KOMPAS.com - PR3: The Global Alliance to Advance Reuse memperkenalkan simbol baru untuk kemasan dan sistem yang bisa dipakai ulang (reuse).
Melansir Edie, Rabu (3/6/2026) simbol baru ini nantinya akan membantu mengenali kemasan dan sistem yang bisa dipakai ulang. Tidak hanya akan ditempel di barang-barang kecil, penggunaannya sangat luas mulai dari gelas, botol, produk pembersih dan kendaraan listrik.
Simbol atau logo ini sendiri merupakah hasil dari kompetisi desain berskala global bernama 'Rebrand Reuse' yang digelar pada pertengahan tahun 2025 lalu.
Kompetisi tersebut berhasil mengumpulkan total 236 desain dari berbagai penjuru dunia. Untuk menentukan satu pemenang utama, desain-desain tersebut harus melewati tiga tahap ujian berat.
Pertama dinilai oleh pakar internasional, diuji langsung ke masyarakat untuk melihat apakah logonya mudah dipahami, serta diperiksa dari sisi hukum agar tidak meniru logo lain yang sudah ada.
Baca juga: Program Reuse Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
Simbol ini akan mulai diperkenalkan di beberapa lokasi di berbagai negara.
Kabar baiknya adalah Indonesia termasuk menjadi salah satu negara yang menjadi tempat peluncuran dan uji coba pertama penggunaan simbol baru ini di masyarakat. Selain itu Australia, Kanada, Mesir, Kolombia, Inggris, Amerika Serikat serta Uni Emirat Arab juga menjadi negara-negara yang terpilih.
Lebih lanjut, penggunaan simbol ini terikat pada syarat-syarat khusus dalam Standar Penandaan & Label PR3, yang akan diterbitkan oleh Institut Standar Nasional Amerika (ANSI).
Artinya pabrik atau perusahaan tidak bisa seenaknya mencetak simbol ini. Simbol hanya sah ditempel jika perusahaan tersebut terbukti memiliki siklus kerja yang lengkap dari hulu ke hilir.
Dengan kata lain, perusahaan harus punya sistem untuk mengumpulkan kembali wadah atau kemasan kosong yang sudah dipakai konsumen, mengangkutnya dengan aman serta memilah wadah yang masih bagus dan yang rusak.
PR3 sendiri merupakan sebuah koalisi dari berbagai perusahaan, LSM, pemerintah, dan pelaku bisnis pakai ulang yang bertujuan untuk membantu mengatasi krisis iklim.
Menurut PR3, tindakan mendaur ulang saja tidak akan cukup untuk mengatasi besarnya masalah sampah di dunia saat ini.
Saat ini, hanya 9 persen sampah plastik yang benar-benar didaur ulang, sementara sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar di mesin pembakar sampah.
Penggunaan kembali kemasan dalam skala besar dapat membantu memangkas produksi kemasan sekali pakai hingga 90 persen, serta mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkannya sekitar 80 persen.
Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat
Berdasarkan PR3, hal ini akan memberikan dampak yang sama besarnya terhadap perubahan iklim seperti halnya menghentikan seluruh penerbangan pesawat di dunia.
"Daur ulang tidak menyelesaikan krisis kemasan dan sampah. Daur ulang itu sebenarnya masih termasuk sistem sekali pakai karena wadahnya harus dihancurkan lalu dibuat ulang dari awal lagi," kata Amy Larkin, salah satu pendiri & direktur PR3.
Sistem pakai ulang menjaga agar sebuah kemasan tetap berputar, dari 10 hingga 100 kali pemakaian, sebelum akhirnya wadah tersebut didaur ulang dan dibuat ulang untuk dipakai berkali-kali lagi. Ini adalah jalan kita untuk menciptakan dunia tanpa sampah buangan.
"Agar sistem pakai ulang ini berhasil, masyarakat butuh tanda yang jelas dan konsisten, yang membuat mereka ikut serta secara spontan dan merasa nyaman," papar Marco Cimatti, mantan direktur inovasi desain di PepsiCo sekaligus juri kompetisi global Rebrand Reuse.
"Simbol baru ini menciptakan bahasa visual yang seragam untuk semua sistem pakai ulang. Didesain dengan sangat sederhana namun tegas, simbol ini menyeimbangkan keunikan dengan petunjuk visual yang kuat agar masyarakat mau memakai ulang kemasan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya