"Gelombang panas tidak memengaruhi semua lingkungan secara merata. Lingkungan berpenghasilan rendah sering kali lebih banyak jalan beraspal, kurang teduh, dan lebih panas. Itu berarti orang-orang dengan sumber daya paling sedikit untuk beradaptasi sering kali menghadapi beban panas yang paling besar," kata Croeser.
Temuan penelitian ini juga menepis anggapan bahwa kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi pasti memiliki suhu yang lebih panas.
Dengan membandingkan kawasan yang memiliki tingkat kepadatan serupa, tim peneliti menemukan lingkungan yang memiliki tutupan pohon memadai dapat memiliki suhu 4 hingga 10 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan kawasan sejenis yang minim vegetasi.
Di Paris, selisih suhu mencapai 10,5 derajat Celsius, sedangkan di Birmingham mencapai 6,6 derajat Celsius.
"Kami menemukan kawasan perkotaan padat dengan apartemen, toko, kantor, dan pusat aktivitas yang tetap jauh lebih sejuk karena memiliki naungan yang memadai. Perbedaannya terletak pada apakah pohon-pohon tersebut dilindungi, ditanam, dan diberi ruang serta air yang cukup untuk tumbuh," ujar Croeser.
Baca juga: Gelombang Panas Eropa Mulai Geser ke Timur, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
Berdasarkan temuan tersebut, ia menyarankan pemerintah kota memprioritaskan tiga langkah utama, yakni menanam pohon di sekitar permukiman dan tempat kerja, menyediakan ruang serta air yang cukup agar pohon dapat tumbuh optimal, serta melindungi pohon-pohon dewasa yang sudah ada.
Menurutnya, pohon yang saat ini memberikan keteduhan di kota-kota Eropa umumnya ditanam puluhan tahun lalu. Sebaliknya, pohon yang baru ditanam membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun untuk menghasilkan kanopi yang mampu memberikan efek pendinginan.
"Pohon-pohon yang menyejukkan kota-kota saat ini ditanam beberapa dekade lalu. Pohon yang baru ditanam tidak akan memberikan naungan bagi bangunan selama 15 atau 20 tahun. Setiap pohon dewasa yang hilang sekarang tidak tergantikan dalam jangka waktu yang penting untuk menghadapi gelombang panas saat ini," ujar Croeser.
Penelitian ini menggunakan data publik terbuka dan ambang batas tutupan kanopi yang mengacu pada berbagai literatur mengenai panas perkotaan. Meski belum melalui proses peer review, Croeser menyebut hasil penelitian tersebut memberikan gambaran awal mengenai besarnya kekurangan tutupan pohon di kota-kota besar Eropa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya