Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan

Kompas.com, 23 September 2026, 15:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BALI, KOMPAS.com - ‎Perjalanan sampah kemasan (multi-layer packaging/MLP) pasca-konsumsi dari makanan ringan atau camilan tidak pernah sederhana.

Sampah jenis MLP bernilai ekonomis sangat rendah, bahkan nol rupiah jika tercampur, dengan para pemulung enggan memungutnya.

Imbasnya, sampah kemasan berubah menjadi polutan yang paling banyak ditemukan mencemari perairan di Bali, dalam keadaan berserakan di pantai maupun menggenang di sungai.

Baca juga: Langkah Inovatif Warga Bekasi, Olah Sampah Plastik Tak Bernilai Jadi Bahan Bakar

Director of Bali Waste Cycle (BWC), Olivia Anastasia Padang mengakui beratnya mengolah sampah kemasan yang jumlahnya sangat banyak karena layak dari aspek keekonomian bagi produsen dan sesuai dengan daya beli masyarakat.

"Karena sampah-sampah ini ekonomisnya enggak bisa tinggi. Memberi nilai kepada sampah-sampah yang biasa dikategorikan residu ini tantangannya sudah tinggi banget, tantangan tersendiri," ujar Olivia di fasilitas daur ulang BWC, Jalan Pondok Indah I Cargo Ubung - Denpasar, Kamis (17/9/2026).

‎Fasilitas daur ulang BWC mengolah 50 ton sampah per tahun yang berasal dari dapur warga, tempat pemrosesan akhir (TPA), dan kawasan pesisir pantai, dengan sekitar 10 ton di antaranya berjenis MLP.

Inisiatif mengolah sampah yang sulit didaur ulang mengantarkan BWF terpilih sebagai satu finalis Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific pada 2025, menjadikannya satu-satunya startup asal Indonesia dalam program ini.

BWC menerima pendanaan sebesar 20.000 dollar AS atau setara Rp 356,7 juta dan pendampingan dari PepsiCo untuk mengembangkan solusi pengolahan sampah kemasan yang dimilikinya.

"Sampah kemasan biasanya kontaminannya paling tinggi, karena itulah di program PepsiCo Greenhouse ini, kami fokus ke bagaimana mengolah sampah bekas kemasan ini jadi punya nilai guna," tutur Olivia.

Di tahun 2026, BWC BWC kembali terpilih dalam Greenhouse Program IMPACT Editon Asia Pacific dan memperoleh pendanaan tambahan sebesar 20.000 dollar AS untuk memperluas dampak dan skalabilitas operasionalnya.

Dijadikan Papan Nama

Sebagai bagian dari program tersebut, BWC bersama produsen merek makanan ringan ikonik Lay's®, Cheetos®, and Doritos®, PepsiCo Indonesia, resmi meluncurkan proyek perdana pemasangan papan nama jalan dan penunjuk arah yang terbuat dari hasil pengelolaan kembali sampah kemasan di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, pada Jumat (18/9/2026).

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya PepsiCo Indonesia dalam mendukung penguatan ekosistem pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan, serta pengembangan rantai nilai kemasan yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.

Baca juga: Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026

Hal ini juga menjadi bagian dari implementasi extended producer responsibility (EPR) sekaligus mendukung target pemerintah untuk mengurangi sampah
produsen sebesar 30 persen di tahun 2029.

Papan nama 'Taman Kota Sewaka Dharma' di Lumintang diproduksi dari sampah material MLP atau plastik multilapis kemasan makanan ringan Lay's, Cheetos, dan Doritos yang telah dikumpulkan dan dikelola oleh BWC, dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar.

Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, papan nama daur ulang yang dipasang di ruang-ruang publik akan menjadi semangat baru dalam penanganan permasalahan sampah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Swasta
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
Pemerintah
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau