Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah

Kompas.com, 15 Mei 2026, 14:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gletser tropis terakhir di Asia, yang terletak di dekat Puncak Jaya, Papua, kemungkinan tidak akan bertahan hingga akkhir dekade ini. Selama 44 tahun terakhir, puncak tertinggi di Asia Tenggara tersebut telah kehilangan 97 persen es-nya dan empat gletsernya.

Yang tersisa, gletser Carstensz dan Firn East Northwall yang diperkirakan akan menghilang pada 2030. Indonesia akan mengikuti jejak Venezuela dan Slovenia yang tercatat dalam daftar negara dengan kehilangan seluruh gletsernya.

Ahli geologi di Lamont-Doherty Earth, Mike Kaplan, menyatakan gletser tropis akan menjani jenis yang pertama kali punah karena ukurannya kecil. Musim dingin semakin panjang dan suhu bertambah rendah di lintang yang lebih tinggi sering kali melestarikan gletser di sana. Oleh karena itu, gletser tropis berfungsi sebagai peringatan bagi gletser di seluruh dunia.

Baca juga: Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam

"Gletser di sini dapat dianggap sebagai pertanda bahaya—terutama untuk negara-negara yang sejak awal memiliki sedikit es gletser," tutur Kaplan dikutip dari news.climate.columbia.edu Jumat (15/5/2026).

El Nino picu pencairan gletser

Kenaikan suhu global dan tahun-tahun El Nino memperparah pencairan gletser di Indonesia. Itu tercermin dari dampak El Niño tahun 2015 dan 2016 terhadap pencairan gletser di Indonesia.

"Bagi Papua, cuaca menjadi kering dan hangat selama El Niño, yang berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan lebih banyak pencairan. Keduanya bisa menjadi malapetaka, terutama bagi gletser kecil," ujar Kaplan, dilansir dari Glacier Hub.

Dalam skenario emisi GRK menurun signifikan secara ajaib, pemanasan global masih akan berlanjut hingga tahun 2030. Suhu global akan terus naik selama beberapa tahun ke depan, bahkan setelah tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) stabil karena Bumi membutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan.

"Dalam kondisi saat ini, kemungkinan besar terlalu hangat dan kering bagi gletser-gletser ini untuk tetap ada, terutama jika terjadi tahun El Niño yang kuat," ucapnya.

Ketinggian lapisan beku meningkat akibat pemanasan global, yang berarti lebih banyak membentuk hujan ketimbang salju.

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Cold Regions Science and Technology menunjukkan, laju penipisan vertikal naik dari sekitar 1,0 m/tahun menjadi 5,3 m selama peristiwa El Niño 2015 dan 2016 atau melonjak hampir lima kali lipat.

Temuan itu diperoleh peneliti BMKG, Donaldi Permana dan timnya dari inti es yang diambil pada 2010 untuk meninjau variabilitas iklim di daerah itu selama setengah abad terakhir. Inti es sepanjang 32 meter tersebut mengungkapkan efek ENSO selama periode waktu ini. Mereka menyimpulkan bahwa tren linier positif yang signifikan dari penurunan es diselingi oleh El Niño dan memodelkan kehilangan es di masa depan berdasarkan tren ini.

Baca juga: Gletser Himalaya Mencair Hampir 24 Meter dalam 50 Tahun, Setara Gedung 6 Lantai

Hasil pemodelan dan pengamatan terbaru menunjukkan penurunan yang drastis. Luasnya berkurang dari sekitar 19,3 km² pada tahun 1850 menjadi hanya sekitar 0,16–0,23 km² pada tahun 2022–2024. Itu berarti gletser menyusut dari ukuran sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya 40 saja. Donaldi memperingatkan bahwa beberapa model menunjukkan bahwa gletser tersebut dapat menghilang dalam satu tahun ke depan.

"Dengan meningkatnya kemungkinan El Niño yang kuat pada paruh kedua tahun 2026, hilangnya gletser Indonesia kemungkinan akan terjadi pada tahun 2026–2027. Nasib gletser-gletser ini mungkin sudah ditentukan," tutur Donaldi.

Di sisi lain, hilangnya gletser juga akan menjadi kerugian budaya, yang mana banyak komunitas adat di Papua menganggapnya memiliki nilai sakral.

Sebagai ruang suci tempat leluhur bersemayam, gletser bukan sekadar fitur fisik, melainkan pula bagian inti dari identitas spiritual. Maka, hilangnya gletser tersebut menunjukkan perubahan lingkungan sekaligus erosi warisan budaya.

"Yang sejak lama dikenal secara lokal sebagai 'salju abadi' atau salju abadi, hilangnya gletser secara cepat mencerminkan bagaimana sesuatu yang dulunya dianggap permanen kini sangat rentan terhadap perubahan iklim," tutur lulusan program MS dalam Manajemen Keberlanjutan Columbia School of Professional Studies dan Columbia Climate School, Wewin Wira Cornelis Wahid.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau