Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?

Kompas.com, 23 Juni 2026, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan jumlah orang di seluruh dunia yang terkena dampak stres panas berbahaya akibat krisis iklim melonjak drastis selama setengah abad terakhir.

Stres panas sendiri istilah untuk kondisi berbahaya ketika suhu panas menumpuk di dalam tubuh akibat suhu udara yang melonjak, kelembapan yang tinggi, dan faktor lainnya.

Ini merupakah salah satu dampak cuaca ekstrem yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Melansir Phys, Senin (22/6/2026) penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change ini mengamati bagaimana tingkat stres panas melonjak drastis sejak tahun 1970-an hingga tahun 2024 lalu.

"Di setiap benua, stres panas tingkat kuat hingga ekstrem kini terjadi lebih sering," kata Rebecca Emerton peneliti utama dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.

Sebagai contoh, pada tahun 1970-an, sebanyak 16 persen penduduk dunia mengalami setidaknya satu hari dengan stres panas ekstrem yaitu ketika suhu udara yang dirasakan tubuh mencapai minimal 46 derajat Celsius.

Baca juga: Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi

Lima puluh tahun kemudian, angka tersebut telah melonjak naik menjadi 22 persen.

"Angka itu mungkin terdengar tidak seberapa," kata Emerton.

"Namun, itu berarti ada tambahan sekitar satu miliar orang yang sekarang harus merasakan stres panas ekstrem, yang dulunya tidak perlu mereka alami pada tahun 1970-an," katanya lagi.

Kenaikan suhu di berbagai belahan dunia

Penelitian ini menggunakan Indeks Iklim Termal Universal (UTCI). Indeks ini menggambarkan suhu yang dirasakan oleh tubuh dengan menghitung faktor-faktor seperti kelembapan udara, embusan angin, radiasi matahari, dan bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap panas.

Rata-rata suhu yang dirasakan tubuh setiap harinya terus meroket karena peristiwa stres panas kini terjadi lebih sering, lebih parah, dan bertahan lebih lama akibat pemanasan global yang disebabkan oleh ulah manusia, demikian temuan dari penelitian tersebut.

"Beberapa negara, termasuk Spanyol, Portugal, Italia, dan Prancis, sekarang merasakan suhu udara yang jauh lebih membakar, hingga lima derajat lebih panas daripada yang mereka rasakan pada tahun 1970-an," kata Emerton.

Di Prancis pada hari Senin lalu, dua anak kecil meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem kedua yang melanda negara tersebut tahun ini.

Stres panas juga semakin meluas ke wilayah-wilayah di dunia yang dulunya tidak pernah mengalami suhu sepanas ini.

Baca juga: Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah

"Sebagai contoh, stres panas yang sangat kuat dengan suhu yang dirasakan tubuh minimal 38 derajat Celsius sekarang telah mencapai wilayah Amerika Utara, Inggris, dan Skandinavia," katanya.

Para peneliti juga mengamati peningkatan jumlah malam yang terus-menerus terasa sangat panas di seluruh dunia.

"Ketika malam hari terasa sangat panas sampai Anda tidak bisa merasa nyaman dan tubuh Anda tidak bisa mendinginkan suhunya sendiri, kondisi itu menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi orang-orang yang fisiknya lemah," kata Emerton.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar wilayah di dunia mengalami peningkatan jumlah "malam tropis". Itu merupakan kondisi ketika suhu yang dirasakan tubuh pada malam hari tidak bisa turun di bawah 20 derajat Celsius.

Penelitian ini sebenarnya hanya memeriksa data sampai tahun 2024 lalu. Namun, Emerton mengatakan bahwa gelombang panas yang sudah menghantam Eropa tahun ini menunjukkan bahwa tren bumi yang semakin memanas ini masih terus berlanjut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau