Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkat Energi Terbarukan, Dunia Berhasil Hemat Rp8.632 Triliun dalam Setahun

Kompas.com, 8 Juli 2026, 19:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com-Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) memastikan bahwa beralih ke sumber energi yang lebih murah dan bersih telah membantu mengurangi ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.

Peralihan ini, melansir Edie, Jumat (3/7/2026) berhasil menghemat biaya hingga 480 Miliar Dolar AS (sekitar Rp 8.632 triliun) pada tahun 2025.

IRENA menekankan bahwa energi terbarukan tetap menjadi sumber listrik baru yang paling murah di sebagian besar pasar dunia. Bahkan, lebih dari 90 persen pembangkit listrik ramah lingkungan skala besar yang dibangun pada tahun 2025 terbukti jauh lebih murah daripada pilihan bahan bakar fosil termurah sekalipun.

Selain itu, jarak harga antara energi terbarukan dan bahan bakar fosil juga terus melebar, membuat energi bersih makin ekonomis.

Baca juga: Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan

Energi terbarukan jadi sumber listrik murah

Meskipun harga listrik dari panel surya (PLTS) tetap sama dengan tahun 2024, yaitu 44 dolar AS (sekitar Rp791 ribu) per megawatt-jam (MWh), harga listrik dari kincir angin terus turun tahun lalu.

Harga kincir angin di darat turun menjadi 33 dolar AS (sekitar Rp593 ribu) per MWh, dan kincir angin di laut turun menjadi 78 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per MWh.

Secara keseluruhan, sejak tahun 2010, harga listrik panel surya telah anjlok sebesar 89 persen, kincir angin darat turun 71 persen, dan kincir angin laut turun 63 persen.

Sebaliknya, antara tahun 2024 dan 2025, biaya untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas alam baru justru makin mahal. Karena adanya kelangkaan mesin turbin, modal yang dibutuhkan untuk membangun pabrik gas baru melonjak dua kali lipat dalam setahun menjadi sekitar 2.400 dolar AS (sekitar Rp43,1 juta) per kilowatt (KW) di Amerika Serikat.

Meskipun harga listrik di negara-negara yang gasnya murah tetap stabil di angka 50 dolar AS hingga 60 dolar AS (sekitar Rp899 ribu hingga Rp1,07 juta) per MWh, di negara lain seperti Italia, Jerman, dan Jepang, biaya total produksi listrik dari gas melonjak hingga 100 dolar AS (sekitar Rp1,79 juta) per MWh.

"Penurunan biaya energi terbarukan memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar. Bagi negara-negara yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, setiap penambahan pembangkit listrik ramah lingkungan akan memperkuat benteng ekonomi mereka dari ketidakpastian harga bahan bakar. Langkah ini melindungi konsumen, pelaku usaha, dan keuangan negara dari beban biaya yang membengkak," kata Francesco La Camera, Direktur Jenderal IRENA.

“Penghematan yang dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan yang sudah ada terus bertambah, memberikan perlindungan otomatis dari guncangan ekonomi di masa depan. Krisis energi ini kembali membuktikan: memperbanyak pembangkit ramah lingkungan adalah investasi strategis untuk membangun ketahanan dan daya saing,” katanya lagi.

Penghematan di Indonesia

Menurut laporan IRENA juga, pembangkit energi terbarukan yang sudah beroperasi di Indonesia, Thailand, dan Filipina berhasil membantu ketiga negara tersebut menghemat pengeluaran kolektif sebesar 5,7 miliar dolar AS (sekitar Rp102,5 triliun) untuk membeli batu bara dan gas pada tahun 2025.

Jika harga bahan bakar saat itu setinggi lonjakan harga yang terjadi pada bulan Maret hingga Mei tahun ini, uang yang dihemat bisa mencapai 6,5 miliar dolar AS (sekitar Rp116,8 triliun).

Baca juga: Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional

Bahkan, jika ketiga negara tersebut sudah melipatgandakan jumlah pembangkit energi bersih mereka, uang yang bisa dihemat akan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 12,9 miliar dolar AS (sekitar Rp231,9 triliun).

Pada tahun 2025, sebanyak 692 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan baru ditambahkan ke jaringan listrik dunia. Angka ini naik 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya, sekaligus menjadi rekor perluasan tahunan terbesar dalam sejarah industri ini.

Penambahan ini membuat total kapasitas pembangkit listrik ramah lingkungan di dunia mencapai rekor tertinggi, yaitu 5.149 GW. Berkat kemajuan pembangunan energi hijau yang luar biasa dan terus-menerus ini, energi terbarukan mengambil porsi yang makin besar dalam pertumbuhan kapasitas energi dunia.

Energi bersih menyumbang 85,6 persen dari seluruh pembangunan pembangkit listrik baru tahun lalu, sementara pangsa pasar bahan bakar fosil terus menyusut.

Menurut data terbaru dari IRENA, keberhasilan menggantikan bahan bakar fosil senilai 480 miliar dolar AS (sekitar Rp8.632 triliun) pada tahun 2025 juga membantu dunia mencegah terlepasnya 8,4 gigaton gas karbon dioksida ke udara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau