Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan

Kompas.com, 13 Juni 2026, 14:08 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Masyarakat di Desa Adat Seminyak berhasil mengelola sampah dari hotel dan restoran di kawasan tersebut, hingga menjadi salah satu sumber pendapatan bagi desa.

Ketua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Reduce, Reuse, Recycle (3R) Desa Adat Seminyak, I Komang Rudhita menyatakan sampah yang dikelola per hari dari hotel dan restoran di Seminyak mencapai 36 ton.

"Kami yang mengelola sampah-sampah itu, mulai pengangkutan hingga pemilahan. Dari langkah pemilahan ini, residu yang kemudian dibawa ke TPA hanya sekitar 6 ton," ujarnya Sabtu13/6/2026).

Baca juga: Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk

Komang Rudhita menjelaskan bahwa sampah-sampah yang terpilah tersebut kemudian bisa dimanfaatkan untuk dijual kembali. Seperti halnya botol plastik PET (Polyethylene Terephthalate) yang sudah terpilah sejak awal ketika diambil restoran dan hotel, diambil oleh sebuah perusahaan yang memang memiliki program untuk pengepulan plastik.

"Sejak awal, hotel dan restoran yang sampahnya kami kelola, itu kami berikan sosialisasi dulu agar sampah terpilah sebelum kami ambil. Tak hanya plastik dan sampah anorganik, sampah organik pun juga dipilah yakni yang kering dan basah. Ini juga mempermudah kami dalam pengelolaan sampah," lanjut dia.

Dari pengelolaan tersebut, Desa Adat Seminyak mampu mendapatkan penghasilan. Meskipun Rudhita tidak menyebut nominal, namun pihaknya mampu menutup seluruh operasional yang dalam sebulan rata-rata mencapai Rp 450 juta.

"Di TPST, kami ada 64 pekerja yang harus digaji. Selain itu, juga ada operasional untuk BBM kendaraan pengangkut sampah," jelas Rudhita.

Selain dari hotel dan restoran, TPST 3R Desa Adat Seminyak juga turut menjaga kebersihan kawasan pantai yang ada di wilayah ini. 

Gandeng berbagai pihak

Terkait dengan pengelolaan sampah di pantai, TPST 3R Desa Adat Seminyak menggandeng berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Bali. 

Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana menyatakan pihaknya memberikan dukungan sepenuhnya kepada pihak-pihak yang turut membantu menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

"Kami berikan dukungan sepenuhnya untuk menjalankan konservasi di wilayah pesisir guna menjaga ekosistem laut," jelas dia.

Sementara itu Dirjen Pengelolaan Kelautan Kementerian kelautan dan Perikanan, Koswara MP menyatakan persoalan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama agar sampah tidak masuk ke laut.

Baca juga: Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah

"Karena strategi kelola sampah adlh pencegahan agar sampah tidak masuk ke laut. Itu kita jaga dan bersama Provinsi Bali, kami meneken MoU untuk kelola sampah," kata dia.

Sejauh ini sudah ada tiga provinsi yang meneken MoU dengan KKP terkait pengelolaan sampah, yakni DKI Jakarta, Bali, dan NTB.

Adapun Director of Communications DANA Indonesia menyatakan pihaknya memiliki komitmen untuk turut menjaga laut di Indonesia. 

"Kami juga punya fitur ocean buddy di aplikasi DANA. Hal inimerupakan upaya kami untuk turut edukasi pengguna DANA jaga ekosistem laut di Indonesia, khususnya hiu paus di perairan selatan Jawa," kata dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau