Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya

Kompas.com, 5 Juni 2026, 19:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pariwisata berkelanjutan melalui pengembangan area rendah emisi di kawasan warisan budaya dapat berkontribusi terhadap pencapaian target iklim nasional dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC).

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Haruki Agustina mengatakan, dekarbonisasi melalui area rendah emisi di kawasan herritage dilakukan dengan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) pada subsektor transportasi.

"Ini mungkin bisa dijadikan perencanaan-perencanaan di Yogyakarta dalam konteks subsektor transportasi, sehingga orang tidak menggunakan mobil pada saat di (area rendah emisi di kawasan heritage di Yogyakarta," ujar Haruki dalam webinar Kawasan Rendah Emisi di Kawasan Heritage, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun

Selain melarang penggunaan kendaraan bermotor, kata dia, pengembangan area rendah emisi di kawasan heritage perlu diiringi dengan pembangunan transportasi umum. Namun, transportasi umum untuk peningkatan efisiensi harus tetap mempertimbangkan upaya dekarbonisasi.

Dengan demikian, dekarbonisasi subsektor transportasi menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan rendah karbon untuk daerah-daerah berorientasi pariwisata. Penurunan emisi GRK dari subsektor transportasi akan turut meningkatkan kualitas hidup daerah-daerah tujuan pariwisata.

Berdasarkan data KLH, potensi pengurangan emisi GRK terbesar pada area rendah emisi di kawasan heritage, seperti di Yogyakarta, berasal dari subsektor transportasi, dengan kurang lebih 93 persen untuk kendaraan berbasis darat.

"Memang di Yogyakarta ini pada saat puncak musim, maka akan padat sekali dengan orang hadir untuk menikmati keindahan Yogyakarta. Banyak orang datang dengan berkendara karena aksesnya cukup mudah, kalau dari Jakarta sekitar 5 jam ya, maka orang lebih mudah menggunakan transportasi, sehingga ini salah satu contoh bagaimana nanti aksi-aksi itu didorong kepada sumbernya," tutur Haruki.

Sampah organik

Di masa puncak musim untuk kunjungan wisatawan, volume sampah juga akan meningkat, terutama limbah organik yang bisa menghasilkan emisi GRK metana (CH4). Oleh karena itu, area rendah emisi di kawasan heritage perlu juga penguatan tata kelola persampahan. Salah satunya, kebijakan pemerintah daerah untuk memastikan wisatawan tidak membuang sampah sembarangan.

Penurunan emisi GRK yang melampaui target iklim nasional dapat dikompensasikan menjadi nilai ekonomi karbon (NEK), di mana daerah bisa memperoleh insentif finansial melalui berbagai skema. Berdasarkan Perpres 110/2025, NEK bukan hanya ditetapkan dalam konteks untuk ketaatan SNDC, melainkan pula berbagai kemungkinan dukungan pembangunan berkelanjutan melalui pendanaan berbasis karbon dan investasi hijau.

"Ada peluang investasi ya, misalkan dalam bentuk hibah dari donor-donor yang memang tertarik dalam konteks heritage. Ada (juga) potensi perdagangan karbon kalau misalkan tadi ada ekses berbasis kinerja. Maka, nanti ada NEK, sehingga memberikan manfaat bagi provinsi Yogyakarta," ucapnya.

Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

Menurut Haruki, terdapat beberapa manfaat tambahan dari pengembangan area rendah emisi di kawasan heritage. Pertama, melestarikan melestarikan nilai budaya, sejarah, dan karakter kawasan pusaka. Kedua, meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan melalui pengurangan polusi udara dan kebisingan, serta bersih dari sampah.

Ketiga, menciptakan ruang publik yang lebih nyaman bagi masyarakat dan wisatawan. Keempat, mendukung pencapaian target penurunan emisi GRK sektor energi, terutama dari subsektor transportasi. Kelima, meningkatkan daya tarik wisata.

"Pastinya kalau kota bersih ya, maka orang akan datang pastinya ya. Lalu, nyaman, udaranya bersih, tata kelolanya bersih tidak ada sampah. Nah, ini maka akan memberikan kenyamanan ataupun daya tarik wisata berbasis berkelanjutan atau kita bilang sustainable tourism," ujar Haruki.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau