JAKARTA, KOMPAS.com – Tim peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan pepton berbasis biomassa lokal dari larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) atau maggot.
Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pepton impor yang selama ini dipakai untuk memenuhi industri bioteknologi, sekaligus memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tambah.
Pemimpin penelitian, Muhammad Yusuf Abduh dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk SITH ITB, mengatakan hingga kini seluruh kebutuhan pepton di Indonesia masih dipenuhi melalui produk impor.
Baca juga: Warga Jakbar Manfaatkan Maggot Jadi Pakan Ternak, Tingkatkan Kualitas Daging dan Telur
"Saat ini semua pepton masih diimpor dari luar negeri dan belum ada yang diproduksi di dalam negeri. Karena itu, kami berinovasi menghasilkan pepton dari biomassa lokal, dalam hal ini larva black soldier fly," ujar Yusuf, dikutip dari laman resmi ITB, Jumat (18/7/2026).
Pepton merupakan sumber nutrisi penting yang digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba dalam kegiatan laboratorium maupun proses produksi di industri bioteknologi.
Namun, harga pepton impor masih tergolong tinggi, yakni sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per kilogram. Kondisi tersebut mendorong tim peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih mudah diperoleh di Indonesia.
Dalam penelitian bertajuk "Produksi Hidrolisat Protein dari Lalat Tentara Hitam sebagai Alternatif Pepton Komersial" itu, Yusuf bersama tim memanfaatkan larva BSF sebagai sumber protein utama.
Selain melibatkan mahasiswa, penelitian tersebut juga menggandeng alumni ITB dalam proses pengembangannya.
Menurut Yusuf, inovasi ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi laboratorium mikrobiologi dan industri bioteknologi, tetapi juga bagi produsen pupuk hayati serta masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik sebagai pakan maggot.
Berdasarkan estimasi penelitian, kebutuhan pepton di Indonesia mencapai sekitar 13,9 juta kilogram per tahun. Besarnya permintaan tersebut menunjukkan peluang yang besar bagi pengembangan industri pepton dalam negeri.
Larva BSF dinilai memiliki keunggulan karena mampu mengonsumsi dan mengurai berbagai jenis limbah organik. Setelah dibudidayakan, biomassa larva kemudian diolah menjadi hidrolisat protein yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pepton.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah dari limbah organik sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Baca juga: Mahasiswa Kanada Jauh-jauh ke Bogor, Ternyata Ingin Belajar Olah Sampah dengan Maggot
Selain mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, pepton berbasis maggot juga berpotensi menekan biaya produksi berbagai produk berbasis mikroba, termasuk pupuk organik cair (liquid organic biofertilizer), karena menyediakan sumber nutrisi yang lebih terjangkau bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Yusuf berharap hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan hingga tahap komersialisasi melalui kolaborasi dengan industri maupun investor.
Menurut dia, belum adanya pepton berbasis serangga yang diproduksi di Indonesia menjadi peluang untuk menghadirkan inovasi baru di sektor bioteknologi nasional.
"Harapan kami penelitian ini dapat dikomersialisasikan dan menarik perhatian investor. Kami ingin menjadi produsen pertama yang menghasilkan pepton dari serangga, khususnya lalat tentara hitam, sehingga inovasi ini dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah sekaligus mendukung pertumbuhan industri bioteknologi di Indonesia," ujar Yusuf.
Ia menambahkan, pengembangan pepton dari larva BSF merupakan upaya menjawab beberapa tantangan sekaligus, mulai dari ketergantungan terhadap bahan baku impor, tingginya biaya produksi industri bioteknologi, hingga persoalan pengelolaan limbah organik.
Jika berhasil dikembangkan secara komersial, inovasi tersebut berpotensi memperkuat kemandirian industri bioteknologi nasional, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mendorong pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya