Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Aktualisasi diri generasi muda perlu dibuka melalui berbagai platform, salah satunya lewat film.
Melalui film, anak-anak muda bisa menyuarakan gagasan, pengalaman, serta persoalan sosial yang dihadapi sehari-hari dengan cara kreatif, bahkan bisa membangun kesadaran publik sekaligus mendorong perubahan sosial di komunitasnya.
Hal itu tercermin dari pengalaman dua mahasiswa Indonesia, Januar David Ciu dan Yosafat Prasetya, yang mengangkat isu kesehatan mental melalui film pendek berjudul "Mania Dunia Nia".
Baca juga: Dukung Pemberdayaan Ekonomi, BCA Dorong UMKM Lokal Menembus Pasar Global
Film tersebut mengisahkan tekanan sosial, kelelahan, dan kesepian yang kerap dialami anak muda di tengah kehidupan digital yang serba cepat.
Menurut Januar, ide film tersebut berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia melihat masih banyak anak muda yang menghadapi persoalan psikologis, tetapi belum mendapatkan perhatian yang memadai.
"Aku pernah dengar cerita dari temanku yang mau konseling dengan psikolog kampus, tapi jadwalnya penuh sampai satu atau dua bulan. Dari situ aku sadar, ternyata banyak orang sedang menghadapi persoalan psikologis, hanya saja sering tidak terlihat," ujar Januar dalam keterangan resminya dikutip Sabtu (20/6/2026).
Film tersebut kemudian meraih Juara 1 Inspiring Asia Micro Film Festival #InspiringIndonesia 2025 dan mewakili Indonesia pada ajang tingkat Asia di Singapura.
Bagi Yosafat, kekuatan sebuah karya justru terletak pada kemampuannya mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut dia, cerita yang sederhana dan jujur sering kali lebih mudah dipahami oleh masyarakat lintas negara maupun budaya.
"Kadang kita merasa cerita kita terlalu kecil. Padahal justru cerita yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari sering paling mudah dipahami orang lain," kata Yosafat.
Semangat tersebut juga menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia.
Festival film pendek ini mengusung tema "Community Empowerment: Belonging, Resilience, Thriving" dan mendorong sineas muda, pelajar, komunitas, organisasi sosial, hingga kreator independen untuk mengangkat kisah-kisah pemberdayaan dari lingkungan masing-masing.
Festival tersebut tidak hanya menilai kualitas sinematik, tetapi juga dampak sosial yang dihasilkan melalui karya yang dibuat. Masyarakat juga dilibatkan dalam proses penilaian melalui mekanisme community vetting untuk mendukung karya yang dinilai relevan dan memberikan manfaat bagi komunitas.
Tahun ini, festival membuka tiga kategori utama, yakni Best Micro Film Award, Best Project Award, dan Best AI Film Award. Pendaftaran dibuka hingga 30 Juni 2026 dan terbuka bagi pelajar, komunitas, organisasi sosial, maupun kreator independen yang ingin mengangkat cerita tentang ketangguhan dan pemberdayaan masyarakat.
Baca juga: Kontrol Negara atas Filantropi Masih Kuat, Hambat Solidaritas Warga
Penyelenggara berharap festival tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, inovasi, dan aksi sosial sekaligus memperluas partisipasi generasi muda dalam pembangunan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Tahun ini, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia membuka tiga kategori utama, yaitu: Best Micro Film Award — bagi filmmaker yang berfokus pada kualitas sinematik dan kekuatan narasi kreatif; Best Project Award — bagi inisiatif komunitas yang telah menunjukkan dampak sosial nyata dan keberlanjutan program; serta Best AI Film Award — bagi film pendek yang memanfaatkan teknologi AI untuk menyampaikan kisah ketangguhan dan pemberdayaan komunitas.
“Jangan takut mencoba. Maksimalkan sumber daya yang ada dan cari komunitas untuk berkolaborasi. Kadang yang paling penting bukan seberapa besar produksinya, tapi seberapa jujur cerita yang ingin disampaikan,” kata Januar.
Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia merupakan bagian dari rangkaian festival film tingkat Asia yang menghadirkan ruang bagi cerita-cerita perubahan dari berbagai komunitas.
Festival ini didukung oleh berbagai organisasi dan mitra strategis lintas negara di Indonesia dan Asia, seperti Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good.
Berbeda dengan festival film konvensional, #InspiringIndonesia tidak hanya berfokus pada kualitas sinematik, tetapi juga pada keterlibatan publik dan dampak sosial yang dihasilkan.
Salah satu mekanisme yang diangkat adalah community vetting, di mana masyarakat dapat ikut memberikan dukungan terhadap karya-karya yang dianggap paling relevan dan berdampak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya