Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bank Dunia Batalkan Target Alokasi 45 Persen Dana Pinjaman untuk Proyek Iklim

Kompas.com, 30 Juni 2026, 20:43 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com-Grup Bank Dunia mengungkapkan mereka akan menghapus alokasi 45 persen dana pinjaman tahunan untuk proyek-proyek terkait perubahan iklim.

Meski begitu, mereka tetap memperpanjang Rencana Aksi Perubahan Iklim yang seharusnya berakhir pada hari Selasa, (30/6/2026).

Lembaga donor pembangunan ini sebelumnya mendapat tekanan dari pemerintahan Trump untuk membatalkan target pendanaan iklim tersebut, yang pertama kali diadopsi pada masa pemerintahan Biden tahun 2023.

Dalam pernyataan resminya, Bank Dunia menyebutkan akan beralih fokus pada hasil nyata dari pinjaman, bukan lagi pada target jumlah dana yang masuk.

Beralih fokus

Melansir Reuters, Selasa (30/6/2026) Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, yang awalnya ditugaskan untuk menggenjot dana pinjaman iklim, kini mengubah fokusnya ke program pembangunan cerdas (smart development).

Baca juga: Bank Dunia Komitmen Tingkatkan Ketahanan Air untuk 1 Miliar Orang pada 2030

Program ini bertujuan untuk membuka lebih banyak lapangan kerja, sambil tetap memberikan manfaat lingkungan yang sesuai kebutuhan seperti pertanian yang tahan kekeringan, infrastruktur yang tahan badai, serta energi terbarukan.

Bank Dunia juga menambahkan bahwa atas permintaan dewan eksekutif, Kelompok Evaluasi Independen mereka akan meninjau ulang Rencana Aksi Perubahan Iklim (CCAP), yang pertama kali diterapkan dalam rencana bergulir lima tahunan sejak 2016.

Target Bank Dunia sebelumnya yang mengalokasikan 35 persen dana pinjaman untuk proyek terkait iklim juga ikut dihapus. Meski demikian, pejabat bank menyatakan bahwa permintaan untuk proyek yang membawa manfaat bagi lingkungan tetap tinggi dari negara-negara nasabah.

Dukungan program perubahan iklim

Pada Oktober tahun lalu, para direktur eksekutif dari Prancis dan 18 negara pemegang saham lainnya telah menandatangani surat dukungan agar Bank Dunia terus melanjutkan program perubahan iklim.

Namun, Amerika Serikat selaku pemegang saham terbesar menolak menandatanganinya, bersama dengan perwakilan dari Rusia, Kuwait, dan Arab Saudi. Sementara itu, India dan Jepang memilih untuk abstain.

Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada tahun 2025 telah memerintahkan Bank Dunia dan IMF untuk kembali ke tugas inti mereka, yaitu pembangunan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Ia menilai kedua lembaga tersebut sudah melangkah terlalu jauh ke urusan iklim, gender, dan bidang lain yang ditentang oleh pemerintahan Trump. Pada bulan April, ia menegaskan bahwa fokus bank pada target pembiayaan iklim harus dihilangkan.

Bank Dunia menyatakan bahwa pihak manajemen akan tetap memantau indikator rapor iklim mereka, seperti jumlah emisi gas rumah kaca global dan jumlah masyarakat yang terbantu menjadi lebih tangguh menghadapi risiko iklim di bawah program CCAP. Laporan ini akan dibuat untuk setiap proyek, serta dirilis secara kuartalan dan tahunan untuk seluruh portofolio pinjaman mereka.

"Kami akan mencari dan mendiskusikan cara-cara yang lebih baik untuk menyusun kerja sama kami dalam hal adaptasi lingkungan, alam, dan penanganan polusi," tambah pihak bank.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau