Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang

Kompas.com, 4 Juni 2026, 19:51 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - PR3: The Global Alliance to Advance Reuse memperkenalkan simbol baru untuk kemasan dan sistem yang bisa dipakai ulang (reuse).

Melansir Edie, Rabu (3/6/2026) simbol baru ini nantinya akan membantu mengenali kemasan dan sistem yang bisa dipakai ulang. Tidak hanya akan ditempel di barang-barang kecil, penggunaannya sangat luas mulai dari gelas, botol, produk pembersih dan kendaraan listrik.

Simbol atau logo ini sendiri merupakah hasil dari kompetisi desain berskala global bernama 'Rebrand Reuse' yang digelar pada pertengahan tahun 2025 lalu.

Kompetisi tersebut berhasil mengumpulkan total 236 desain dari berbagai penjuru dunia. Untuk menentukan satu pemenang utama, desain-desain tersebut harus melewati tiga tahap ujian berat.

Pertama dinilai oleh pakar internasional, diuji langsung ke masyarakat untuk melihat apakah logonya mudah dipahami, serta diperiksa dari sisi hukum agar tidak meniru logo lain yang sudah ada.

Baca juga: Program Reuse Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara

Simbol ini akan mulai diperkenalkan di beberapa lokasi di berbagai negara.

Kabar baiknya adalah Indonesia termasuk menjadi salah satu negara yang menjadi tempat peluncuran dan uji coba pertama penggunaan simbol baru ini di masyarakat. Selain itu Australia, Kanada, Mesir, Kolombia, Inggris, Amerika Serikat serta Uni Emirat Arab juga menjadi negara-negara yang terpilih.

Tak asal tempel

Lebih lanjut, penggunaan simbol ini terikat pada syarat-syarat khusus dalam Standar Penandaan & Label PR3, yang akan diterbitkan oleh Institut Standar Nasional Amerika (ANSI).

Artinya pabrik atau perusahaan tidak bisa seenaknya mencetak simbol ini. Simbol hanya sah ditempel jika perusahaan tersebut terbukti memiliki siklus kerja yang lengkap dari hulu ke hilir.

Dengan kata lain, perusahaan harus punya sistem untuk mengumpulkan kembali wadah atau kemasan kosong yang sudah dipakai konsumen, mengangkutnya dengan aman serta memilah wadah yang masih bagus dan yang rusak.

PR3 sendiri merupakan sebuah koalisi dari berbagai perusahaan, LSM, pemerintah, dan pelaku bisnis pakai ulang yang bertujuan untuk membantu mengatasi krisis iklim.

Menurut PR3, tindakan mendaur ulang saja tidak akan cukup untuk mengatasi besarnya masalah sampah di dunia saat ini.

Saat ini, hanya 9 persen sampah plastik yang benar-benar didaur ulang, sementara sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar di mesin pembakar sampah.

Penggunaan kembali kemasan dalam skala besar dapat membantu memangkas produksi kemasan sekali pakai hingga 90 persen, serta mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkannya sekitar 80 persen.

Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat

Berdasarkan PR3, hal ini akan memberikan dampak yang sama besarnya terhadap perubahan iklim seperti halnya menghentikan seluruh penerbangan pesawat di dunia.

"Daur ulang tidak menyelesaikan krisis kemasan dan sampah. Daur ulang itu sebenarnya masih termasuk sistem sekali pakai karena wadahnya harus dihancurkan lalu dibuat ulang dari awal lagi," kata Amy Larkin, salah satu pendiri & direktur PR3.

Sistem pakai ulang menjaga agar sebuah kemasan tetap berputar, dari 10 hingga 100 kali pemakaian, sebelum akhirnya wadah tersebut didaur ulang dan dibuat ulang untuk dipakai berkali-kali lagi. Ini adalah jalan kita untuk menciptakan dunia tanpa sampah buangan.

"Agar sistem pakai ulang ini berhasil, masyarakat butuh tanda yang jelas dan konsisten, yang membuat mereka ikut serta secara spontan dan merasa nyaman," papar Marco Cimatti, mantan direktur inovasi desain di PepsiCo sekaligus juri kompetisi global Rebrand Reuse.

"Simbol baru ini menciptakan bahasa visual yang seragam untuk semua sistem pakai ulang. Didesain dengan sangat sederhana namun tegas, simbol ini menyeimbangkan keunikan dengan petunjuk visual yang kuat agar masyarakat mau memakai ulang kemasan," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau