KOMPAS.com -Tahun 2025 dinobatkan sebagai tahun di mana kebakaran hutan menjadi bencana yang paling banyak menelan biaya dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya dalam sejarah.
Melansir Independent, Senin (1/6/2026) kebakaran hutan menyumbang 38 persen dari seluruh kerugian akibat bencana alam yang diasuransikan di seluruh dunia pada tahun 2025. Jumlah ini lebih besar daripada gabungan kerugian akibat badai topan, gempa bumi, dan banjir.
Padahal, total luas lahan yang terbakar sebenarnya merupakan yang terendah kedua sejak pencatatan dimulai pada tahun 2002, dan berada 16 persen di bawah angka rata-rata jangka panjang.
Para peneliti mengatakan ini menunjukkan adanya pola baru dalam kebakaran hutan.
Masalah utamanya bukan lagi soal seberapa banyak jumlah titik api di dunia, melainkan karena api sekarang langsung menyerang area yang banyak ditinggali oleh manusia dengan waktu yang sangat cepat dan kobaran yang jauh lebih ganas.
“Tahun 2025 menunjukkan bahwa tahun yang 'sepi' dari kebakaran secara global pun masih bisa sangat menghancurkan,” kata Dr. Matthew Jones dari Tyndall Centre for Climate Change Research di University of East Anglia, yang memimpin studi tersebut.
Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
“Kita melihat adanya ketidaksesuaian yang semakin nyata antara total luas lahan yang terbakar dengan dampak yang dirasakan di dunia nyata, di mana tingkat bahaya kini lebih ditentukan oleh lokasi kebakaran, kekuatan api, dan seberapa besar wilayah tersebut terpapar,” katanya lagi.
Sebuah studi baru menemukan bahwa kebakaran yang sangat parah di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Eropa telah menewaskan sekitar 90 orang dan memaksa sekitar 300.000 orang untuk mengungsi.
Sementara itu bencana tunggal yang paling mahal pada tahun 2025 adalah kebakaran Palisades dan Eaton, yang melanda wilayah Los Angeles pada Januari 2025. Dipicu oleh angin Santa Ana yang sangat kencang dan tanaman yang sangat kering, kebakaran tersebut menghanguskan lebih dari 20.000 hektare lahan, menewaskan 31 orang secara langsung, menghancurkan hampir 12.000 rumah, dan memaksa sekitar 150.000 orang untuk mengungsi.
Paparan asapnya berdampak pada lebih dari 10 juta orang, dengan tingkat polusi mencapai hampir 20 kali lipat dari batas aman harian yang ditetapkan oleh WHO untuk partikel halus. Partikel halus ini adalah serbuk kotoran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.
Total kerugian diperkirakan mencapai 140 miliar dolar AS (sekitar Rp2.497 triliun), dengan kerugian yang ditanggung asuransi mendekati 40 miliar dolar AS (sekitar Rp713,4 triliun). Hal ini menjadikannya bencana alam termahal kelima dalam sejarah yang pernah tercatat.
Dua bulan kemudian, Korea Selatan mencatat rekor bencana kebakaran hutan terbesar dan paling mematikan dalam sejarah mereka. Suhu panas yang ekstrem, kondisi alam yang kering, serta tiupan angin kencang memicu kebakaran yang menghanguskan lebih dari 100.000 hektare lahan, menewaskan 32 orang, dan membuat puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.
Sebuah studi menemukan bahwa kondisi alam yang memicu kebakaran ini berpeluang terjadi dua kali lebih besar akibat adanya perubahan iklim.
Sementara itu di Eropa, kekeringan parah dan gelombang panas yang terjadi berulang kali memicu kebakaran besar di Spanyol, Portugal, Yunani, Turki, Siprus, dan Prancis selama musim panas tahun 2025. Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 28 orang dan memaksa 120.000 orang untuk mengungsi.
"Kebakaran hutan mematikan akibat ulah manusia di California, Eropa, dan Korea Selatan pada tahun yang sama menunjukkan betapa cepatnya perubahan iklim menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya kebakaran hutan ekstrem di berbagai wilayah dan musim,” papar Prof. Crystal Kolden dari University of California, Merced, salah satu penulis studi tersebut.
“Terjadinya beberapa kebakaran hebat secara bersamaan adalah masalah yang sangat besar, karena hal ini menghambat negara-negara untuk saling berbagi bantuan dan membuat lebih banyak warga sipil terancam bahaya. Sayangnya, prediksi kebakaran di masa depan menunjukkan bahwa jenis bencana seperti ini akan terus meningkat,” terangnya lagi.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Earth and Environment tersebut juga menemukan bahwa total emisi karbon akibat kebakaran hutan mengalami penurunan pada tahun 2025 menjadi 11 miliar ton CO2, yang merupakan angka terendah ketiga sejak tahun 2002.
Namun, terlepas dari banyaknya berita tentang kebakaran hutan di Eropa, Asia, dan Amerika Utara, Afrika sebenarnya mengalami kerusakan alam yang jauh berkali-kali lipat lebih parah akibat kebakaran.
Baca juga: Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Data satelit dari Global Wildfire Information System yang didukung oleh NASA dan lembaga pengamat Copernicus milik Uni Eropa menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sekitar 7,3 persen wilayah daratan Afrika hangus terbakar, dibandingkan dengan hanya 0,6 persen di Eropa dan Amerika Serikat.
Sementara negara-negara Barat meningkatkan bantuan satu sama lain untuk menghadapi kebakaran akibat perubahan iklim, program bantuan luar negeri yang mendukung upaya pemadaman kebakaran di negara-negara Afrika justru dipotong drastis pada tahun 2025 dan diperkirakan akan berlanjut tahun ini.
Para ahli memperingatkan bahwa hal ini bisa membawa dampak yang sangat menghancurkan bagi negara-negara yang rawan kebakaran hutan.
Dr. Jones mengatakan kebakaran hutan tahun 2025 menunjukkan bahwa tanpa tindakan tegas masyarakat akan terus menghadapi peningkatan risiko manusia, ekonomi, dan lingkungan di era kebakaran yang lebih ekstrem.
Para peneliti pun menyerukan pengurangan emisi bahan bakar fosil secara cepat untuk membatasi pemanasan lebih lanjut, bersamaan dengan adaptasi yang lebih kuat, termasuk pengelolaan vegetasi yang proaktif, infrastruktur yang tangguh, dan perencanaan evakuasi yang sesuai dengan lanskap yang semakin rawan kebakaran.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya