Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan

Kompas.com, 8 Juni 2026, 17:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Ketika suhu melonjak sangat tinggi saat gelombang panas, banyak orang secara spontan mencari cara agar merasa nyaman. Misalnya saja dengan menyalakan kipas angin di sudut ruangan, minum air dingin dari kulkas, dan menutup gorden agar terhindar dari terik matahari siang.

Langkah-langkah sederhana ini bisa membuat hari yang sangat panas jadi lebih mudah dilewati. Namun, bagi miliaran orang di dunia, pilihan-pilihan nyaman seperti itu sama sekali tidak ada.

Di berbagai belahan dunia, banyak keluarga harus tinggal di rumah-rumah yang justru memerangkap panas, tidak punya aliran listrik yang stabil, dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Banyak pula dari mereka yang setiap hari harus tetap bekerja di luar ruangan di bawah terik matahari yang sangat menyengat. Seiring perubahan iklim yang membuat suhu bumi makin panas, kondisi ini memicu keadaan darurat kesehatan masyarakat yang terus memburuk.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability kini berhasil mengungkap data dan angka pasti dari tantangan masyarakat dunia menghadapi panas ekstrem ini.

Baca juga: Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya

Pendingin ruangan saja yang tak cukup

Melansir Earth, Sabtu (6/6/2026) para peneliti memperkirakan bahwa lebih dari dua miliar orang hidup dalam kondisi yang mereka sebut "kemiskinan pendingin". Artinya, mereka harus menghadapi suhu panas yang berbahaya tanpa punya cara yang aman atau murah untuk mendinginkan diri.

Temuan ini muncul di saat beberapa wilayah di Asia Selatan masih terus dilanda suhu panas ekstrem yang menembus di atas 45 derajat Celsius.

Suhu panas yang sangat parah ini memicu pertanyaan penting yang mendesak yakni siapa saja orang yang paling terancam bahaya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi mereka?

Anggapan yang paling mudah adalah orang-orang ini hanya butuh alat pendingin ruangan. Namun, para peneliti ingin langsung meluruskan pemikiran keliru tersebut.

"Kemiskinan pendingin atau yang kami sebut kemiskinan pendingin sistemik adalah kondisi di mana orang-orang terhalang untuk mendapatkan suhu tubuh yang aman. Jadi, masalahnya bukan cuma karena mereka tidak punya AC," kata Giacomo Falchetta, seorang ilmuwan di Pusat Perubahan Iklim Euro-Mediterania.

Membagi-bagikan AC gratis juga tidak akan menyelesaikan masalah. Alat AC memakan listrik dalam jumlah yang sangat besar dan bisa membuat jaringan listrik yang lemah langsung jeblok atau mati total.

"Kita sama sekali tidak bisa keluar dari krisis panas ini hanya dengan mengandalkan pasang AC di mana-mana," tambah aktivis iklim Harjeet Singh dari Yayasan Iklim Satat Sampada.

Kemiskinan memperburuk situasi

Jadi, jika masalahnya bukan karena tidak punya mesin AC, lalu apa masalah sebenarnya? Penelitian ini menunjukkan bahwa suhu panas jarang sekali mencelakai manusia jika berdiri sendiri.

Suhu panas baru menjadi sangat mematikan ketika bergabung dengan kemiskinan, rumah yang buruk, dan pelayanan publik yang lemah.

Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Aziza Mohamed, seorang profesor geografi manusia dan studi perkotaan di Universitas Kairo, mengatakan bahwa fakta ini mengubah cara kita dalam memandang cuaca panas.

"Bahaya yang sebenarnya tidak datang dari faktor iklim atau cuaca saja," katanya.

"Bahaya itu muncul akibat bergabungnya suhu panas, kemiskinan, kualitas rumah yang jelek, pelayanan kesehatan yang lemah, serta tidak adanya fasilitas umum yang memadai," terangnya lagi.

Bahaya pertama datang dari rumah itu sendiri. Rumah yang dibangun asal-asalan tidak akan melindungi dari panas. Rumah tersebut justru mengurung dan menyimpan panas di dalamnya.

Singh mencatat bahwa jutaan penduduk miskin di perkotaan tinggal di rumah beratap seng atau asbes. Atap jenis ini bisa membuat suhu di dalam ruangan melonjak hingga lima derajat lebih panas daripada suhu udara di luar rumah.

Ketika aliran listrik terus-menerus mati dan air bersih sulit didapat, sekadar untuk minum yang cukup dan menjaga tubuh tetap adem pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.

Bahaya kedua berkaitan dengan kesehatan. Ketika suhu panas yang ekstrem akhirnya membuat tubuh tidak kuat lagi menahan beban, keselamatan nyawa seseorang sering kali bergantung pada seberapa cepat ia mendapatkan pertolongan medis.

Di negara-negara yang jumlah kliniknya sangat sedikit atau letaknya sangat jauh, penyakit akibat kepanasan justru malah bisa berubah menjadi fatal dan berujung pada kematian.

Pekerjaan luar ruangan mengancam kesehatan

Bahaya lain berkaitan dengan pekerjaan. Para petani, kuli bangunan, dan pedagang kaki lima harus menghabiskan waktu berjam-jam di bawah terik matahari langsung, dan mereka tidak bisa kabur ke dalam ruangan yang sejuk.

Tubuh mereka juga harus berjuang keras karena suhu panas ini sering kali disertai dengan udara yang lembap. Kelembapan ini membuat keringat di tubuh sulit menguap, sehingga kulit tidak bisa mendinginkan diri secara alami.

Beban berat ini tidak ditanggung secara rata oleh semua orang. Para perempuan, anak-anak, lansia, kelompok minoritas, dan keluarga paling miskin adalah pihak yang paling terkena dampak paling parah.

Merekalah orang-orang yang paling sering terpaksa tinggal di rumah yang buruk, tidak mendapatkan layanan kesehatan dan informasi, serta tidak memiliki modal sisa sama sekali untuk melindungi diri mereka sendiri.

Baca juga: Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026

Setidaknya ada dua wilayah di dunia yang paling mencolok mengalami panas ekstrem, masing-masing karena alasan yang berbeda. Di Asia Selatan, gabungan antara udara panas yang lembap, jumlah pekerja lapangan yang sangat banyak, dan kebijakan pemerintah yang lemah membuat kehidupan di sana sangat berbahaya.

Singh menyebut wilayah ini berada di garis paling depan dalam krisis iklim karena harus menghadapi kombinasi mematikan antara posisi wilayah yang rapuh secara alamiah dan ketimpangan ekonomi yang mendalam.

Wilayah Afrika Sub-Sahara masuk ke dalam zona bahaya dengan cara yang berbeda, yaitu akibat runtuhnya atau hampir tidak adanya fasilitas umum yang mendasar.

Falchetta memperingatkan bahwa meskipun suhu panas di sana sebenarnya tidak terlalu ekstrem, hampir tidak adanya fasilitas pelindung sama sekali membuat peningkatan suhu sekecil apa pun akan langsung berubah menjadi bencana besar.

Solusi sederhana yang bisa diterapkan

Kabar baiknya adalah langkah-langkah sederhana dan murah terbukti berhasil.

Mengecat atap rumah dengan warna putih bisa membuat ruangan menjadi beberapa derajat lebih sejuk. Jerami dan tanah liat juga bisa menjadi bahan penahan panas yang murah.

Menanam pohon, memperbaiki kolam dan taman, serta membuka tempat pengungsian umum yang menyediakan air minum gratis dapat membantu mendinginkan seluruh lingkungan tanpa perlu menyalakan satu pun alat AC.

Pemerintah perlu mendukung ide-ide ini dengan hukum dan anggaran dana yang nyata, bukan sekadar janji manis. Namun, solusi terbaik ini pun sebenarnya hanya untuk mengulur waktu.

"Kita tidak bisa terus-menerus menyesuaikan diri menghadapi suhu panas ekstrem tanpa batas. Ada titik maksimal dalam menghadapi panas ekstrem ini," tambah Chandni Singh dari Institut Pemukiman Manusia India.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau