JAKARTA, KOMPAS.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi baru di sektor pertanian dengan mengembangkan traktor perahu listrik yang dirancang khusus untuk mengolah lahan gambut.
Berbeda dengan traktor konvensional, kendaraan ini memiliki desain menyerupai perahu, sehingga mampu beroperasi di lahan basah tanpa mudah tenggelam. Bahkan, traktor perahu listrik menawarkan biaya operasional lebih hemat dan emisi gas rumah kaca (GRK) yang semakin rendah.
Inovasi yang dikembangkan melalui Science Techno Park (STP) Otomotif ITS ini menjadi salah satu solusi mekanisasi pertanian di kawasan lahan gambut yang produktivitasnya selama ini terkendala.
Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, traktor perahu listrik ini dirancang untuk menjawab keterbatasan penggunaan alat pertanian konvensional di lahan gambut yang memiliki daya dukung tanah rendah.
Ia telah menguji coba sendiri traktor perahu listrik di area lahan gambut di lingkungan Kampus ITS.
“Berbeda dengan traktor pada umumnya, kendaraan taktis pertanian ini didesain menyerupai bentuk kapal agar mampu bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam,” ujar Bambang, dilansir dari laman resmi kampus, Selasa (14/7/2027).
Sementara itu, Manajer STP Otomotif ITS, Bambang Sudarmanta mengklaim, penggunaan motor listrik pada traktor mampu memangkas biaya operasional secara signifikan ketimbang traktor konvensional berbahan bakar fosil.
Selain unggul dalam efisiensi biaya, traktor perahu listrik juga mendukung program kelestarian lingkungan melalui emisi GRK yang rendah.
Pengembangan sistem elektrifikasi traktor perahu tersebut menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi guna meningkatkan produktivitas lahan. Selain itu, sistem elektrifikasi traktor perahu juga akan meminimalisir degradasi struktur tanah, serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi.
"Dalam hal operasional dan keunggulan, traktor perahu listrik jauh lebih hemat biaya dibandingkan traktor konvensional berbasis bensin atau solar. Sebab sumber energi traktor ini memanfaatkan daya listrik yang murah dan mudah diakses di rumah warga. Keunggulan lainnya ialah respon torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” tutur pemimpin penelitian inovasi ini.
Traktor perahu listrik dirancang khusus dengan fokus pada optimasi torsi tinggi, bukan kecepatan. Imbasnya, traktor perahu listrik dapat memenuhi kebutuhan operasional membajak sawah.
Baca juga: BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
Secara teknis, traktor ini digerakkan oleh motor listrik 10 kilowatt (kW) dan dilengkapi dengan komponen krusial. Misalnya, sistem display elektronik untuk memudahkan petani memantau kondisi baterai, pengontrol suhu, serta tegangan baterai secara real-time.
Dari sisi spesifikasi daya, traktor bekerja pada tegangan optimal sekitar 72 volt dan arus (current) 32 Ampere, yang menghasilkan daya sekitar 10 kW dengan kapasitas baterai sebesar 140 Ampere per hour (Ah).
Dalam kondisi baterai penuh, alat ini mampu beroperasi selama tiga hingga empat jam. Berdasarkan hasil pengujian, satu kali pengisian daya diperkirakan cukup untuk mengolah lahan hingga satu hektare.
Karakteristik operasional traktor ini disimulasikan pada lahan 1 hektar yang mempunyai dimensi lebar 100 meter dan panjang 100 meter. Dengan menggunakan bajak traktor berlebar 1,8 meter, alat ini membutuhkan sebanyak 56 lintasan untuk menyelesaikan area tersebut. Secara akumulatif, membentuk panjang lintasan total sejauh 5,6 kilometer.
Kendati potensi efisiensi yang tinggi dan mobilitas berjalan dengan baik berkat penggunaan ban karet untuk akses jalan raya, proyek tetap perlu melakukan pengembangan dan validasi.
Pada uji coba langsung di sawah sebelumnya, tim menemukan kendala teknis berupa panas berlebih. Dampaknya, diputuskan untuk menambahkan sistem pendingin sebagai komponen krusial yang baru.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya