Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC

Kompas.com, 3 Juli 2026, 07:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Industri batik nasional sedang menghadapi tantangan besar akibat membanjirnya produk tiruan.

Mayoritas produk yang diklaim sebagai batik di pasaran saat ini merupakan hasil cetak pabrikan, bukan karya otentik hasil proses membatik tradisional.

Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komarudin Kudiya, mengungkapkan kekeliruan persepsi yang terjadi di masyarakat luas.

"Selama ini masyarakat mengira semua kain bermotif batik adalah batik. Faktanya, sekitar 80 persen produk yang beredar di pasaran merupakan tekstil bermotif batik atau batik tiruan, bukan batik yang dibuat melalui proses membatik," ujar Komarudin, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Baca juga: Misi Hijau Dama Kara, Membuat Batik Inklusif dan Ramah Lingkungan

Tiruan yang diproduksi secara massal menggunakan teknologi cetak modern tersebut jamak dipasarkan dengan harga murah tanpa edukasi produk yang benar.

Imbasnya, publik kesulitan membedakan produk tulis, cap, atau kombinasi dengan tekstil bermotif batik.

Kondisi ini menekan pendapatan para perajin lokal, menurunkan volume produksi, dan mengancam keberlangsungan basis pengetahuan tradisional perbatikan Nusantara.

Restorasi Identitas Wastra Nusantara

Merespons tekanan pasar tersebut, APPBI menggelar Pergelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 pada 8–12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

Mengusung tema "Rupa Makna Tambal Nusantara", agenda ini menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat posisi batik asli Indonesia.

"Rupa" merepresentasikan kekayaan visual lintas daerah, "makna" menegaskan filosofi motif, dan "tambal" menjadi metafora kebersamaan untuk merajut kembali kekuatan ekonomi perajin.

Baca juga: Batik: Menenun Kesadaran untuk Bumi

Direktur Satue Event, Bambang Setiawan, menyebut pagelaran ini dirancang lebih dari sekadar pameran.

Menurutnya, pengunjung akan diajak menikmati pengalaman yang memadukan edukasi, apresiasi budaya, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pelaku dalam ekosistem batik Indonesia.

Literasi Klasik dan Karya Baru

Sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah wastra, pameran ini menampilkan koleksi batik klasik dari Pakualaman Yogyakarta yang sarat nilai simbolik.

Peristiwa budaya ini juga menandai peluncuran Batik Puspa, sebuah karya baru yang didesain oleh GKBRAA Paku Alam X sebagai jembatan antara tradisi dan keberlanjutan zaman.

Upaya penguatan literasi publik diperdalam melalui bedah buku *Batik Tiga Negeri* karya Komarudin Kudiya dan Afif Syakur.

Buku tersebut mengupas tuntas narasi lintas budaya, teknik pewarnaan, dan perjalanan historis salah satu motif paling ikonis dalam dunia perbatikan.

Baca juga: Ekspor Batik 17,5 Juta Dolar AS, UMKM Perlu Ekosistem Pasar Digital

Rangkaian acara pendukung juga disiapkan untuk memperluas pelibatan publik, meliputi lelang batik, fashion show, talk show bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia, pasar batik rakyat untuk memutus rantai distribusi antara perajin UMKM dan konsumen, serta presentasi karya busana mahasiswa perguruan tinggi swasta asal Jakarta dan Bandung.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau