Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau

Kompas.com, 23 Juni 2026, 08:28 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura melaporkan tingkat daur ulang di negara tersebut pada 2025 secara keseluruhan mencapai 52 persen, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2024 atau 50 persen.

Namun demikian, tingkat daur ulang tahun 2025 tidak memenuhi target rencana induk nol limbah sebesar 59 persen.

Menteri Negara Senior untuk Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Janil Puthucheary menyatakan pihaknya akan mengevaluasi pencapaian tersebut guna meningkatkan persentase daur ulang yang disusun sejak rencana induk nol lima diluncurkan pada 2019 lalu.

Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi

Ia mengidentifikasi pentingnya berbagai cara baru untuk memperpanjang masa pakai tempat pemrosesan akhir (TPA) Semakau hingga lebih dari tahun 2035 dan mempercepat peralihan negara itu menuju ke ekonomi sirkular.

"Apa yang saya sebut sebagai peninjauan Rencana Induk Nol Limbah bukan sekadar penyegaran cetak biru pemerintah, melainkan ajakan bagi kita semua, setiap warga Singapura, untuk membantu membentuk bagaimana kita hidup di dekade mendatang," ujar Puthucheary, Rabu (17/6/2026), dilansir dari CNA.

Ia menyebut, tingkat daur ulang sampah di Singapura telah menurun dibandingkan dengan level tahun 2019. Rencana induk nol limbah berupaya meningkatkan tingkat daur ulang sampah rumah tangga, dari 17 persen pada 2019, menjadi 30 persen pada 2030.

Pemerintah Singapura juga berupaya meningkatkan tingkat daur ulang sampah industri dan komersial yang hanya naik sedikit dari 65 persen pada 2024, menjadi 67 persen tahun 2025.

"Kita harus melakukan pemeriksaan yang jujur terhadap angka-angka ini. Menunjuk pada pergeseran signifikan dalam ekonomi daur ulang global," tutur Puthucheary.

Penyebab perlambatan daur ulang

Menurut dia, daur ulang menjadi lebih sulit untuk dipertahankan secara komersial karena gangguan dalam logistik, harga komoditas yang berfluktuasi, dan pembatasan impor yang lebih ketat.

Harga kertas telah tertekan secara signifikan. Sedangkan permintaan akan plastik daur ulang sulit untuk dipenuhi.

"Justru karena alasan inilah peninjauan terhadap Rencana Induk Nol Limbah diperlukan dan tepat waktu, dan mengapa kami mendekatinya dengan sudut pandang baru," ucapnya.

Sebagai tahun adaptasi iklim, kata dia, 2026 menunjukkan kenyataan yang tidak menyenangkan sekaligus harus dihadapi dengan kecerdasan dan tekad.

"Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan untuk berbuat lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit—ini bukanlah masalah sampingan. Ini adalah inti dari permasalahan ini, dan tidak ada satu pun lembaga atau organisasi yang dapat menyelesaikannya sendiri," ujar Puthucheary.

Daur ulang sampah rumah tangga akan menjadi prioritas dalam peninjauan pencapaian Singapura dalam pelaksanaan rencana induk nol limbah. Bagian penting dari tinjauan ini akan mengkaji bagaimana Singapura dapat memulihkan bahan daur ulang yang lebih bersih dan kurang terkontaminasi.

Sebagai bagian dari fokus ini, pemerintah akan meninjau Program Daur Ulang Nasional untuk meningkatkan efektivitas dan volume bahan daur ulang yang dikumpulkan dari rumah tangga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau