Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah

Kompas.com, 14 Juli 2026, 09:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) dinilai tidak akan mampu melindungi kawasan pesisir dari ancaman tenggelam jika tidak diiringi upaya menekan penurunan muka tanah (land subsidence).

Karena itu, pemerintah menyiapkan langkah pengendalian pengambilan air tanah sekaligus mempercepat penyediaan jaringan air bersih perpipaan bagi masyarakat dan industri.

Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infrawil), Nazib Faisal, mengatakan penurunan muka tanah tidak dapat dihentikan selama eksploitasi air tanah masih berlangsung secara masif.

Baca juga: AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah

Menurut dia, pemerintah saat ini tengah menata kembali tata kelola pemanfaatan air, baik air tanah maupun air permukaan, melalui koordinasi lintas kementerian.

"Nah, dua-duanya ini sedang kami tertibkan, tetapi bukan mau menghukum. Kami mengajak, 'eh kamu kurang tepat ya, yuk kita perbaiki bersama-sama'. Jadi ada dua, izin air tanah dan izin air permukaan," ujar Nazib kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan, izin pengambilan air tanah berada di bawah kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sedangkan pemanfaatan air permukaan seperti sungai dan waduk menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Selain penertiban perizinan, pemerintah juga mempercepat pembangunan jaringan distribusi air bersih agar masyarakat tidak lagi bergantung pada sumur bor.

Salah satu proyek yang diprioritaskan adalah Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian di Banten yang akan memasok air bersih ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Menurut Nazib, semakin luas jaringan perpipaan yang menjangkau kawasan permukiman maupun industri, kebutuhan masyarakat terhadap air tanah akan berkurang.

"Melalui pipa, PDAM yang akan melayani. Yang pasti kebutuhan air itu tidak bisa dipilih mana yang lebih penting. Baik permukiman maupun kawasan industri sama-sama menjadi prioritas," katanya.

Jakarta dan Semarang diprioritaskan

Dalam pengembangan proyek giant sea wall, pemerintah menetapkan Jakarta dan Semarang sebagai wilayah prioritas.

Di Jawa Tengah, pembangunan tanggul laut akan diintegrasikan dengan proyek jalan tol Semarang-Demak yang dibangun di atas tanggul laut.

Selain berfungsi menahan rob dan kenaikan muka air laut, proyek tersebut juga diharapkan dapat mendorong penataan kawasan permukiman pesisir.

"Kita akan perbaiki kawasan perumahan kumuh di sisi pantai sehingga masyarakat pesisir juga menjadi bagian dari pengembangan ekonomi," ujar Nazib.

Demak dinilai paling mengkhawatirkan

Sebelumnya, dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, menilai Kabupaten Demak kini menjadi wilayah yang paling mengkhawatirkan dari sisi penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa.

Menurut Heri, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim memang terjadi secara global. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih parah di wilayah yang juga mengalami penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah.

Baca juga: Pantura Terancam Tenggelam, Nasib 27 Persen PDB Nasional Dipertaruhkan

Fenomena tersebut terjadi di sejumlah wilayah pesisir Jawa, mulai dari Serang, Jakarta, Semarang, Pekalongan, Demak hingga Probolinggo.

Ia menjelaskan, Jakarta yang sebelumnya mengalami penurunan muka tanah paling parah mulai menunjukkan perbaikan setelah pengambilan air tanah berhasil dikendalikan. Sebaliknya, titik-titik penurunan terbesar kini bergeser ke wilayah Jawa Tengah.

"Semarang dan Pekalongan sudah ada tanggul. Demak baru sedikit. Kalau saya lihat di lapangan, Demak ini yang paling mengkhawatirkan. Penurunan tanahnya rata-rata sekitar 10 sentimeter per tahun," ujar Heri, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Heri, pembangunan tanggul laut tetap penting dilakukan. Namun, upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan pengendalian penurunan muka tanah agar perlindungan kawasan pesisir dapat bertahan dalam jangka panjang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
LSM/Figur
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Pemerintah
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau