Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pohon Lontar, Gula Sabu, dan Kearifan Lokal di Bumi Gersang

Kompas.com, 8 Juli 2026, 12:46 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Kabupaten Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai wilayah dengan kondisi geografis menantang. Topografinya kering, tandus, dan memiliki sumber air yang sangat terbatas.

Selama berabad-abad, posisi pulau yang terisolasi dari daratan besar seperti Kupang memaksa masyarakat setempat adaptif terhadap keterbatasan alam tersebut.

Namun, di tengah keterbatasan alam ekstrem ini, bentang alam Sabu Raijua justru melahirkan narasi adaptasi kearifan ekologis yang kokoh tentang "pohon kehidupan",  pohon lontar (Borassus flabellifer).

Bagi masyarakat Sabu (Do Hawu), lontar bukanlah sekadar vegetasi yang tumbuh liar. Ia adalah detak jantung, ibu yang mengasuh, dan pusat kosmologi yang mengikat seluruh dimensi kehidupan.

Hubungan intim antara manusia, pohon kehidupan, dan produk turunannya, Gula Sabu, menjadi bukti bagaimana sebuah komunitas mampu membangun resiliensi luar biasa di tengah ancaman krisis pangan.

Narasi ekologis kearifan lokal ini menjadi benang merah penelitian disertasi doktoral dosen Fakultas Ilmu Budaya UI, Daniel Hariman Jakob bertajuk "Perubahan dan Pemertahanan Identitas Kultural Sabu Dalam Tradisi Pengelolaan Pohon Lontar dan Gula Sabu" di Kampus UI, Depok, Jawa Barat (4/7/2026).

"Orang Sabu (Do Hawu) memandang pohon lontar yang dalam bahasa Sabu 'Kepue Due’, sebagai pohon kehidupan karena seluruh aspek kehidupan mereka tidak terlepas dari pohon lontar," tutur Daniel.

"Pohon lontar menjadi sumber pangan lewat gula sabu dan sumber papan untuk rumah tinggal. Ketergantungan orang Sabu pada lontar merupakan suatu bentuk harmoni kehidupan antara masyarakat Sabu Raijua dan lingkungan alamnya," jelasnya.

Baca juga: Wonosobo Night Fashion Carnival 2026, Panggung Kreativitas yang Angkat Budaya dan Kearifan Lokal

Tidak berhenti sampai di situ, Daniel menambahkan, lontar juga menjadi jembatan penghubung dengan Sang Ilahi yang disebut Deo Ama.

"Oleh karena itu, orang Sabu memperlakukan pohon lontar layaknya Ibu sekaligus identitas keberadaan mereka, yakni Rai Hawu, Rai Due nga Donahu (Pulau Sabu, Pulau Lontar, dan Gula)," ujar Daniel.

Kosmologi Pohon Lontar, Ketika Pohon Memiliki Jiwa

Pengolahan nira menjadi gula sabu menciptakan ruang komunal yang membagi peran jender secara adil dan harmonis.DOK. PRIBADI/DANIEL HARIMAN J. Pengolahan nira menjadi gula sabu menciptakan ruang komunal yang membagi peran jender secara adil dan harmonis.

Bagi orang Sabu, sebatang pohon lontar diperlakukan layaknya seorang ibu. Hubungan ini melampaui logika ekonomi pragmatis.

Ada sebuah ikatan batin transendental yang meyakini pohon lontar memiliki jiwa, sehingga proses interaksi dengannya menuntut penghormatan yang penuh takzim.

Saat musim panas tiba, suasana mistis sekaligus penuh syukur menyelimuti pulau. Sebelum panen dimulai, Mone Ama (Dewan Adat) akan menggelar ritual khusus untuk menyambut datangnya nira.

Ritual pemanggilan nira ini menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dengan sang Ilahi, Deo Ama, serta para leluhur. Keunikan interaksi ini terekam jelas di atas mahkota-mahkota lontar yang menjulang tinggi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau