Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025

Kompas.com, 10 Juni 2026, 19:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Laporan terbaru Banking on Climate Chaos mengungkap bank-bank terbesar di dunia mengucurkan dana sebesar 906 miliar dolar AS untuk membiayai industri bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara.

Melansir ESG Dive, Selasa (9/6/2026) laporan tersebut mencatat bahwa bank-bank raksasa ini meningkatkan pendanaan mereka untuk perusahaan dan proyek bahan bakar fosil sebesar 8 persen pada tahun 2025.

Ini menjadi tahun kedua secara berturut-turut di mana nilai pendanaan mereka malah semakin membesar. Laporan edisi ke-17 yang dirilis Senin, (8/6/2026) ini juga menunjukkan bahwa dana khusus untuk ekspansi ladang fosil baru melonjak drastis hingga 27 persen.

Bank raksasa tingkatkan pendanaan bahan bakar fosil

Laporan yang mencatat komitmen bahan bakar fosil ini menemukan bahwa 65 bank terbesar di dunia menyumbang dana sebesar 906 miliar dolar AS pada tahun 2025, naik dari yang sebelumnya sebesar 842,6 miliar dolar AS pada tahun 2024.

Bank-bank yang berbasis di Amerika Serikat bertanggung jawab atas hampir sepertiga (32,2 persen) dari total pendanaan bahan bakar fosil tahun lalu. Menurut laporan yang disusun oleh Rainforest Action Network, Sierra Club, Reclaim Finance, dan lembaga lainnya ini, Amerika Serikat menunjukkan peningkatan dana terbesar dibandingkan wilayah lain yang dipantau, dengan menyumbang dana 35 miliar dolar AS lebih banyak daripada tahun 2024.

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

"Besarnya skala dana yang masih mengalir ke bahan bakar fosil terutama untuk perluasan ladang fosil baru menunjukkan betapa kuatnya bank-bank besar ini terikat pada model bisnis yang merusak iklim bumi," kata Lucie Pinson, Direktur dan Pendiri Reclaim Finance..

Namun, ketika bank-bank di Amerika Serikat dan Jepang terus mengucurkan dana miliaran dolar ke sektor batu bara, minyak, dan gas demi mengejar keuntungan jangka pendek beberapa bank di Eropa justru sudah mulai mengambil tindakan untuk membatasi pemberian dana bagi perluasan ladang minyak dan gas baru.

JPMorgan Chase menjadi bank nomor satu yang paling banyak memberikan dana untuk bahan bakar fosil selama tiga tahun berturut-turut, dan untuk keempat kalinya dalam lima tahun terakhir, menurut laporan tahunan tersebut.

Bank ini meningkatkan pendanaannya untuk perusahaan bahan bakar fosil sebesar 12,5 persen dari tahun 2024, dengan menyumbang dana sebesar 58,2 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Bank of America menempati posisi kedua sebagai bank yang memberikan dana terbesar untuk perusahaan bahan bakar fosil selama dua tahun berturut-turut, dengan total dana mencapai 47,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Namun, dua bank asal Jepang yaitu Mitsubishi UFJ Financial dan Mizuho Financial berhasil menggeser posisi Citigroup dari peringkat tiga besar karena mereka meningkatkan modalnya secara besar-besaran untuk perusahaan bahan bakar fosil.

Mitsubishi UFJ menambah kucuran dananya sebesar 8,2 miliar dolar AS menjadi total 47 miliar dolar AS tahun lalu. Ini merupakan lonjakan dana terbesar dalam satu tahun dari segi jumlah uang.

Sementara itu, Mizuho memberikan dana sebesar 46,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, atau naik 12,8 persen dari tahun 2024. Citigroup berada di posisi kelima, dengan total pendanaan yang tercatat sebesar 45,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Dampak pelonggaran kebijakan bahan bakar fosil

Kenaikan dana untuk industri fosil dan proyek perluasannya ini terjadi di tengah runtuhnya Net-Zero Banking Alliance yang didukung oleh PBB. Setelah bank-bank asal Amerika Utara keluar secara massal pasca-pelantikan Presiden AS Donald Trump, koalisi iklim tersebut akhirnya menghapus sistem keanggotaan sepenuhnya karena gelombang mundurnya bank-bank lain terus terjadi dan meluas.

Para peneliti laporan ini menyatakan bahwa akibat hilangnya komitmen sukarela ditambah adanya tekanan politik anti-iklim yang sangat kuat di AS membuat bank-bank mulai melonggarkan aturan dan kebijakan keuangan mereka terkait bahan bakar fosil, atau bahkan menghapus target iklim mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau