BALI, KOMPAS.com - Perjalanan sampah kemasan (multi-layer packaging/MLP) pasca-konsumsi dari makanan ringan atau camilan tidak pernah sederhana.
Sampah jenis MLP bernilai ekonomis sangat rendah, bahkan nol rupiah jika tercampur, dengan para pemulung enggan memungutnya.
Imbasnya, sampah kemasan berubah menjadi polutan yang paling banyak ditemukan mencemari perairan di Bali, dalam keadaan berserakan di pantai maupun menggenang di sungai.
Baca juga: Langkah Inovatif Warga Bekasi, Olah Sampah Plastik Tak Bernilai Jadi Bahan Bakar
Director of Bali Waste Cycle (BWC), Olivia Anastasia Padang mengakui beratnya mengolah sampah kemasan yang jumlahnya sangat banyak karena layak dari aspek keekonomian bagi produsen dan sesuai dengan daya beli masyarakat.
"Karena sampah-sampah ini ekonomisnya enggak bisa tinggi. Memberi nilai kepada sampah-sampah yang biasa dikategorikan residu ini tantangannya sudah tinggi banget, tantangan tersendiri," ujar Olivia di fasilitas daur ulang BWC, Jalan Pondok Indah I Cargo Ubung - Denpasar, Kamis (17/9/2026).
Fasilitas daur ulang BWC mengolah 50 ton sampah per tahun yang berasal dari dapur warga, tempat pemrosesan akhir (TPA), dan kawasan pesisir pantai, dengan sekitar 10 ton di antaranya berjenis MLP.
Inisiatif mengolah sampah yang sulit didaur ulang mengantarkan BWF terpilih sebagai satu finalis Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific pada 2025, menjadikannya satu-satunya startup asal Indonesia dalam program ini.
BWC menerima pendanaan sebesar 20.000 dollar AS atau setara Rp 356,7 juta dan pendampingan dari PepsiCo untuk mengembangkan solusi pengolahan sampah kemasan yang dimilikinya.
"Sampah kemasan biasanya kontaminannya paling tinggi, karena itulah di program PepsiCo Greenhouse ini, kami fokus ke bagaimana mengolah sampah bekas kemasan ini jadi punya nilai guna," tutur Olivia.
Di tahun 2026, BWC BWC kembali terpilih dalam Greenhouse Program IMPACT Editon Asia Pacific dan memperoleh pendanaan tambahan sebesar 20.000 dollar AS untuk memperluas dampak dan skalabilitas operasionalnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, BWC bersama produsen merek makanan ringan ikonik Lay's®, Cheetos®, and Doritos®, PepsiCo Indonesia, resmi meluncurkan proyek perdana pemasangan papan nama jalan dan penunjuk arah yang terbuat dari hasil pengelolaan kembali sampah kemasan di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, pada Jumat (18/9/2026).
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya PepsiCo Indonesia dalam mendukung penguatan ekosistem pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan, serta pengembangan rantai nilai kemasan yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.
Baca juga: Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Hal ini juga menjadi bagian dari implementasi extended producer responsibility (EPR) sekaligus mendukung target pemerintah untuk mengurangi sampah
produsen sebesar 30 persen di tahun 2029.
Papan nama 'Taman Kota Sewaka Dharma' di Lumintang diproduksi dari sampah material MLP atau plastik multilapis kemasan makanan ringan Lay's, Cheetos, dan Doritos yang telah dikumpulkan dan dikelola oleh BWC, dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, papan nama daur ulang yang dipasang di ruang-ruang publik akan menjadi semangat baru dalam penanganan permasalahan sampah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya