Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan

Kompas.com, 15 Juli 2026, 07:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi baru di sektor pertanian dengan mengembangkan traktor perahu listrik yang dirancang khusus untuk mengolah lahan gambut.

Berbeda dengan traktor konvensional, kendaraan ini memiliki desain menyerupai perahu, sehingga mampu beroperasi di lahan basah tanpa mudah tenggelam. Bahkan, traktor perahu listrik menawarkan biaya operasional lebih hemat dan emisi gas rumah kaca (GRK) yang semakin rendah.

Inovasi yang dikembangkan melalui Science Techno Park (STP) Otomotif ITS ini menjadi salah satu solusi mekanisasi pertanian di kawasan lahan gambut yang produktivitasnya selama ini terkendala.

Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam

Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, traktor perahu listrik ini dirancang untuk menjawab keterbatasan penggunaan alat pertanian konvensional di lahan gambut yang memiliki daya dukung tanah rendah.

Ia telah menguji coba sendiri traktor perahu listrik di area lahan gambut di lingkungan Kampus ITS.

“Berbeda dengan traktor pada umumnya, kendaraan taktis pertanian ini didesain menyerupai bentuk kapal agar mampu bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam,” ujar Bambang, dilansir dari laman resmi kampus, Selasa (14/7/2027).

Sementara itu, Manajer STP Otomotif ITS, Bambang Sudarmanta mengklaim, penggunaan motor listrik pada traktor mampu memangkas biaya operasional secara signifikan ketimbang traktor konvensional berbahan bakar fosil.

Selain unggul dalam efisiensi biaya, traktor perahu listrik juga mendukung program kelestarian lingkungan melalui emisi GRK yang rendah.

Kurangi degradasi tanah

Pengembangan sistem elektrifikasi traktor perahu tersebut menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi guna meningkatkan produktivitas lahan. Selain itu, sistem elektrifikasi traktor perahu juga akan meminimalisir degradasi struktur tanah, serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi.

"Dalam hal operasional dan keunggulan, traktor perahu listrik jauh lebih hemat biaya dibandingkan traktor konvensional berbasis bensin atau solar. Sebab sumber energi traktor ini memanfaatkan daya listrik yang murah dan mudah diakses di rumah warga. Keunggulan lainnya ialah respon torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” tutur pemimpin penelitian inovasi ini.

Traktor perahu listrik dirancang khusus dengan fokus pada optimasi torsi tinggi, bukan kecepatan. Imbasnya, traktor perahu listrik dapat memenuhi kebutuhan operasional membajak sawah.

Baca juga: BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional

Secara teknis, traktor ini digerakkan oleh motor listrik 10 kilowatt (kW) dan dilengkapi dengan komponen krusial. Misalnya, sistem display elektronik untuk memudahkan petani memantau kondisi baterai, pengontrol suhu, serta tegangan baterai secara real-time.

Dari sisi spesifikasi daya, traktor bekerja pada tegangan optimal sekitar 72 volt dan arus (current) 32 Ampere, yang menghasilkan daya sekitar 10 kW dengan kapasitas baterai sebesar 140 Ampere per hour (Ah).

Dalam kondisi baterai penuh, alat ini mampu beroperasi selama tiga hingga empat jam. Berdasarkan hasil pengujian, satu kali pengisian daya diperkirakan cukup untuk mengolah lahan hingga satu hektare.

Karakteristik operasional traktor ini disimulasikan pada lahan 1 hektar yang mempunyai dimensi lebar 100 meter dan panjang 100 meter. Dengan menggunakan bajak traktor berlebar 1,8 meter, alat ini membutuhkan sebanyak 56 lintasan untuk menyelesaikan area tersebut. Secara akumulatif, membentuk panjang lintasan total sejauh 5,6 kilometer.

Kendati potensi efisiensi yang tinggi dan mobilitas berjalan dengan baik berkat penggunaan ban karet untuk akses jalan raya, proyek tetap perlu melakukan pengembangan dan validasi.

Pada uji coba langsung di sawah sebelumnya, tim menemukan kendala teknis berupa panas berlebih. Dampaknya, diputuskan untuk menambahkan sistem pendingin sebagai komponen krusial yang baru.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau