Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 3 Juli 2026, 12:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Air daur ulang berpotensi menjadi salah satu solusi untuk membantu kota-kota beradaptasi terhadap kenaikan suhu akibat perubahan iklim.

Hasil penelitian di Australia menunjukkan, pemanfaatan air daur ulang untuk mengairi ruang hijau perkotaan dapat menjaga pertumbuhan pohon sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap tanah.

Temuan tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan Universitas Macquarie bersama Sydney Water dan Kebun Raya Sydney di Arboretum Penelitian, Kebun Raya Australia Mount Annan, Sydney.

Baca juga: ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti

Penelitian dilakukan di Sydney Barat, kawasan yang dikenal memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di kota tersebut. Penrith, salah satu wilayah di kawasan itu, bahkan pernah mencatat suhu tertinggi di Bumi pada Januari 2020.

Peneliti Universitas Macquarie, Laura Fernandez, mengatakan penelitian ini bertujuan mencari cara agar kota-kota lebih tangguh menghadapi musim panas yang diperkirakan semakin ekstrem akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño.

"Sydney bagian barat sangat panas dan kering. Artinya, air daur ulang menghadirkan peluang berharga untuk mengairi taman, kebun, dan ruang hijau perkotaan. Tantangannya adalah masih sangat sedikit penelitian tentang bagaimana air daur ulang memengaruhi tanah atau tanaman itu sendiri," ujar Fernandez, dikutip dari laman resmi Universitas Macquarie, Jumat (3/7/2026).

Selama tiga tahun terakhir, tim peneliti memantau sekitar 600 pohon dari 15 spesies asli Australia. Separuh pohon disiram menggunakan air daur ulang, sedangkan sisanya menggunakan air minum sebagai pembanding.

Pemasangan sensor

Untuk memantau perkembangannya, peneliti memasang jaringan sensor pintar yang mengukur suhu udara, kelembapan, kadar air tanah, hingga tingkat salinitas setiap 15 menit.

Data tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi lahan yang tidak ditanami pohon untuk melihat pengaruh ruang hijau terhadap iklim mikro di sekitarnya.

Hasil sementara menunjukkan penggunaan air daur ulang tidak menghambat pertumbuhan pohon maupun meningkatkan kadar garam tanah.

"Data menunjukkan bahwa, sejauh ini, air daur ulang tidak berdampak negatif pada salinitas tanah atau pertumbuhan pohon, dan hutan kota yang tumbuh mengurangi suhu lingkungan," kata Fernandez.

Baca juga: Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal

Menurut dia, temuan tersebut memperkuat potensi pemanfaatan air daur ulang untuk menjaga ruang terbuka hijau di kota-kota yang menghadapi tekanan akibat pertumbuhan penduduk, keterbatasan sumber air, dan peningkatan suhu.

Selain melakukan penelitian, tim juga mengembangkan jalur edukasi bertajuk **Flow Trail** di Kebun Raya Australia Mount Annan.

Melalui papan informasi dan kode QR yang dipasang di sejumlah titik, pengunjung diajak memahami pentingnya peran air dan pepohonan dalam membantu kota beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Penelitian ini akan berlanjut hingga 2028 untuk mengamati respons berbagai spesies pohon terhadap kondisi cuaca yang diperkirakan semakin ekstrem.

Menurut Fernandez, fase berikutnya akan menjadi penting karena Australia diperkirakan memasuki periode El Niño yang identik dengan cuaca lebih panas dan kering.

"Musim panas beberapa tahun terakhir cukup basah dan sejuk, sehingga akan sangat menarik untuk melihat dampak kondisi musim panas yang lebih ekstrem yang diperkirakan terjadi selama periode El Niño mendatang," ujarnya.

Para peneliti berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan strategi adaptasi perubahan iklim, khususnya melalui pemanfaatan air daur ulang untuk menjaga ruang hijau perkotaan sekaligus mengurangi dampak gelombang panas di masa depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau