KOMPAS.com - Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura melaporkan tingkat daur ulang di negara tersebut pada 2025 secara keseluruhan mencapai 52 persen, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2024 atau 50 persen.
Namun demikian, tingkat daur ulang tahun 2025 tidak memenuhi target rencana induk nol limbah sebesar 59 persen.
Menteri Negara Senior untuk Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Janil Puthucheary menyatakan pihaknya akan mengevaluasi pencapaian tersebut guna meningkatkan persentase daur ulang yang disusun sejak rencana induk nol lima diluncurkan pada 2019 lalu.
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
Ia mengidentifikasi pentingnya berbagai cara baru untuk memperpanjang masa pakai tempat pemrosesan akhir (TPA) Semakau hingga lebih dari tahun 2035 dan mempercepat peralihan negara itu menuju ke ekonomi sirkular.
"Apa yang saya sebut sebagai peninjauan Rencana Induk Nol Limbah bukan sekadar penyegaran cetak biru pemerintah, melainkan ajakan bagi kita semua, setiap warga Singapura, untuk membantu membentuk bagaimana kita hidup di dekade mendatang," ujar Puthucheary, Rabu (17/6/2026), dilansir dari CNA.
Ia menyebut, tingkat daur ulang sampah di Singapura telah menurun dibandingkan dengan level tahun 2019. Rencana induk nol limbah berupaya meningkatkan tingkat daur ulang sampah rumah tangga, dari 17 persen pada 2019, menjadi 30 persen pada 2030.
Pemerintah Singapura juga berupaya meningkatkan tingkat daur ulang sampah industri dan komersial yang hanya naik sedikit dari 65 persen pada 2024, menjadi 67 persen tahun 2025.
"Kita harus melakukan pemeriksaan yang jujur terhadap angka-angka ini. Menunjuk pada pergeseran signifikan dalam ekonomi daur ulang global," tutur Puthucheary.
Menurut dia, daur ulang menjadi lebih sulit untuk dipertahankan secara komersial karena gangguan dalam logistik, harga komoditas yang berfluktuasi, dan pembatasan impor yang lebih ketat.
Harga kertas telah tertekan secara signifikan. Sedangkan permintaan akan plastik daur ulang sulit untuk dipenuhi.
"Justru karena alasan inilah peninjauan terhadap Rencana Induk Nol Limbah diperlukan dan tepat waktu, dan mengapa kami mendekatinya dengan sudut pandang baru," ucapnya.
Sebagai tahun adaptasi iklim, kata dia, 2026 menunjukkan kenyataan yang tidak menyenangkan sekaligus harus dihadapi dengan kecerdasan dan tekad.
"Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan untuk berbuat lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit—ini bukanlah masalah sampingan. Ini adalah inti dari permasalahan ini, dan tidak ada satu pun lembaga atau organisasi yang dapat menyelesaikannya sendiri," ujar Puthucheary.
Daur ulang sampah rumah tangga akan menjadi prioritas dalam peninjauan pencapaian Singapura dalam pelaksanaan rencana induk nol limbah. Bagian penting dari tinjauan ini akan mengkaji bagaimana Singapura dapat memulihkan bahan daur ulang yang lebih bersih dan kurang terkontaminasi.
Sebagai bagian dari fokus ini, pemerintah akan meninjau Program Daur Ulang Nasional untuk meningkatkan efektivitas dan volume bahan daur ulang yang dikumpulkan dari rumah tangga.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya