Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan

Kompas.com, 12 Juni 2026, 20:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science menunjukkan bahwa
15 persen dari pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia berasal dari polutan yang belum masuk dalam sebagian besar aturan hukum iklim yang ada sekarang.

Sebagian besar dari zat polusi yang terabaikan ini disebut sebagai "gas rumah kaca tidak langsung", yang meliputi karbon monoksida, senyawa organik mudah menguap non-metana, nitrogen oksida, dan hidrogen molekuler.

Melansir Phys, Kamis (11/6/2026) berbeda dengan gas rumah kaca biasa seperti karbon dioksida, dampak pemanasan dari gas rumah kaca tidak langsung ini tidak berasal dari kemampuannya dalam memerangkap panas secara langsung.

Sebaliknya, gas-gas ini memicu reaksi kimia di atmosfer yang dapat meningkatkan jumlah metana, ozon, dan gas rumah kaca lainnya, yang pada akhirnya menghasilkan pemanasan pada bumi.

Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global

Para ilmuwan telah mempelajari dampak-dampak ini selama puluhan tahun, tetapi gas-gas tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam aturan hukum iklim yang penting, seperti Perjanjian Iklim Paris atau konvensi dasar PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Ini berarti sebagian besar negara tidak menghitung dampak dari gas-gas ini dalam target dan kebijakan iklim mereka, serta tidak membuat strategi untuk mengurangi dampak pemanasannya, meskipun dampaknya sangat besar.

Memperhitungkan semua penyebab emisi

Diabaikannya gas rumah kaca tidak langsung ini berakar dari Protokol Kyoto yang dirancang hampir 30 tahun lalu. Aturan lama itulah yang menetapkan kelompok "gas rumah kaca wajib" yang masih terus dipakai dalam kebijakan iklim hingga hari ini.

Pada masa itu, dampak buruk dari gas rumah kaca tidak langsung belum terlalu dipahami secara jelas, tetapi pemahaman sains telah berkembang sangat pesat sejak saat itu.

"Di antara semua polusi akibat ulah manusia yang membuat iklim memanas, gabungan gas rumah kaca tidak langsung ini menempati posisi sebagai penyumbang terbesar ketiga bagi pemanasan global yang kita rasakan saat ini, tepat di bawah karbon dioksida dan metana, bahkan posisinya berada di atas dinitrogen oksida, hidrofluorokarbon, dan karbon hitam," ungkap penulis utama laporan ini, Ilissa Ocko, ilmuwan iklim senior di Spark Climate Solutions.

"Ini adalah penyumbang pemanasan yang sangat besar yang sudah terlalu lama diabaikan dari ruang diskusi kebijakan iklim," katanya lagi.

Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah

"Mengukur dan menurunkan jumlah gas rumah kaca tidak langsung sangatlah penting jika kita ingin mengatasi perubahan iklim sepenuhnya, termasuk demi memperkecil risiko kenaikan suhu bumi yang berlebihan di atas batas aman 1,5 derajat Celsius pada pertengahan abad ini," papar mantan Wakil Utusan Khusus AS untuk Urusan Iklim, Rick Duke.

Steven Hamburg, kepala ilmuwan di Environmental Defense Fund menambahkan jika ingin memperlambat kecepatan pemanasan bumi secara efektif dan efisien, maka semua sumber penyebab panas harus diperhitungkan, bukan hanya kelompok gas rumah kaca yang biasa kita bahas selama ini.

Dampak iklim dari gas rumah kaca tidak langsung ini sudah sangat memengaruhi kondisi bumi saat ini. Bahkan bagi sebagian zat, seperti hidrogen, dampaknya bisa melonjak jauh lebih besar di masa depan.

Hidrogen adalah alat yang sangat hebat dalam upaya kita menghapus polusi karbon. Namun, karena ukurannya yang sangat kecil dan mudah lolos, gas hidrogen bisa dengan mudah bocor dari pipa atau fasilitas penampung, sehingga manfaat baiknya bisa hilang begitu saja jika kita mengabaikan dampak tidak langsungnya terhadap pemanasan bumi."

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau