KOMPAS.com - Upaya konservasi spesies di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan data dan penelitian. Pengetahuan ilmiah perlu dihubungkan melalui jejaring, kolaborasi lintas disiplin dan taksa, serta diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi konservasi yang nyata.
Co-Chair IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) Sunarto mengatakan, kekuatan konservasi spesies Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian, tetapi juga kemampuan berbagai pihak dalam menghubungkan dan memanfaatkan pengetahuan tersebut.
"Kekuatan konservasi spesies Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak penelitian dilakukan, tetapi juga oleh seberapa kuat pengetahuan tersebut dihubungkan, dikolaborasikan, dan diterjemahkan menjadi tindakan bersama untuk konservasi biodiversitas Indonesia," ujar Sunarto dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Karhutla Way Kambas Meluas, Pastikan Gajah Tak Terdampak
Menurut Sunarto, tantangan konservasi spesies di Indonesia semakin kompleks sehingga diperlukan modal sosial berupa jejaring dan kolaborasi untuk memperkuat kontribusi ilmiah dalam upaya pelestarian biodiversitas.
Keberagaman keahlian anggota IdSSG dinilai dapat menjadi modal penting untuk memahami persoalan konservasi spesies secara lebih komprehensif.
Jejaring tersebut dapat berperan dalam riset, penilaian status spesies, penguatan data ilmiah, serta membangun kolaborasi lintas lembaga dan bidang keahlian.
Pentingnya kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Konferensi dan Pertemuan Anggota IUCN IdSSG 2026 yang digelar di Universitas Pakuan, Bogor, pada 20–22 Agustus 2026.
Kegiatan yang mengusung tema "Conservation Connections: Assess, Plan, Act, Network & Communicate" tersebut mempertemukan para ahli dan praktisi konservasi dari berbagai bidang.
Pertemuan ini juga menjadi pertemuan tatap muka perdana anggota IdSSG sejak organisasi tersebut dibentuk pada 2023.
Kegiatan tersebut diselenggarakan IdSSG bersama Universitas Pakuan dan Belantara Foundation, dengan dukungan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan.
Sejumlah perwakilan pemerintah juga terlibat dalam forum tersebut, termasuk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Sunarto berharap forum tersebut dapat memperkuat peran IdSSG sebagai wadah bagi para ahli dan praktisi untuk membangun kolaborasi, memperkuat basis pengetahuan, dan mendorong munculnya inisiatif konservasi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
"Melalui pertemuan ini, kami berharap IdSSG semakin efektif dalam memfasilitasi para ahli dan praktisi untuk membangun kolaborasi, memperkuat basis pengetahuan, dan mendorong lahirnya berbagai inisiatif konservasi spesies yang relevan dengan kebutuhan Indonesia," tutur Sunarto.
Baca juga: Kebakaran Melahap 673 Hektar Lahan TN Way Kambas, Gajah Liar Terpantau Masih Aman
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir mengatakan, konservasi spesies membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, peneliti, akademisi, organisasi konservasi, dan masyarakat.
Menurut dia, jejaring yang terbentuk melalui forum tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat basis data dan pengetahuan ilmiah, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi konservasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya