengambil porsi yang lebih besar dalam perdagangan dunia, melonjak menjadi 44 persen pada tahun 2025 dari yang sebelumnya hanya 25 persen di tahun lalu.
Upaya India dalam mendongkrak sektor pabrik makin kuat, dan mereka berpotensi menjadi negara pengekspor besar seiring dengan langkah dunia yang terus memindahkan pusat produksinya keluar dari China. Turki juga mulai muncul sebagai pemain baru yang kompetitif.
Di sektor baterai, penggunaan untuk kendaraan listrik masih merajai jalur perdagangan. Meski begitu, baterai penyimpanan energi skala besar kini sedang berkembang sangat pesat, dan sekarang menyumbang 29 persen dari total pengiriman atau melonjak sebesar 64 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu upaya Amerika Serikat dan Eropa untuk membangun pabrik teknologi bersih di dalam negeri mereka sendiri memang sedang berjalan. Namun, BloombergNEF mencatat bahwa proyek-proyek tersebut tampaknya sulit untuk menjadi pusat ekspor yang mampu bersaing di pasar dunia.
Baca juga: Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Banyak proyek di sana yang masih fokus pada tahap akhir saja, yaitu sekadar merakit komponen bukan memproduksi seluruh bahan dari awal.
Beberapa pabrik yang sudah direncanakan juga mengalami penundaan karena sepinya permintaan pembeli dan kebijakan pemerintah yang masih belum pasti. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kemampuan mereka untuk bersaing dalam jangka panjang melawan pusat-pusat pabrik di Asia yang sudah jauh lebih mapan.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa perdagangan energi bersih sekarang makin dibentuk oleh alasan keamanan energi dan risiko bahan bakar fosil, bukan lagi sekadar karena kebijakan iklim semata.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar mungkin akan mempercepat peralihan mereka jika harga bahan bakar fosil terus-menerus mahal.
Bagi para pembuat kebijakan dan investor, pesannya sudah sangat jelas yakni rantai pasok energi bersih kini telah menjadi pilar strategi perdagangan dunia, yang berada di titik temu antara masalah ekonomi, keamanan negara, dan kebijakan industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya