Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
GELOMBANG panas yang melanda Eropa pada penghujung Juni 2026, bukan sekadar musim panas yang lebih terik.
Suhu menembus 40 derajat Celsius di sejumlah negara, memaksa sekolah ditutup, mengganggu transportasi, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan membebani layanan kesehatan.
Analisis cepat para ilmuwan menunjukkan bahwa peristiwa ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Dibandingkan gelombang panas serupa pada 1976, suhu kini sekitar 3,5 derajat Celsius lebih tinggi.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, peristiwa tersebut mungkin terasa jauh. Kita hidup di wilayah tropis yang sejak lama akrab dengan cuaca panas.
Namun, justru di situlah letak kekeliruannya. Perubahan iklim bukan berarti seluruh dunia akan mengalami dampak yang sama. Yang berubah adalah tingkat risikonya.
Jika Eropa menghadapi gelombang panas yang semakin mematikan, Indonesia menghadapi ancaman berbeda: kemarau lebih panjang, kekeringan, kebakaran hutan, krisis air, dan tekanan terhadap ketahanan pangan.
Gelombang panas di Eropa sesungguhnya adalah alarm bahwa sistem iklim global telah berubah. Atmosfer kini menyimpan lebih banyak energi panas dibandingkan beberapa dekade lalu.
Baca juga: Ketika Pengawasan DPR Berubah Jadi Dewan Penerangan Presiden
Dampaknya tidak berhenti di Eropa, tetapi menjalar ke berbagai belahan dunia melalui perubahan pola sirkulasi atmosfer dan lautan.
Dalam sistem iklim yang saling terhubung, tidak ada lagi peristiwa cuaca ekstrem yang benar-benar berdiri sendiri. Di sinilah Indonesia perlu memandang El Niño dengan cara yang berbeda.
Selama ini, El Niño sering dipahami sebagai fenomena alam yang datang beberapa tahun sekali, membawa kemarau lebih panjang, lalu berlalu.
Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, ada satu hal yang kini berubah. El Niño tetap merupakan fenomena alami, tetapi ia terjadi di atas Bumi yang jauh lebih panas daripada ketika peristiwa-peristiwa El Niño besar terjadi pada akhir abad ke-20.
Ibarat api yang dinyalakan di padang rumput kering, panas yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan api yang sama di padang yang masih basah.
Perubahan iklim tidak menciptakan El Niño, tetapi membuat dampaknya berpotensi lebih luas dan lebih mahal.
Risiko terbesar Indonesia bukanlah suhu udara yang lebih tinggi, melainkan gangguan terhadap sistem pangan.
Ketika kemarau memanjang, petani kesulitan menentukan waktu tanam. Ketersediaan air irigasi menurun. Produksi padi terancam berkurang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya