KOMPAS.com - Air daur ulang berpotensi menjadi salah satu solusi untuk membantu kota-kota beradaptasi terhadap kenaikan suhu akibat perubahan iklim.
Hasil penelitian di Australia menunjukkan, pemanfaatan air daur ulang untuk mengairi ruang hijau perkotaan dapat menjaga pertumbuhan pohon sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap tanah.
Temuan tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan Universitas Macquarie bersama Sydney Water dan Kebun Raya Sydney di Arboretum Penelitian, Kebun Raya Australia Mount Annan, Sydney.
Baca juga: ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
Penelitian dilakukan di Sydney Barat, kawasan yang dikenal memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di kota tersebut. Penrith, salah satu wilayah di kawasan itu, bahkan pernah mencatat suhu tertinggi di Bumi pada Januari 2020.
Peneliti Universitas Macquarie, Laura Fernandez, mengatakan penelitian ini bertujuan mencari cara agar kota-kota lebih tangguh menghadapi musim panas yang diperkirakan semakin ekstrem akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño.
"Sydney bagian barat sangat panas dan kering. Artinya, air daur ulang menghadirkan peluang berharga untuk mengairi taman, kebun, dan ruang hijau perkotaan. Tantangannya adalah masih sangat sedikit penelitian tentang bagaimana air daur ulang memengaruhi tanah atau tanaman itu sendiri," ujar Fernandez, dikutip dari laman resmi Universitas Macquarie, Jumat (3/7/2026).
Selama tiga tahun terakhir, tim peneliti memantau sekitar 600 pohon dari 15 spesies asli Australia. Separuh pohon disiram menggunakan air daur ulang, sedangkan sisanya menggunakan air minum sebagai pembanding.
Untuk memantau perkembangannya, peneliti memasang jaringan sensor pintar yang mengukur suhu udara, kelembapan, kadar air tanah, hingga tingkat salinitas setiap 15 menit.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi lahan yang tidak ditanami pohon untuk melihat pengaruh ruang hijau terhadap iklim mikro di sekitarnya.
Hasil sementara menunjukkan penggunaan air daur ulang tidak menghambat pertumbuhan pohon maupun meningkatkan kadar garam tanah.
"Data menunjukkan bahwa, sejauh ini, air daur ulang tidak berdampak negatif pada salinitas tanah atau pertumbuhan pohon, dan hutan kota yang tumbuh mengurangi suhu lingkungan," kata Fernandez.
Baca juga: Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Menurut dia, temuan tersebut memperkuat potensi pemanfaatan air daur ulang untuk menjaga ruang terbuka hijau di kota-kota yang menghadapi tekanan akibat pertumbuhan penduduk, keterbatasan sumber air, dan peningkatan suhu.
Selain melakukan penelitian, tim juga mengembangkan jalur edukasi bertajuk **Flow Trail** di Kebun Raya Australia Mount Annan.
Melalui papan informasi dan kode QR yang dipasang di sejumlah titik, pengunjung diajak memahami pentingnya peran air dan pepohonan dalam membantu kota beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Penelitian ini akan berlanjut hingga 2028 untuk mengamati respons berbagai spesies pohon terhadap kondisi cuaca yang diperkirakan semakin ekstrem.
Menurut Fernandez, fase berikutnya akan menjadi penting karena Australia diperkirakan memasuki periode El Niño yang identik dengan cuaca lebih panas dan kering.
"Musim panas beberapa tahun terakhir cukup basah dan sejuk, sehingga akan sangat menarik untuk melihat dampak kondisi musim panas yang lebih ekstrem yang diperkirakan terjadi selama periode El Niño mendatang," ujarnya.
Para peneliti berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan strategi adaptasi perubahan iklim, khususnya melalui pemanfaatan air daur ulang untuk menjaga ruang hijau perkotaan sekaligus mengurangi dampak gelombang panas di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya