KOMPAS.com - Ketika suhu melonjak sangat tinggi saat gelombang panas, banyak orang secara spontan mencari cara agar merasa nyaman. Misalnya saja dengan menyalakan kipas angin di sudut ruangan, minum air dingin dari kulkas, dan menutup gorden agar terhindar dari terik matahari siang.
Langkah-langkah sederhana ini bisa membuat hari yang sangat panas jadi lebih mudah dilewati. Namun, bagi miliaran orang di dunia, pilihan-pilihan nyaman seperti itu sama sekali tidak ada.
Di berbagai belahan dunia, banyak keluarga harus tinggal di rumah-rumah yang justru memerangkap panas, tidak punya aliran listrik yang stabil, dan kesulitan mendapatkan air bersih.
Banyak pula dari mereka yang setiap hari harus tetap bekerja di luar ruangan di bawah terik matahari yang sangat menyengat. Seiring perubahan iklim yang membuat suhu bumi makin panas, kondisi ini memicu keadaan darurat kesehatan masyarakat yang terus memburuk.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability kini berhasil mengungkap data dan angka pasti dari tantangan masyarakat dunia menghadapi panas ekstrem ini.
Baca juga: Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya
Melansir Earth, Sabtu (6/6/2026) para peneliti memperkirakan bahwa lebih dari dua miliar orang hidup dalam kondisi yang mereka sebut "kemiskinan pendingin". Artinya, mereka harus menghadapi suhu panas yang berbahaya tanpa punya cara yang aman atau murah untuk mendinginkan diri.
Temuan ini muncul di saat beberapa wilayah di Asia Selatan masih terus dilanda suhu panas ekstrem yang menembus di atas 45 derajat Celsius.
Suhu panas yang sangat parah ini memicu pertanyaan penting yang mendesak yakni siapa saja orang yang paling terancam bahaya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi mereka?
Anggapan yang paling mudah adalah orang-orang ini hanya butuh alat pendingin ruangan. Namun, para peneliti ingin langsung meluruskan pemikiran keliru tersebut.
"Kemiskinan pendingin atau yang kami sebut kemiskinan pendingin sistemik adalah kondisi di mana orang-orang terhalang untuk mendapatkan suhu tubuh yang aman. Jadi, masalahnya bukan cuma karena mereka tidak punya AC," kata Giacomo Falchetta, seorang ilmuwan di Pusat Perubahan Iklim Euro-Mediterania.
Membagi-bagikan AC gratis juga tidak akan menyelesaikan masalah. Alat AC memakan listrik dalam jumlah yang sangat besar dan bisa membuat jaringan listrik yang lemah langsung jeblok atau mati total.
"Kita sama sekali tidak bisa keluar dari krisis panas ini hanya dengan mengandalkan pasang AC di mana-mana," tambah aktivis iklim Harjeet Singh dari Yayasan Iklim Satat Sampada.
Jadi, jika masalahnya bukan karena tidak punya mesin AC, lalu apa masalah sebenarnya? Penelitian ini menunjukkan bahwa suhu panas jarang sekali mencelakai manusia jika berdiri sendiri.
Suhu panas baru menjadi sangat mematikan ketika bergabung dengan kemiskinan, rumah yang buruk, dan pelayanan publik yang lemah.
Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Aziza Mohamed, seorang profesor geografi manusia dan studi perkotaan di Universitas Kairo, mengatakan bahwa fakta ini mengubah cara kita dalam memandang cuaca panas.
"Bahaya yang sebenarnya tidak datang dari faktor iklim atau cuaca saja," katanya.
"Bahaya itu muncul akibat bergabungnya suhu panas, kemiskinan, kualitas rumah yang jelek, pelayanan kesehatan yang lemah, serta tidak adanya fasilitas umum yang memadai," terangnya lagi.
Bahaya pertama datang dari rumah itu sendiri. Rumah yang dibangun asal-asalan tidak akan melindungi dari panas. Rumah tersebut justru mengurung dan menyimpan panas di dalamnya.
Singh mencatat bahwa jutaan penduduk miskin di perkotaan tinggal di rumah beratap seng atau asbes. Atap jenis ini bisa membuat suhu di dalam ruangan melonjak hingga lima derajat lebih panas daripada suhu udara di luar rumah.
Ketika aliran listrik terus-menerus mati dan air bersih sulit didapat, sekadar untuk minum yang cukup dan menjaga tubuh tetap adem pun menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
Bahaya kedua berkaitan dengan kesehatan. Ketika suhu panas yang ekstrem akhirnya membuat tubuh tidak kuat lagi menahan beban, keselamatan nyawa seseorang sering kali bergantung pada seberapa cepat ia mendapatkan pertolongan medis.
Di negara-negara yang jumlah kliniknya sangat sedikit atau letaknya sangat jauh, penyakit akibat kepanasan justru malah bisa berubah menjadi fatal dan berujung pada kematian.
Pekerjaan luar ruangan mengancam kesehatan
Bahaya lain berkaitan dengan pekerjaan. Para petani, kuli bangunan, dan pedagang kaki lima harus menghabiskan waktu berjam-jam di bawah terik matahari langsung, dan mereka tidak bisa kabur ke dalam ruangan yang sejuk.
Tubuh mereka juga harus berjuang keras karena suhu panas ini sering kali disertai dengan udara yang lembap. Kelembapan ini membuat keringat di tubuh sulit menguap, sehingga kulit tidak bisa mendinginkan diri secara alami.
Beban berat ini tidak ditanggung secara rata oleh semua orang. Para perempuan, anak-anak, lansia, kelompok minoritas, dan keluarga paling miskin adalah pihak yang paling terkena dampak paling parah.
Merekalah orang-orang yang paling sering terpaksa tinggal di rumah yang buruk, tidak mendapatkan layanan kesehatan dan informasi, serta tidak memiliki modal sisa sama sekali untuk melindungi diri mereka sendiri.
Baca juga: Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026
Setidaknya ada dua wilayah di dunia yang paling mencolok mengalami panas ekstrem, masing-masing karena alasan yang berbeda. Di Asia Selatan, gabungan antara udara panas yang lembap, jumlah pekerja lapangan yang sangat banyak, dan kebijakan pemerintah yang lemah membuat kehidupan di sana sangat berbahaya.
Singh menyebut wilayah ini berada di garis paling depan dalam krisis iklim karena harus menghadapi kombinasi mematikan antara posisi wilayah yang rapuh secara alamiah dan ketimpangan ekonomi yang mendalam.
Wilayah Afrika Sub-Sahara masuk ke dalam zona bahaya dengan cara yang berbeda, yaitu akibat runtuhnya atau hampir tidak adanya fasilitas umum yang mendasar.
Falchetta memperingatkan bahwa meskipun suhu panas di sana sebenarnya tidak terlalu ekstrem, hampir tidak adanya fasilitas pelindung sama sekali membuat peningkatan suhu sekecil apa pun akan langsung berubah menjadi bencana besar.
Kabar baiknya adalah langkah-langkah sederhana dan murah terbukti berhasil.
Mengecat atap rumah dengan warna putih bisa membuat ruangan menjadi beberapa derajat lebih sejuk. Jerami dan tanah liat juga bisa menjadi bahan penahan panas yang murah.
Menanam pohon, memperbaiki kolam dan taman, serta membuka tempat pengungsian umum yang menyediakan air minum gratis dapat membantu mendinginkan seluruh lingkungan tanpa perlu menyalakan satu pun alat AC.
Pemerintah perlu mendukung ide-ide ini dengan hukum dan anggaran dana yang nyata, bukan sekadar janji manis. Namun, solusi terbaik ini pun sebenarnya hanya untuk mengulur waktu.
"Kita tidak bisa terus-menerus menyesuaikan diri menghadapi suhu panas ekstrem tanpa batas. Ada titik maksimal dalam menghadapi panas ekstrem ini," tambah Chandni Singh dari Institut Pemukiman Manusia India.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya