Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat

Kompas.com, 17 Juni 2026, 20:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan dari lembaga konsultan Wood Mackenzie menyebut pemerintah di beberapa negara Asia Pasifik kini mengeluarkan aturan baru yang mewajibkan pusat data keamanan pasokan listrik, fleksibilitas, dan wajib membeli energi bersih.

Hal tersebut dilakukan karena permintaan listrik yang melonjak drastis untuk keperluan pusat data.

Melansir Eco Business, Senin (15/6/2026) dalam laporannya, Wood Mackenzie menyebutkan bahwa para pengembang pusat data sekarang semakin diwajibkan untuk memasang baterai penyimpanan raksasa, mengelola risiko pemborosan energi, serta ikut menjaga kestabilan listrik negara agar mereka bisa mendapatkan izin menggunakan jaringan listrik yang saat ini jumlahnya makin terbatas.

Laporan berjudul Asia-Pacific power grids are redefining the rules of data centre access ini membahas bagaimana pemerintah dan lembaga pengawas di delapan negara utama menanggapi lonjakan cepat permintaan listrik yang dipicu oleh menjamurnya pusat data.

"Bagi banyak pengembang, mendapatkan pasokan listrik sekarang jauh lebih sulit daripada mencari lahan, modal uang, ataupun izin bangunan," kata Xiaonan Feng, analis utama untuk bidang listrik dan energi terbarukan Asia-Pasifik di Wood Mackenzie.

"Di seluruh wilayah Asia-Pasifik, ketersediaan jaringan listrik kini menjadi hambatan paling utama bagi pertumbuhan pusat data," ujar Feng.

Baca juga: Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data

Jaga kestabilan pasokan listrik

Laporan tersebut mengatakan bahwa pemerintah kini mulai meninggalkan cara lama, di mana dahulu perusahaan listrik negara dianggap sebagai satu-satunya pihak yang wajib menyediakan listrik yang aman bagi pelanggan besar.

Sekarang, pemerintah membuat aturan baru yang mewajibkan perusahaan pemilik pusat data untuk ikut bertanggung jawab dalam menjaga kestabilan jaringan listrik negara.

Aturan-aturan ini umumnya dibagi menjadi empat cara yakni izin bersyarat, penyebaran lokasi proyek, kewajiban membantu jaringan listrik, dan pembatasan jumlah kuota listrik.

Misalnya saja di Jepang, pemerintah sedang menguji coba aturan yang membolehkan gedung pusat data tersambung ke listrik negara sebelum perbaikan kabel selesai dilakukan.

Syaratnya, perusahaan wajib memasang teknologi pintar seperti sistem pemutus beban otomatis atau baterai penyimpanan raksasa yang bisa mengurangi pemakaian listrik mereka secara mandiri saat jaringan listrik negara sedang kritis.

Meskipun aturan-aturan tersebut bisa mempercepat akses mendapatkan listrik, hal itu menurut laporan juga membuat biaya pembangunan proyek menjadi lebih mahal dan cara kerjanya menjadi lebih rumit.

Pembangunan di luar pusat kota

Pemerintah di berbagai negara juga berusaha mengarahkan pembangunan pusat data baru agar menjauh dari area kota besar yang listriknya sudah padat.

Jepang, India, dan Korea Selatan kini memberikan insentif dan aturan hukum khusus untuk mendorong perusahaan membangun gedung mereka di daerah yang jaringan listriknya masih longgar dan punya banyak pasokan listrik ramah lingkungan.

Australia menjadi salah satu negara pertama yang mewajibkan pusat data skala besar untuk ikut aktif menjaga kestabilan listrik negara. Aturan baru yang diusulkan akan mewajibkan gedung pusat data yang berkapasitas besar (di atas 30 megawatt) untuk tetap bertahan menyala saat terjadi gangguan tegangan listrik, serta dilarang menyedot listrik secara mendadak setelah mati lampu selesai agar gardu listrik tidak kaget.

Wood Mackenzie mengatakan bahwa aturan ketat yang serupa kemungkinan besar akan mulai diterapkan di negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Hal ini terjadi seiring dengan semakin cepatnya pemasangan energi terbarukan dan terus melonjaknya permintaan listrik dari para pengguna raksasa.

Sementara itu, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan kini semakin mengandalkan pembatasan aturan hukum untuk mengatur izin pemakaian listrik pada sistem jaringan mereka yang sudah makin sesak.

Baca juga: Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data

Syarat-syarat baru terkait tingkat hemat energi, kewajiban membeli energi bersih, serta penilaian dampak terhadap listrik negara membuat persaingan masuk ke bisnis ini semakin sulit. Kondisi ini akhirnya lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan raksasa yang memiliki modal uang besar dan tim ahli teknologi yang hebat.

Laporan Mackenzie juga menambahkan bahwa biaya-biaya baru terkait pengurusan listrik kini telah menjadi bagian tetap yang tidak bisa dihindari dalam pembangunan pusat data di Asia-Pasifik.

Biaya untuk memasang baterai penyimpanan, syarat kestabilan mandiri, kewajiban membeli energi bersih, serta pengelolaan risiko pemborosan energi kini harus selalu dihitung dalam rencana anggaran proyek.

"Biaya listrik sekarang tidak lagi sebatas membayar tagihan bulanan dan biaya pasang baru saja," kata Feng.

"Pemasangan baterai, pengelolaan pemborosan daya, dan kewajiban menggunakan energi bersih kini telah menjadi syarat infrastruktur inti yang bisa sangat memengaruhi untung-rugi keuangan suatu proyek," pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau