Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir

Kompas.com, 3 Juni 2026, 18:53 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banjir bandang di wilayah ibukota Malaysia, Kuala Lumpur kerap melumpuhkan jalan raya dan menenggelamkan kendaraan usai beberapa jam diguyur hujan deras.

Banjir bandang menunjukkan Kuala Lumpur kewalahan menghadapi krisis iklim, yang menuntutnya beralih ke perencanaan kota berbasis alam seiring perluasan bangunan beton melampaui laju sistem drainase tradisonal.

"Kuala Lumpur (perlu) memperbarui pertahanan karena curah hujan tahunan semakin melampaui batas yang mampu ditangani oleh sebagian besar infrastruktur penanggulangan banjir di kota tersebut," ujar Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh, dilansir dari The Star Malaysia, dikutip Rabu (3/6/2026).

Baca juga: BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas

Dia menyatakan Kuala Lumpur perlu lebih bisa beradaptasi dengan krisis iklim, yang mana salah satunya dengan beralih ke pendekatan 'kota spons'.

Untuk benar-benar menjadi kota yang tangguh, dibutuhkan lebih dari sekadar saluran pembuangan yang lebih besar, sistem penyimpanan bawah tanah, dan peningkatan infrastruktur pengendalian banjir. Namun, juga perlu perlindungan dan pembangunan kembali sistem alam yang menyerap panas dan air sejak awal.

Pendekatan dalam mitigasi banjir di Kuala Lumpur masih berpusat pada saluran drainase, gorong-gorong, pompa, dan tangki penampungan. Meski memang diperlukan, pendekatan mitigasi banjir tersebut hanya menyelesaikan sebagian masalah saja. Padahal, kemampuan suatu kota untuk mengelola air hujan tidak hanya bergantung pada kecepatan air dialirkan, melainkan pula seberapa banyak lingkungan perkotaan dapat menyerapnya sejak awal.

Misalnya, di seluruh wilayah Lembah Klang yang terjadi banjir bandang, kapasitas lingkungan kota menyerap air hujan terus berkurang, dengan permukaan alami semakin beralih menjadi jalan raya, trotoar, dan pembangunan lainnya. Saluran air perkotaan semakin banyak yang dibuat menjadi kanal seiring dengan terfragmentasinya ruang hijau dan ditebangnya pohon-pohon besar.

Petaling Jaya

Ahli manajemen banjir dari dari Universiti Sains Malaysia, Chan Ngai Weng mengusulkan Petaling Jaya mengadopsi sistem 'kota spons' untuk mencegah banjir bandang. Kota ini juga tidak dapat lagi bergantung pada sistem drainase lama, terutama karena curah hujan yang semakin tinggi dan berkurangnya area hijau.

“Saluran pembuangan Petaling Jaya dibangun di masa lalu untuk mengakomodasi iklim dan cuaca saat itu. Saluran tersebut tidak mampu menangani badai dan hujan ekstrem saat ini yang disebabkan oleh perubahan iklim,” tutur Weng, dilansir dari Free Malaysia Today.

Petaling Jaya membutuhkan lebih banyak langkah-langkah untuk bergerak menjadi 'kota spons', seperti membangun taman, kebun hujan, kolam, dan trotoar berpori yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.

“Pembangunan lokal harus mengurangi permukaan beraspal di Petaling Jaya dan Shah Alam sebanyak mungkin, dan meningkatkan permukaan hijau dan taman, menetapkan kolam dan danau, memulihkan sungai yang rusak, dan menanam kembali pohon-pohon di tepi sungai,” ucapnya.

Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik

Menurut Weng, penggunaan beton yang meluas telah mengubah cara air hujan mengalir di Petaling Jaya. Area yang dulunya menyerap air hujan, kini telah berubah menjadi jalan raya, bangunan, dan ruang beraspal.

Kondisi ini menyebabkan mayoritas air hujan serta limpasan permukaan masuk ke saluran pembuangan dan sungai dalam hitungan menit, sehingga menyebabkan serting terjadi banjir bandang.

Ia memperkirakan, perluasan penggunaan beton sebesar 40 persen di Petaling Jaya akan meningkatkan limpasan air huja hingga 190 persen. Ini diperparah dengan aliran air yang tersumbat lumpur, sedimen, dan sampah akibat perawatan yang buruk.

Langkah-langkah jangka pendek, seperti membersihkan saluran air yang tersumbat, menggunakan pompa portabel, dan memasang penghalang di titik-titik rawan banjir, memang dapat meminimalisir dampak banjir. Namun, kata dia, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan masalah banjir di Petaling Jaya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau