Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ITB Kembangkan Pepton dari Maggot untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Kompas.com, 20 Juli 2026, 10:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Tim peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan pepton berbasis biomassa lokal dari larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) atau maggot.

Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pepton impor yang selama ini dipakai untuk memenuhi industri bioteknologi, sekaligus memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tambah.

Pemimpin penelitian, Muhammad Yusuf Abduh dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk SITH ITB, mengatakan hingga kini seluruh kebutuhan pepton di Indonesia masih dipenuhi melalui produk impor.

Baca juga: Warga Jakbar Manfaatkan Maggot Jadi Pakan Ternak, Tingkatkan Kualitas Daging dan Telur

"Saat ini semua pepton masih diimpor dari luar negeri dan belum ada yang diproduksi di dalam negeri. Karena itu, kami berinovasi menghasilkan pepton dari biomassa lokal, dalam hal ini larva black soldier fly," ujar Yusuf, dikutip dari laman resmi ITB, Jumat (18/7/2026).

Pepton merupakan sumber nutrisi penting yang digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba dalam kegiatan laboratorium maupun proses produksi di industri bioteknologi.

Namun, harga pepton impor masih tergolong tinggi, yakni sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per kilogram. Kondisi tersebut mendorong tim peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih mudah diperoleh di Indonesia.

Dalam penelitian bertajuk "Produksi Hidrolisat Protein dari Lalat Tentara Hitam sebagai Alternatif Pepton Komersial" itu, Yusuf bersama tim memanfaatkan larva BSF sebagai sumber protein utama.

Selain melibatkan mahasiswa, penelitian tersebut juga menggandeng alumni ITB dalam proses pengembangannya.

Pemanfaatan limbah organik

Menurut Yusuf, inovasi ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi laboratorium mikrobiologi dan industri bioteknologi, tetapi juga bagi produsen pupuk hayati serta masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik sebagai pakan maggot.

Berdasarkan estimasi penelitian, kebutuhan pepton di Indonesia mencapai sekitar 13,9 juta kilogram per tahun. Besarnya permintaan tersebut menunjukkan peluang yang besar bagi pengembangan industri pepton dalam negeri.

Larva BSF dinilai memiliki keunggulan karena mampu mengonsumsi dan mengurai berbagai jenis limbah organik. Setelah dibudidayakan, biomassa larva kemudian diolah menjadi hidrolisat protein yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pepton.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah dari limbah organik sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Baca juga: Mahasiswa Kanada Jauh-jauh ke Bogor, Ternyata Ingin Belajar Olah Sampah dengan Maggot

Selain mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, pepton berbasis maggot juga berpotensi menekan biaya produksi berbagai produk berbasis mikroba, termasuk pupuk organik cair (liquid organic biofertilizer), karena menyediakan sumber nutrisi yang lebih terjangkau bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Yusuf berharap hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan hingga tahap komersialisasi melalui kolaborasi dengan industri maupun investor.

Menurut dia, belum adanya pepton berbasis serangga yang diproduksi di Indonesia menjadi peluang untuk menghadirkan inovasi baru di sektor bioteknologi nasional.

"Harapan kami penelitian ini dapat dikomersialisasikan dan menarik perhatian investor. Kami ingin menjadi produsen pertama yang menghasilkan pepton dari serangga, khususnya lalat tentara hitam, sehingga inovasi ini dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah sekaligus mendukung pertumbuhan industri bioteknologi di Indonesia," ujar Yusuf.

Ia menambahkan, pengembangan pepton dari larva BSF merupakan upaya menjawab beberapa tantangan sekaligus, mulai dari ketergantungan terhadap bahan baku impor, tingginya biaya produksi industri bioteknologi, hingga persoalan pengelolaan limbah organik.

Jika berhasil dikembangkan secara komersial, inovasi tersebut berpotensi memperkuat kemandirian industri bioteknologi nasional, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mendorong pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau