KOMPAS.com - Banjir bandang di wilayah ibukota Malaysia, Kuala Lumpur kerap melumpuhkan jalan raya dan menenggelamkan kendaraan usai beberapa jam diguyur hujan deras.
Banjir bandang menunjukkan Kuala Lumpur kewalahan menghadapi krisis iklim, yang menuntutnya beralih ke perencanaan kota berbasis alam seiring perluasan bangunan beton melampaui laju sistem drainase tradisonal.
"Kuala Lumpur (perlu) memperbarui pertahanan karena curah hujan tahunan semakin melampaui batas yang mampu ditangani oleh sebagian besar infrastruktur penanggulangan banjir di kota tersebut," ujar Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh, dilansir dari The Star Malaysia, dikutip Rabu (3/6/2026).
Baca juga: BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
Dia menyatakan Kuala Lumpur perlu lebih bisa beradaptasi dengan krisis iklim, yang mana salah satunya dengan beralih ke pendekatan 'kota spons'.
Untuk benar-benar menjadi kota yang tangguh, dibutuhkan lebih dari sekadar saluran pembuangan yang lebih besar, sistem penyimpanan bawah tanah, dan peningkatan infrastruktur pengendalian banjir. Namun, juga perlu perlindungan dan pembangunan kembali sistem alam yang menyerap panas dan air sejak awal.
Pendekatan dalam mitigasi banjir di Kuala Lumpur masih berpusat pada saluran drainase, gorong-gorong, pompa, dan tangki penampungan. Meski memang diperlukan, pendekatan mitigasi banjir tersebut hanya menyelesaikan sebagian masalah saja. Padahal, kemampuan suatu kota untuk mengelola air hujan tidak hanya bergantung pada kecepatan air dialirkan, melainkan pula seberapa banyak lingkungan perkotaan dapat menyerapnya sejak awal.
Misalnya, di seluruh wilayah Lembah Klang yang terjadi banjir bandang, kapasitas lingkungan kota menyerap air hujan terus berkurang, dengan permukaan alami semakin beralih menjadi jalan raya, trotoar, dan pembangunan lainnya. Saluran air perkotaan semakin banyak yang dibuat menjadi kanal seiring dengan terfragmentasinya ruang hijau dan ditebangnya pohon-pohon besar.
Ahli manajemen banjir dari dari Universiti Sains Malaysia, Chan Ngai Weng mengusulkan Petaling Jaya mengadopsi sistem 'kota spons' untuk mencegah banjir bandang. Kota ini juga tidak dapat lagi bergantung pada sistem drainase lama, terutama karena curah hujan yang semakin tinggi dan berkurangnya area hijau.
“Saluran pembuangan Petaling Jaya dibangun di masa lalu untuk mengakomodasi iklim dan cuaca saat itu. Saluran tersebut tidak mampu menangani badai dan hujan ekstrem saat ini yang disebabkan oleh perubahan iklim,” tutur Weng, dilansir dari Free Malaysia Today.
Petaling Jaya membutuhkan lebih banyak langkah-langkah untuk bergerak menjadi 'kota spons', seperti membangun taman, kebun hujan, kolam, dan trotoar berpori yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.
“Pembangunan lokal harus mengurangi permukaan beraspal di Petaling Jaya dan Shah Alam sebanyak mungkin, dan meningkatkan permukaan hijau dan taman, menetapkan kolam dan danau, memulihkan sungai yang rusak, dan menanam kembali pohon-pohon di tepi sungai,” ucapnya.
Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Menurut Weng, penggunaan beton yang meluas telah mengubah cara air hujan mengalir di Petaling Jaya. Area yang dulunya menyerap air hujan, kini telah berubah menjadi jalan raya, bangunan, dan ruang beraspal.
Kondisi ini menyebabkan mayoritas air hujan serta limpasan permukaan masuk ke saluran pembuangan dan sungai dalam hitungan menit, sehingga menyebabkan serting terjadi banjir bandang.
Ia memperkirakan, perluasan penggunaan beton sebesar 40 persen di Petaling Jaya akan meningkatkan limpasan air huja hingga 190 persen. Ini diperparah dengan aliran air yang tersumbat lumpur, sedimen, dan sampah akibat perawatan yang buruk.
Langkah-langkah jangka pendek, seperti membersihkan saluran air yang tersumbat, menggunakan pompa portabel, dan memasang penghalang di titik-titik rawan banjir, memang dapat meminimalisir dampak banjir. Namun, kata dia, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan masalah banjir di Petaling Jaya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya