Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan

Kompas.com, 30 Juni 2026, 21:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Fenomena El Niño yang kuat sedang terbentuk di tengah situasi yang berbahaya bagi ketahanan pangan global.

El Nino terjadi saat dunia sudah menghadapi rekor suhu panas akibat perubahan iklim, ditambah gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang mengacaukan pasar pupuk, tepat ketika para petani di banyak wilayah bersiap menanam.

Melansir Reuters, Senin (29/6/2026) berbagai prediksi menunjukkan bahwa El Niño kali ini bisa menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.

El Niño tahun ini yang sedang terbentuk dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan-bulan musim dingin, juga dimulai dari suhu dasar bumi yang sudah lebih panas akibat perubahan iklim.

Hal ini membuat cuaca ekstrem menjadi lebih parah dan makin sulit diprediksi. Pemanasan berkala di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ini dipastikan bakal mengubah pola cuaca di seluruh dunia.

Di masa lalu, El Niño selalu memicu gagal panen, kekurangan pangan, dan tekanan pada pasar global.

Baca juga: BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino

Wilayah rentan dampak kekeringan

Namun, kini kita bisa memperkirakan wilayah pertanian mana saja yang paling berisiko mengalami kekeringan parah. Hal ini memberikan waktu yang singkat bagi pemerintah hingga para petani untuk bersiap-siap.

Analisis terbaru dari FAO menunjukkan daerah mana saja yang lahan pertanian dan peternakannya akan dihantam kekeringan paling parah akibat El Niño, bahkan di beberapa tempat bisa dipetakan hingga hitungan kilometer persegi.

Dengan memanfaatkan data kerusakan tanaman selama lebih dari 40 tahun, catatan dampak El Niño di masa lalu, dan pemetaan satelit beresolusi tinggi, sistem ini mampu mendeteksi di mana kerugian kemungkinan besar akan mulai terjadi.

Bagi sistem pangan kita, teknologi ini memberikan kemampuan terbaik untuk melihat ancaman sebelum benar-benar terjadi.

Risiko kekeringan pertanian yaitu ketika kelembapan tanah turun di bawah level yang dibutuhkan untuk menghidupi tanaman, lahan gembala, atau hewan ternak paling besar terjadi di wilayah Sahel, Afrika bagian Selatan, Asia Selatan dan Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah (CADC) dan Karibia.

Beberapa daerah di wilayah tersebut bahkan menghadapi peluang kekeringan hingga lebih dari 50 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Di banyak wilayah, kondisi para petani sudah sangat memprihatinkan akibat curah hujan yang rendah, suhu panas yang tinggi, tanah yang tidak subur, konflik, serta kelaparan kronis.

Kekeringan ringan sekalipun bisa berdampak fatal jika terjadi saat musim tanam atau masa berbunga, terutama di daerah yang pertaniannya bergantung pada air hujan dan hewan ternak menjadi harta utama keluarga.

Risiko ini makin diperparah oleh melonjaknya biaya energi dan pupuk, anggaran negara yang makin menipis, serta pemotongan bantuan luar negeri. Terlebih lagi, beberapa wilayah yang terancam ini merupakan pemasok utama pasar beras dan biji-bijian pokok lainnya. Artinya, kekeringan di tingkat lokal ini bisa memicu kenaikan harga pangan di seluruh dunia.

El Nino dan pengaruhnya pada ketahanan pangan

Sejarah menunjukkan seberapa besar risiko yang kita hadapi. Di Filipina, El Niño tahun 1997–1998 memotong produksi beras hingga 27 persen dan jagung sebesar 44 persen.

Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global

Lalu pada kejadian tahun 2015–2016, kerugian panen di sana diperkirakan mencapai 1,48 juta ton, dengan nilai sekitar 327 juta dolar AS. Secara global, siklus yang sama menyebabkan lebih dari 60 million orang membutuhkan bantuan dan memicu permohonan bantuan kemanusiaan sebesar 5 miliar dolar AS di 23 negara.

Analisis dari FAO ini menggunakan pelajaran dari krisis masa lalu untuk merencanakan kesiapan menghadapi krisis berikutnya.

Bagi para petani dan peternak, adanya peringatan dini ini berarti mereka bisa menunda masa tanam, menyimpan benih yang langka untuk musim berikutnya, memilih jenis tanaman yang tahan kekeringan dan panas, menimbun pakan ternak, atau mengamankan sumber air di jalur perpindahan ternak sebelum kelangkaan dimulai.

Analisis ini juga mengubah cara penentuan wilayah mana yang harus dibantu terlebih dahulu. Alih-alih membagi bantuan secara merata tetapi sedikit-sedikit, pemerintah dan pembuat program pembangunan kini bisa memfokuskan bantuan ke wilayah dengan risiko tertinggi.

Bantuan tersebut bisa langsung disalurkan dalam bentuk uang tunai, fasilitas irigasi, pakan ternak, benih, serta kebutuhan bertani lainnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau