KOMPAS.com - Sistem pangan dunia ternyata sangat rapuh. Bencana baru-baru ini, seperti penutupan Selat Hormuz dan serangan Rusia ke Ukraina, telah membuat harga-harga makanan melonjak dan memperparah kelaparan di berbagai belahan dunia.
Sekarang, pemerintah di banyak negara berlomba-lomba melindungi diri mereka dari krisis pangan masa depan, baik yang disebabkan oleh perang, bencana iklim, kacaunya jalur perdagangan dunia, maupun gagal panen.
Namun, melansir Phys, Kamis (28/5/2026) penelitian baru dari Universitas Oxford yang terbit di jurnal PLOS Climate menunjukkan bahwa banyak negara kemungkinan besar salah fokus dalam membangun ketahanan pangan mereka.
Hasil penelitian ini mengkritik strategi ketahanan pangan yang cuma fokus pada cara menaikkan panen di dalam negeri saja, tetapi menutup mata terhadap ketergantungan mereka pada kondisi panen di luar negeri dan pasokan energi dunia.
Baca juga: Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat
Analisis yang berjudul "Assessing the Resilience of Global Grain Supplies to Compound Climatic and Non-Climatic Shocks," menemukan bahwa lonjakan harga energi dan pupuk seperti yang disebabkan oleh perang di Ukraina dan Iran bisa menyebar dengan sangat cepat ke seluruh sistem pangan dunia.
Hal ini terjadi karena pertanian modern sangat bergantung pada bahan bakar, pupuk, dan transportasi. Selain itu, kebijakan larangan ekspor dan macetnya jalur transportasi juga memberikan dampak buruk yang parah di berbagai wilayah.
Hasil studi kemudian menemukan negara-negara yang cuma bergantung pada sedikit negara pemasok dan memiliki stok cadangan biji-bijian yang menipis sering kali menjadi korban terparah saat terjadi krisis global.
Cuaca ekstrem dan gagal panen bisa meningkatkan harga pangan sebesar 50 hingga 100 persen di beberapa negara, tergantung pada seberapa rapuh dan seberapa bervariasi sistem pangan yang mereka miliki.
Namun kebalikannya, negara-negara yang punya banyak variasi negara pemasok dan jaringan perdagangan yang fleksibel terbukti lebih mampu mencari penjual pengganti dan meredam dampak buruk akibat gagal panen tersebut.
"Tidak ada satu negara pun yang bisa membangun benteng pertahanan yang benar-benar aman dari guncangan pangan global. Memproduksi semua makanan di dalam wilayah sendiri itu tidak mungkin dilakukan oleh banyak negara, dan justru membuat mereka pasrah pada ketidakpastian cuaca di negaranya," papar Jasper Verschuur, penulis utama sekaligus Peneliti Rekanan di Institut Perubahan Lingkungan, Universitas Oxford.
"Negara-negara yang punya banyak variasi negara pemasok, punya tabungan makanan, dan jaringan dagang yang fleksibel terbukti jauh lebih siap saat krisis melanda," terangnya.
Profesor Jim Hall, Direktur Inisiatif Ketahanan Sistemik Oxford Martin di Universitas Oxford menambahkan bahwa bahaya yang sebenarnya muncul ketika berbagai bencana terjadi secara bersamaan.
Baca juga: Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
"Gagal panen, perang, atau lonjakan harga pupuk sekarang bisa menyebar dengan sangat cepat melalui jaringan perdagangan global dan menaikkan harga makanan jauh melampaui negara tempat kekacauan itu dimulai. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak makanan yang bisa dihasilkan oleh suatu negara, melainkan seberapa siap negara tersebut menghadapi ketidakpastian," katanya.
Dalam studinya, peneliti menekankan pentingnya melakukan uji ketahanan (stress-testing) pada sistem pangan dunia. Lewat penelitian ini, para ahli berhasil membuat sebuah simulasi yang bisa digunakan untuk menganalisis berbagai macam bencana yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Dalam skenario bencana gabungan yang paling parah yaitu ketika gagal panen terjadi bersamaan dengan perang, macetnya jalur perdagangan, dan krisis energi hampir seluruh negara di dunia mengalami kerugian ketahanan pangan di waktu yang sama, meskipun dampak yang dirasakan berbeda-beda di setiap tempat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya