Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan BNEF: Perdagangan Energi Bersih Global Tembus Rp 8.564 Triliun

Kompas.com, 29 Mei 2026, 14:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Perdagangan energi bersih global terus meluas pada tahun 2025 hingga mencapai angka Rp8.564 triliun. Padahal, pasar global saat ini sedang ditekan oleh aturan tarif, ketegangan politik antarnegara, serta perubahan kebijakan industri, menurut laporan terbaru dari BloombergNEF.

Melansir Know ESG, Kamis (28/5/2026) temuan yang diterbitkan dalam laporan Energy Transition Supply Chains 2026 ini menunjukkan bahwa pengiriman produk-produk utama pendukung transisi energi tersebut naik sebesar 1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatannya memang tipis namun kenaikan ini menandakan adanya pemulihan setelah sempat anjlok sebesar 7 persen pada periode tahun 2023 hingga 2024 lalu.

Selain itu meskipun pemerintah Amerika Serikat kembali memberlakukan dan mengubah aturan tarif pada beberapa sektor teknologi bersih, serta adanya ketidakpastian kebijakan di wilayah lain, perdagangan antarnegara untuk peralatan tenaga surya, baterai, dan kendaraan listrik terbukti jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Bagi pemerintah dan perusahaan manufaktur, tren ini menunjukkan adanya perubahan besar yang mendasar yakni rantai pasok energi bersih kini bukan lagi sekadar bisnis sampingan, melainkan sudah menjadi inti dari strategi perdagangan, keamanan energi, serta perencanaan industri suatu negara.

Baca juga: Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih

Keamanan energi dorong lonjakan permintaan

BloombergNEF mencatat bahwa jalur pasokan dunia kini sedang berubah akibat meningkatnya risiko konflik politik antarnegara dan tidak stabilnya harga bahan bakar fosil.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah telah membuat harga minyak dan gas melonjak naik, sehingga menambah beban bagi negara-negara di Asia dan Afrika yang sangat bergantung pada barang impor.

Di banyak negara tersebut, mahalnya biaya energi ini justru mempercepat peralihan masyarakat untuk menggunakan alternatif yang lebih bersih, seperti tenaga surya, kendaraan listrik, dan baterai penyimpanan daya.

Pola sejarah mendukung tren ini. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar terbukti selalu lebih cepat beralih ke teknologi bersih setiap kali terjadi lonjakan harga bahan bakar fosil.

Contohnya Pakistan. Setelah harga bahan bakar dunia melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina, impor panel surya di negara tersebut langsung melonjak tajam sebesar 189 persen pada tahun 2022 hingga mencapai 1 miliar Dolar As atau sekitar Rp17,87 triliun.

Pada tahun 2025, pemasangan panel surya skala kecil di sana mencetak rekor baru hingga mencapai 18,3 GW. Hal ini didorong oleh mahalnya tarif listrik, tingginya biaya impor gas alam cair (LNG), serta pemadaman listrik yang sering terjadi berulang kali.

“Karena konflik di Timur Tengah masih terus berlanjut, banyak negara yang kini melipatgandakan upaya mereka dalam memasang teknologi bersih untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi mereka,” kata Antoine Vagneur-Jones, kepala bagian perdagangan dan rantai pasok di BloombergNEF.

Ketidakseimbangan pasokan energi bersih

Meskipun permintaan terus meningkat, produksi teknologi bersih saat ini masih mengalami kelebihan pasokan yang sangat besar. BloombergNEF memperkirakan bahwa kapasitas produksi global sekarang melebihi jumlah permintaan hingga lebih dari 200 persen di seluruh rantai pasok energi bersih.

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

Ketidakseimbangan ini sebagian besar dipicu oleh investasi besar-besaran di China, tetapi pusat-pusat produksi baru juga mulai bermunculan di Asia Tenggara, India, Turki, Mesir, dan Etiopia.

Kelebihan pasokan ini sangat terlihat jelas pada panel surya, baterai, dan peralatan turbin angin. Meskipun situasi ini menguntungkan para pembeli karena harga barang menjadi lebih murah, hal ini memperkecil keuntungan bagi pihak pabrik dan memperlambat laju penurunan harga ke depannya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau