Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Kompas.com, 10 Juni 2026, 16:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

AMBISI swasembada pangan kerap menjadi komoditas politik paling laris menjelang pergantian kekuasaan.

Di bawah kepemimpinan nasional pada tahun ini, optimisme itu membubung tinggi setelah keberhasilan menihilkan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025, dideklarasikan di Karawang.

Kebijakan proteksionisme pangan diperketat dengan penghentian total impor beras industri maupun konsumsi, disusul peningkatan target cadangan beras nasional oleh Bulog hingga mencapai empat juta ton.

Namun, merayakan swasembada di atas kertas tanpa mengukur kerentanan ekologis berpotensi menjadi kecerobohan sistemis.

Di balik gegap gempita retorika kemandirian, ancaman iklim berskala raksasa yang dijuluki El Niño Godzilla sedang bergerak senyap di Samudra Pasifik, bersiap menguji ketahanan fondasi pangan nasional yang sebenarnya rapuh dan penuh dengan paradoks struktural.

Secara ilmiah, El Niño Godzilla bukan hanya istilah bombastis, tapi anomali interaksi laut dan atmosfer yang sangat ekstrem di Pasifik tropis.

Ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 yang melampaui batas standar, anomali ini diproyeksikan mencapai deviasi ekstrem 2,5 derajat Celsius hingga 4,0 derajat Celsius di atas normal.

Siklus ini diperkuat oleh puncak aktivitas bintik matahari tahun 2025, yang secara historis mengamplifikasi kekeringan pada tahun berikutnya.

Sepanjang April hingga Oktober 2026, dengan puncak pada Agustus, sirkulasi Walker bergeser secara drastis, memindahkan pusat hujan ke arah Pasifik tengah dan timur.

Dampaknya bagi Indonesia akan semakin destruktif karena berbarengan dengan fenomena “Indian Ocean Dipole” positif yang mendinginkan suhu air laut di sekitar Jawa dan Sumatera, menekan curah hujan nasional ke titik terendah dalam satu dekade.

Kondisi ini menghantam Indonesia justru saat ketahanan pangan berada dalam kerentanan struktural yang akut.

Kebijakan nihil impor jagung pada tahun 2026, yang didasarkan pada surplus stok tahun 2025 sebesar 4,5 juta ton, kini menghadapi tantangan berat.

Program Makan Bergizi Gratis yang berjalan penuh membutuhkan protein hewani dalam jumlah masif, mengatrol permintaan daging ayam sebesar satu juta ton dan telur sebesar 700.000 ton.

Hal ini memaksa pemerintah menaikkan target cadangan jagung nasional oleh Bulog menjadi satu juta ton guna menstabilkan pakan ternak.

Sayangnya, ambisi swasembada karbohidrat ini kontras dengan ketergantungan impor non-karbohidrat yang sangat tinggi.

Lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai nasional dipasok dari impor, yang harganya membumbung akibat depresiasi rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Juni 2026.

Pelemahan kurs ini memicu inflasi impor pada pupuk kimia, bahan pakan, dan obat pertanian. Pada saat yang sama, neraca komoditas industri masih mencatatkan impor bahan baku skala besar seperti gula industri yang mencapai 3,12 juta ton dan daging lembu industri sebesar 17.000 ton.

Transmisi fisik El Niño Godzilla langsung memukul kapasitas produksi di tingkat tapak. Data Badan Pusat Statistik melalui Kerangka Sampel Area menunjukkan penurunan produksi padi dan jagung sudah mulai terlihat nyata pada pertengahan tahun 2026. 

Akumulasi luas panen jagung kering pipilan periode Januari-Juli 2026 merosot sebesar 3,55 persen menjadi 1,69 juta hektare dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Akibat penyusutan areal ini, produksi jagung semester pertama tahun 2026 terkontraksi sebesar 2,69 persen menjadi 8,33 juta ton.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau